Selasa, 14 Maret 2023

BERTAMPANG DIRI

Hari ini kusaksikan wajahkku dikaca kamarku

Raut wajah bukanlah menggambarkan keadaanku yang sedih dan gembira

Rambut layu tidaklah menunjukkan keaslian hatiku

Bibirku terkadang memerah dan memudar keputihan

Mataku tertutup pedih karena alisnya tidak sanggup menampung genangan air mata

Gerak lidahku mengeluarkan aroma manis tapi juga menghasilkan rasa tak sedap dengan racunnya

Bulu hitam lebat yang tumbuh disekitar bibirku tidak selalu menandakan kedewasaan

Pipiku merah karena energi yang banyak kukuras namun bisa jadi dari rasa malu itu sendiri

Telingaku sudah terbiasa terhanyut dalam lantunan musik jiwa

Dahiku lebar dan datar yang menanyakan apakah pikiranku tenang seperti air yang tak tersentuh angin, jikalau dahiku berkerut apakah pikiranku dikejutkan oleh keheranan

 

Semua hal itu hanya merupakan rabaan saja dan bertanya apakah semuanya itu dapat mengatakan “siapa diriku yang sebenarnya” namun itu juga belum cukup, aku harus terbiasa dengan keadaan yang kumiliki dalam diriku. Aku harus menerima semua kekurangan, keluguan, dan kepolosan yang masih banyak tertanam didalam jiwaku, padahal sifat itulah yang membawaku menuju keminderan dan keputusasaan, akan tetapi keluguan dan kepolosankulah yang telah membuatku masih menikmati segala sesuatu hal yang digemari anak-anak yang murni semurni mutiara yang belum ternoda oleh nafsu dunia, dan hamparan alam yang menghijau dengan sawahnya beserta beningnya air dan jernihnya udara dengan bentangan langit membiru yang terangnya menyinari sukma dan sanubariku.


Tulisan ku pada tahun 2004

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...