Rabu, 22 Maret 2023

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-SEBELAS

 

Daku dikejar sang tuntutan waktu yang mengemban kesadaran kewajiban diri dalam melaksanakan kebiasaan hidup yang malah berpenghujung hasil akhir berupa siksaan bathin yang membekukan kaku akan kebebasan gerak rohani maupun badani. Batu keharusan waktu perlu disegani dengan kupinta ampunan maaf untuk sejenak terabaikan dari putaran rotasi unsur magnetis daya tarik kekangan, yang lambat laun ataupun pesat kulepas sahaja demi merasakan hirupan kemauan alami luapan ceria, pembuang renggutan jemu tuan lalim kealotan waktu.



Subyek nyawa kehidupan dalam berkancah usaha bertarung demi menciptakan karya punya diri bila dilakukan oleh dorongan paksaan karena ada tekanan suruhan maka daya hasil atas nilai yang tertuang pada pandangan atau konsep atau gagasan akan berkarakter kandungan nilai bertakaran rendah atau bawahan, ketimbang sang subyek yang tergerak upaya keluarnya dari dalam alam ketertarikan diri sendiri terhadap obyek atau segala sesuatu bidang luas fenomena yang diseleksi dan berhasil menumbuhkan benih nilai-nilai sumber sokongan ide akal diri baru yang tingkat intensitas dasar nilainya jauh lebih kuat mendalam atau intensif dan menjulang tinggi terlebih alhasil kejujuran akal budi.

 

 

Secara hakiki sifat manusia merunut rata-rata keramaian mayoritas ialah tidak jauh berbeda dengan dimiliki oleh kejahatan dan kebiadaban hitler dengan jiwa asasi berlabel sebagai pendendam satu sama lain, dan motivasi kekuatan upaya ambisi untuk saling menonjol atau mengungguli dalam merebut kekuasaan antar sesama yang hampir berlaku disegenap kalangan komunitas jenis massa baik itu ateis ataupun bahkan beragama semu tanpa kepedulian apakah caranya berjalur pendusta maupun terus terang tiada roman rasa bersalah sama sekali, yang telah mengeksploitasi sejumlah individu bahkan sekerabat kental yang lain.

 

 

Kita mengetahui hingga timbul kesadaran mengenai keberadaan penyebab timbulnya gejolak fenomena terjadi yang sedang kita simak, namun asal kita merajuk pada instropeksi atas potensi terhingga diri kita yang seringkali berdiam diri dan tak sanggup berbuat apa-apa karena memang didalam diri ini belum memiliki hak kuasa untuk ikut berpartisipasi menerapkan saran atau peringatan ciptaan kemauan kita dalam bentuk tidak langsung atau bahkan langsung yang berkehendak mengatasi atau mengaturnya, malahan tanpa meloncat jauh dengan sebatas berurusan terhadap perkara kejadian saja yang tidak diperiyakan atau digubris sekalipun oleh pihak yang berhubungan, yang berwenang memegang kedaulatan tinggi atas perkara ditanganinya.

 

 

Jangankan si penguasa, lihatlah tiap diri kita masing-masing dimana daku baru menjabat strata rendahan legalitas atau formalitas dalam susunan kedudukan bermasyarakat yakni sebagai individu awam biasa, namun keberadaan menempati dilokasi manapun dan kapan pun pasti akan mendatangkan rasa kebencian oleh sesuatu pihak subyek lain kurang lebih entah itu mungil atau besar kuantitasnya. Proses kelangsungan berinteraksi sesama subyektifitas itulah merupakan faktor utama disinyalir lahirnya konflik tanpa kasih sejati diantara perorangan khalayak awam yang bertakar sebaya dalam batasan jarak garis sempit area komunikasi terutama saling kenal, apalagi sang penguasa yang rentangan komunikasi gerak bibir maupun tangannya telah diketahui jutaan penghuni bawahan kekuasaannya yang berdiam pada wawasan daratan begitu luas, dan tentunya pasti ada sekelompok yang membuahkan ketidakterimaan berbiji tidak suka, entah kausal menguaknya tabir kekuatan sentimental kepada fokus subyek yang tertuju itu berdasar pada asal mula persepsi atau asumsi yang satiris atau dendam atau pesimistis.

 

 

Hanya anak kecil saja yang sanggup melihatnya! Serapan makna yang tersirat seketika mendalami kisah layar saksi bermotif fiksi bertulis titelkan muka Free Willy dan E.T. nun tak terlepas pada pelamunan mimpi yang tertahbiskan dalam kebiasaan menghabiskan kekosongan hari oleh sekaum bangsa usia berwarna kulit hijau lebih mendapatinya sepenuh hati. Imajinasi elok impian tangkapan anggapan konyol bibir sinis umat dewasa, namun anak kecil lah yang sanggup menyaksikannya. Bayangan pesona alam khayangan polos yang berlawanan arah gerak alur gravitasi ilmiah dan perputaran roda sok hukum logika newton kian sangsi dengan menyangkal kebenaran mayanya karena tiada sentuhan polesan tangan estetika alam fana, tetapi tetaplah hanya anak kecil perenung lugu akan obsesi dimensi cerianya yang mampu meraba visi kagum haru senandung mistis keindahan.

 

 

Ketenaran bisa menjadi kerikil tajam sandungan bagi kaum yang berpijak akan titik berat ketergantungan menunggal atas prinsip temporer hidupnya yang terbuai, karena tenar menyeret arus keharusan demi kepuasan hampa oleh segolongan penggemar pemuja dunia mode trend dan suasana diguyuri hamburan nilai materi dalam hidangan luapan pesta pora yang membuyarkan rasukan nafsu hedonisme memabukkan.

 

 

Manusia sendirian yang menanggung beban tiada tara itu pada awalnya kuanggap bodoh, karena mengapa mau-maunya ia mengorbankan segara nyawanya dan menumpahkan kucuran derita berlinang-linang bermandikan darah kebenaran dengan seluruh penjiwaan mendalam dan pengabdian bagi sang Bapa yang padahal ia adalah tuan dari segala tuan dan tanpa kedapatan bersalah yang ada dimuka bumi atas seluruh penghuni menempati. Ternyata disuatu hari kesadaran, hal itu bukanlah kebodohan melainkan kebajikan tertinggi yang pernah ada terjadi karena menjunjung tinggi nilai segenap kebenaran yang sejati, dan akalku tak mampu menyingkap dibalik rahasia kemurahan hati luar biasa ini yang mengandalkan pemecahannya oleh akal logika berkarakter intelektual teratas sekalipun, dan biarlah keyakinan kudus itu datang menerpa keragu-raguan iman dangkal dan butaku agar kelak terbuka lebar pada tabirnya.

 

 

Sekian kali kuserapi hikmah cahaya tontonan, terutama bertajuk alur kejadian gambaran kisah realita, dimana disana mengindikasikan bahwa apa yang diucapkan si tokoh akan selalu berkebalikan bagi penilaian oleh tokoh bumbu pendukung atau pelengkap yang lain dimana mereka lebih merujuk pada hasil sifat dalam penerapan di lapangan fenomena. Yang beranggapan kalimat perihal kata dimana daku bijak namun ditanggap lalim kebenarannya dan begitu juga sebaliknya dari proses skenario penciptaan internalisasi akan nilai interaksi antar sejumlah tokoh dalang yang berhubungan. Namun kebenaran alam wayang skenario itu bukanlah keseluruhan, bahwasanya terkadang pula apa yang dikatakan dari bibir buah ekspresi tutup hati adalah juga selaras dengan tindakan pada praktek dunia kehidupan inisial fakta yang ada diatas pengilahan rajutan tangan sabotase berdalang khusus milik si empunya masing-masing, yang bagi ternaungi hardikan rasa sensitif intuisinya.

 

 

Bicaralah menghadaku hai sunset kemilau pucat lembayung merah dan sunrise pembuka kelopak ria kebiruanku, karena hanya dikaulah panorama sunyiku dikala cekam menyekat sipu keterjagaanku, dimana segala manusia diluar kandung keluargaku telah menyingkirkan daku dengan menyapu bersih keberadaan janggalku pada besutan diri mereka. Sesekali aku berkumandang teriak maupun bisikan, baik dalam telepati ataupun bibir inderawi kepadamu satu-satunya cahaya sepetik harapan bagi kegundahan dikala kelam buruk ku, bersuaralah kumohon jangan berpaling muka selayak meniru kekakuan mayat makhluk manusia bermata sinis kezaliman, dan engkaulah keramahanku berada yang menyejukkan sendi dasar hati yang layu bermekaran kembali dan menghapuskan gelegat tumpukan beban melekat yang mendebukan sanubari kebanggaan benak jati diri sebagai dambaan akan gantungan degupan nadi jantungku.



Tulisan ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...