Sihamba moralitas gengsi bertuan berkutat disudut alam pening pikir dan berupaya ambisius menyimpan harta kepunyaan segala diri, yang ditambatkan dalam sebuah gua nyaman dan tanah persinggahan yang berperi aman, namun kalut tetap terbayang akan kemunculan benak was-was yang coba menerka yaitu "bagaimana jika ada sosok tangan jahil kotor noda hawa iri itu sesaat akan menemukan letak ruang tanah istimewaku". Akan tetapi muka atasan beroman tolol yang dinyata tak berbuih kesadaran dimana kecemasan pekat begitu mendalam hingga palung dasar itulah yang akan merenggut tanah bangunan fondasi utamamu yang terus ke jenjang kian tersudahi, oleh dikau tak berdaya lagi berkemauan untuk tidur tenang dan nyaman dalam dekapan ranjang sang waktu kehidupan.
Walau prahara buta, bodoh, dan serakah telah menghempaskan iman kereligiusan mendalamku kini, nun daku tetap menyisakan ketidaklupaan akan imanensi trasendental Tuhan yang mana didalam jiwaku masih melekat tanam bibit rasa mungil iba dan perasaan antar sesama makhluk ciptaanmu (baik manusia, hewan, tumbuhan, dan bahkan alam yang kutemui), yang belum mencapai taraf tangga ketinggian bertapak segaris laras awan, nan itu sudah cukup bagiku hingga keteringatan itulah akan membuahkan ketakutan direlung hati berhulu huni rasa riskan.
Sang bodoh waktu lewat alpa tergeluti dibawah pemberian titik pengharapan diselingi peluang masa kesempatan telah ditelantarkan, dimana ia laksana asap melayang berlanjut hilang lenyap diatas tampuk keputusan sepah dibuang percuma oleh yang berhubungan, yang tak berkemauan menyudahi perhatian dorongan untuk menengok niscaya hulu ke hilir perjalanan tunggal tanpa membekas daur berulang lagi seraya musim kesadaran penyesalan telah bersemi untuk melangkah kembali, nun terlambat ambil opsi pergunakan sebaik matang mungkin karena ia tiada kuasa berdaya potensi transenden yang mampu menarik mundur rotasi si waktu, dinyata ia sebatang makhluk satu dari hamparan keberadaan penghuni luas sama yang terhingga.
Setiap utas kelangkaan makhluk insan manusia yang terjaga dalam pelamunan yang menyusuri kedalaman dasar renungan akan memiliki imajinasi pegangannya sendiri, yang berbuntut pada keinginan bergerak untuk direalisasikan dalam realita tujuan, alhasil upaya klimaks atas kemampuan penuangan air imajinasi dalam gelas kontemplasi ke wadah cangkir permukaan hasil tampungan yang tertangkap dunia panca inderawi sebagai total dorongan impian tendensi bayangan hati.
Perang dengan para kaum pengikut keterlibatan yang berhasrat menggabungkan misinya ialah menggunakan keharusan budaya nilai cita-cita opsi menjatuhkan darah dengan mengeluarkan segala keburukan yang terdapat didalam kuburan alam dirinya, khusus untuk dikerahkan fokus pada lawan yang dipresentasikan pembawa bencana bagi eksistensi kaum bangsa atau golongan bersangkutan, demi juga pelaksana wajib atas idiologi dan doktrin penguasa yang telah disumpah yakini dari manifestasinya, akan menuntun jalur solusi terhadap mimpi kemenangan fiksi bersama, karena dendam kebodohan mereka maupun kelihaian si penguasa.
Daku mengirimkan komunikasi pesan dalam diri diluar daya trasenden rupa telepati melalui alat media perantara elektronik yang dimanfaatkan secara berdinamika, namun tanggapan yang datang tetaplah sama, bukan karena dinamika perantara itulah yang menyebabkan ketiadaan kebaruan pada respon timbal balik berkesinambungan, melainkan pilar si empunyalah yang menentukan hasil kerja dari fungsi alat tanpa nyawa yang separas oleh kehendak sang akal bicara nyawa.
Komunikasi sepihak antar sesama jiwa yang membelah retak dada kesuburan ketenangan normal benak luruh kodrati telah menghempaskan segalanya, dan daku mengabulkan dorongan ungkapan hampa kemunduran yang menjeruji cengkeraman kenyamanan gelora ria hati nurani ini melalui rasukan sijahat pengambil alih jalan halal segala cara akan iman rahmat, dan sipenenang kudus tonggak warna putih luapan simbol kasih.
Akal penangkapan sahutan opini dalam diri yang tolol telah menutup mata pada kebenaran fakta yang dilandasi oleh penempatan inspirasi ungkapan tabiat atau kalimat istilah yang terangkum pada puisi dan falsafah, karena mereka melihat keberadaan peribahasa perihal gagasan kehidupan tersebut terletak disepanjang batas skenario layar tontonan sinetron, dan formal pembelajaran yang terlebih utama dibidang sastra, serta panggung gerakan yang diatur rumusan bersandiwara sebelumnya. Sesungguhnya ungkapan kata yang tidak dapat digali pemahaman makna langsung itu melalui penilaian baca dengan biasa tanpa internalisasi sensitif akan rangsangan nilai kebenaran, merupakan dorongan penyokong pergumulan kelangsungan kebiasaan kita sehari-hari yang khusus disentuh oleh hati nurani terhadap gejala tantangan kebenaran fenomena. Diluar alam sadar kelangsungan sentuhan sanubari itulah yang membuat diri kita telah berpijak terhadap kaidah nilai kebenaran.
Janji yang dikau buat sesama kerabat tetangga dekat langgananmu telah engkau ingkari akan letak waktu pertemuan dalam persetujuannya, karena berpersepsi bahwa titik waktu sentral temu itu tidak ada lagi ikatan kebutuhan jasmani maupun rohani kepada penghubung timbal balik sijanji, maka semenjak esok tiada pasti hari kebutuhan atas uluran tangannya akan engkau berniat cari genggam lagi namun dengan pipi merah figur warna memori masa bodoh pengingkaran tali kesepakatan terbuang yang segaris oleh waktu manis baginya nun kembali datang manakala polemik datang mendera diam-diam.
Disuatu hari suara apakah itu, dimana langit terbuka membias cahaya kemilau elok keluar dari atap belahan retak langit sang bumi polusi buta, dan kilauan cakrawala menyimpan pesan suara gelora bergemuruh menggetarkan intuisi jiwa pendaman jika sipengada dalam raga mau berkenan peka menyapa rautan terpukau akan tahbisan nilai petuah suci atas kehampiran sang murah hati si suara, dihari perkunjungan tak mudah diketahui begitu pasti.
Tulisan ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar