Hari ini kusaksikan wajahkku dikaca kamarku
Raut wajah
bukanlah menggambarkan keadaanku yang sedih dan gembira
Rambut layu
tidaklah menunjukkan keaslian hatiku
Bibirku
terkadang memerah dan memudar keputihan
Mataku
tertutup pedih karena alisnya tidak sanggup menampung genangan air mata
Gerak lidahku
mengeluarkan aroma manis tapi juga menghasilkan rasa tak sedap dengan racunnya
Bulu hitam
lebat yang tumbuh disekitar bibirku tidak selalu menandakan kedewasaan
Pipiku merah
karena energi yang banyak kukuras namun bisa jadi dari rasa malu itu sendiri
Telingaku
sudah terbiasa terhanyut dalam lantunan musik jiwa
Dahiku lebar
dan datar yang menanyakan apakah pikiranku tenang seperti air yang tak
tersentuh angin, jikalau dahiku berkerut apakah pikiranku dikejutkan oleh
keheranan
Semua hal itu
hanya merupakan rabaan saja dan bertanya apakah semuanya itu dapat mengatakan
“siapa diriku yang sebenarnya” namun itu juga belum cukup, aku harus terbiasa
dengan keadaan yang kumiliki dalam diriku. Aku harus menerima semua kekurangan,
keluguan, dan kepolosan yang masih banyak tertanam didalam jiwaku, padahal
sifat itulah yang membawaku menuju keminderan dan keputusasaan, akan tetapi
keluguan dan kepolosankulah yang telah membuatku masih menikmati segala sesuatu
hal yang digemari anak-anak yang murni semurni mutiara yang belum ternoda oleh
nafsu dunia, dan hamparan alam yang menghijau dengan sawahnya beserta beningnya
air dan jernihnya udara dengan bentangan langit membiru yang terangnya
menyinari sukma dan sanubariku.
Tulisan ku pada tahun 2004
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar