Rabu, 22 Maret 2023

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-DUA BELAS

 

Kejahatan akan menang bilamana orang baik tidak berbuat apa pun, namun orang bisakah terbilang baik apabila ia tidak ada dorongan atas kesadaran yang ada sebagai dasar inspirasi perbuatan amal itu yang terlaksana dalam praktek perbuatan nyata sebagaimana dikehendakinya, bukan sosok cahaya titik terang itu belum menyala benderang kepada penaklukkan yang padam, ia barulah separuh baya kentara erat unsur laju kebaikannya, walau demikian disatu seberang sisi ruang kejadian gelap ia tidak mampu berbuat apa-apa menatap kejahatan menyala-nyala kesurupan karena jauh tempat lahan darinya, dan bukan bidang garapannya, atau sama sekali tiada sebagai hak milik berkuasa si empunya pelaksana bagi peluang berkah diserahkan mandat olehnya.

 

 

Pemimpin sebagai yang sedang menjalankan roda kebijakan kekuasaan dalam mengiyakan berbagai kedatangan aspirasi masukan terhadap perihal sifat apa yang nanti akan dihasilkan dalam mengumandangkan putusannya, kadangpula perlu diabaikan oleh sebab berbagai aspirasi yang terhampiri bermakna usulan yang berbeda jenis sifatnya, dan bilamana salah satu ataupun kombinasi itu ditemukan tetap mengandung ambivalensi unsur makna didalam antar bermacam rupa aspirasinya, yang juga bagaimanapun jadinya keputusan tersebut terdapat sejumlah mosi oknum yang tidak menerima kebijakan bulat. Maka sepatut mungkin si pihak yang berhak berkuasa tertinggi harus mengambil somasi keotoriteran agar otoritas ditangannya tidak goyah karena kalut kebingungan, hingga berakhir bentuk alhasil putusan imperatif itu tercapai melalui kehendak dari si penguasa tunggal sendiri atau beberapa sejawat kental para jabatan tinggi yang dipercayainya, yang mau tidak mau massa bawahan diperwajibkan menjunjung tinggi putusan dari penguasa, kalau tetap bersikeras monalak secara radikal maka konsekuensinya harus dijatuhi hukuman paksa oleh persetujuan kehendak sang penguasa.

 

 

Lagi-lagi dikejutkan oleh saat waktu kesadaranku yang kompleks kerumitan wujud atas transparan kebenarannya, namun daku tidak menyukai rasa sadar yang mengoyak pening gelagat eksistensi akal budi perasaan beraduk pikiran dalam inti dasar tertanam diriku bergerak, justru kuman epidami sang makhluk halus biadab rasukan telah menyentuh runcing tikamannya yang menekan kuat bisikan roh gelap paksanya untuk bertolak dari arah petunjuk yang disodorkan oleh alam ramah kesadaran. Tapi berdiri pada pendirian, bahwasanya janganlah kegelapan bagai pelaku si penjalar kontaminasi insan rohani yang terus terkabulkan keinginan akan inspirasi kelabu biasnya.

 

 

Tertarik terhampiri yang membuat diri sang subyek yang mengalami akan tergugah keingintahuan yang diseliputi oleh bayangan penasaran, dan mengimplikasikan potensi diri yang terutama dikedepankan berupa visi lama mencari, mengamati, menyelidiki, dan mendalami visi baru, bilamana telah ditemui letak variasi yang berwarna-warni akan wujudnya yakni salah-satu dari kesekian kemajemukan warna atau lebih daripadanya dan diantaranya yang terdiri dari waktu, ilmu, pandangan, kesadaran, dan tempat itu kesemuanya berada.

 

 

Tahap perjalanan untuk melangkah menuju singgasana kursi bertanda tuliskan dilapis sandar kayunya yang berbunyi kebaikan harus melalui tiga fase awal berlaju ke akhir yaitu berniat baik, bertindak atau berbuat baik, dan berakhir wujud menjadikan diri sebagai identitas pribadi yang baik. Saya nyatakan hal idealis ini oleh karena dimana perbuatan baik (di ilustrasikan bak sebuah buah) harus disokong terlebih dahulu oleh niat (pohon) pertama yang terkandung dalam benak pikiran dan hati, barulah ia bisa mengimplementasikan ke praktek realita lapangan kehidupan, hingga praktek tersebut berlanjut tabah dengan kebulatan hati yang kuat secara rutinitas maka alhasil membuat diri berupa kebaikan yang kian terasah matang akan bentuk jiwa miliki empunya si kepribadian sang diri.

 

 

Cucian ideologi materialisme yang mengindoktrinisasikan otak yang lebih bersandang mengedepankan segalanya yaitu makan enak mengupayakan kepuasan si perut kenyang. Manifestasi pandangan ringkas ini memang tak terlepas dari tendensi kebutuhan pokok dalam hidup kita, namun dilain sisi bilamana kita mengalami suatu pergolakan fenomena yang menggugah kesedihan bathin oleh sebab faktor diluar pemenuhan kepuasan fisik melainkan hubungan kasih sayang antar sesama jiwa mistis individu terindukan berbentuk keeratan tali temali yang telah tiada atau enyah beranjak pergi, tentu selera hidangan penyedap daging seenak apapun disaat diperhadapkan oleh sosok diri berjiwa kasih besar yang larut dalam ritual duka, maka tidak akan ada dorongan kemauan hati untuk berniat memasukkan hidangan ke dalam mulutnya.

 

 

Mimpi itu ada yang diakui khalayak manusia seumumnya, selayak eksistensi benda ada yang mampu ditangkap panca inderawi kita, dan kedatangannya didalam alam bayangan diri kita ialah diluar alam sadar, nun apa yang digambarkan pada mimpi yang ada tersebut sebenarnya fiksi semata walaupun sedikit terdapat unsur realisasi bentuk bayangan baik terjadinya maupun pesan yang menyangkut perihal keadaan fenomena kebenarannya jika dikaitkan dengan kelangsungan hidup dunia nyata kita.

 

 

Semasa segala hakikat dan perihal segala sesuatu penilaian maupun kenyamanan mendiami diatas permukaan dunia yang daku miliki dan terserap dalam hak mendasar pemberian Tuhan semenjak awal kelahiran telah kabur serentak dengan irama keburaman secara kolektif, dinyata selimuti oleh gelap gulita berujung pada butanya visi idealis asasi pemikiran sekalipun, maka niscaya kodrat manusia bayi terdalam hingga menembus kelopak uzur tua ialah hampa, nihil, dan tiada secercah cahaya terang menaungi keseluruhan alam eksistensi kebahagiaan hakiki dalam kehidupan diriku.

 

 

Keberangkatan jauhmu mengarungi ribuan berulangkali rumah singgahan tempat manusia berada menaruh nyaman tubuhnya, dan menuju tanah pijakan dambaan dengan gendongan akrab kendaraan yang kau tumpangi, seketika bagian hatimu berdetak mendekati sambutan sang sahabat yang sudah merupakan belahan dirimu dan menuntun dikau menuju alam bangunan bermalam dan penghabisan rasa empati yang tersalurkan hubungan ceria berbuana sesama, demi pemuas benak ungkapan kebahagiaan jiwa kita. (Pesan singkat ku untuk sahabat pena ku Arif Zaini).

 

 

Lihat itu kata pemikat indah terucapkan, yang daku simak terlebih dahulu arti kandungan belahan huniannya. Pernyataan kata elok kudengar akan sapaannya, apakah laksana dua benda sejenis warna nun keduanya belum diketahui akan rasa kandungan unsur zat tubuhnya, tentu benda plastik berwarna biru jika dikunyah dengan lidah beramu penilaian hati alhasil tiada ada rasanya karena memang sebatas dekorasi belaka bagi benda tersebut, namun bila benda satunya berupa permen manis warna kebiruan maka daku akan merasakan cipta rasa yang melekat pada kandungannya. Begitu juga halnya bagi makna kata yang disentuh rasa kandungan terdalam atas kebenarannya.

 

 

Sebuah pertanyaan tiada mungkin terjawab dengan benar, apabila soal dari pertanyaan itu terlebih dahulu belum dipahami secara benar akan maksudnya.

 

 

Dalam memainkan segala sesuatu seperti salah satu halnya berupa sepak bola, dibutuhkan konsentrasi penuh atau mendalam terhadap obyek bola yang sedang digeluti, dimana pendalaman konsentrasi dibutuhkan dua hal yakni ketenangan jiwa yang membuat gerak refleksi badan dapat dengan mudah terealisasikan yang sesuai dengan sang keinginan hati, dan proses lanjutan yang kedua yaitu timbulnya cita rasa kepekaan akan kemampuan penilaian untuk mengatasi demi kelancaran tujuan dalam menimang, menendang, menggiring, dan mengontrol fokus bola secara benar yang pada sebelumnya telah sadar kedapatan akan kontraksi diri yang bertindak lemah dan salah.

 

 

Umat manusia yang memeluk suatu agama dengan mengandalkan bentuk formalitas beserta ibadah ritual dalam bangunan fisiknya semata demi juga mendapat perolehan simpati dan gemar membuntut dari penilaian dan kebiasaan orang lain terlebih sekelompok kerabat dekat dengannnya, tidaklah menjadikan diri sang manusia beragama itu berjiwa nilai lebih akan resapan titah kebaikan (empati, altruistik, etika, moralitas, dan kebajikan) dan kedekatan dari pemberi roh pendamai kebenaran yang teratas.

 

 

Seni adalah gambaran visi dan sentuhan rasa yang didambakan pada jiwa manusia dengan menghargai akan kedalaman estetiknya, yang kemudian perjumpaan dengan seni dambaan dilakukan melalui pancaran aura terhadap dirinya.

 

 

Ingat selalu janganlah terlalu mengedepankan pola renungan terjemahan ke dalam bentuk tulisanmu dengan berkutat pada dunia rumusan, sistematis, dan traktat yang dituntut perwajibkan oleh badan formalitas pendidikan sah ataupun kebiasaan sempit nilai budaya umum belaka. Karena jikalau ketergantungan ekstrim dirimu demikian maka alhasil wujud penuangannya ialah keterbebanan isolasi otentik diri yang mengurangi dan menutupi kemurnian yang ada didalam benak hati maupun pikiranmu. Selaraskanlah bentuk tulisan bebas yang mampu diperdamaikan dengan gambaran apa yang ada didalam gugahan dirimu.

 

 

Ikuti, selami, renungkan, dan bawalah atas segala sesuatu hal yang ada didalam pikiran dan hatimu baik beralam panorama wujud imajinasi khayalan fiksi atau fenomena nyata maupun pikiran etis rasio logika, yang tiap kali dikau rasakan meskipun bentuknya berkata bak musim pancaroba, walau tidak menentu berdiri tegak yang konstan terpegang teguh namun inti tonggak esensinya adalah perasaan segenap diri, dimana waktu engkau dapati dan alami membuat sang diri pemilik gejolak pelik rasa itu merasa diri menjadi kian tergugah yang tidak kuat lagi menahan daya berhuni yang terekam didalam benak kepala, dinyata berujung kutat buntut kedalam penuangan berjumlah pasir melalui perantara secarik lembaran tulisanmu, yang mana dikau dambakan yakini akan aspirasi dorongan dan inspirasi sang tuan hati dari aneka bentuk anggota kesatuan tubuh rasa yang teraih hakiki adanya, serta-merta diantaranya berupa arti, makna, maksud, estetika, dilema tanda tanya, dan kumandang pernyataan. Dan dari wujud ragam keseluruhannya itu akan diperuntukkan bagi dikau nanti untuk tergores penakan.



Tulisan ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...