Rabu, 22 Maret 2023

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-SEMBILAN

 

Paduka pemuja dan bangga atas lambang kebiadaban ini disuatu ketika berdialog dengan belahan dalam dirinya, dan diperhadapkan segelumit esensi retorika bernada sensitif yang menggemparkan iman akan keterlanjuran oleh sengatan api bakar sang kegelapan. Ia memulai pembicaraan yaitu, "Apakah batu kutelan huni ini sanggup terangkati, dan alotnya sikayu yang mampu kubelah dengan selaras tangan mandiriku sahaja, namun tidak! Karena daku tidak mampu menyelesaikannya, jangankan halangan sandungan demi menemui kebenaran dengan rupa benda keras kuasa kutaklukkan, bahkan daku sendiri tak sanggup memanggul kapak beserta sicangkul jiwaku dalam menggali tanah kesucian sang peranakkan yang berpijak lunak, walau sebatas garis tabiat turun warisan yang bertakar tangga hanya seuntai kedalaman atas permukaan datarannya".

 

 

Manusia tercinta bagi baginda peneman nurani keindahanku itu adalah irama hidupku, kemanapun ia terhimpit paksa yang berpisah pergi dari pangkuan hatiku akan selalu terkenang gambaran masa-masa mutiara saling bercengkerama hubungan kenanga, dan terlihat selalu gerak kehadiran bayangannya disisiku yang berkehendak menghapus hasrat duka kesepian daku. Getaran aroma ikatan sesama jiwanya bagaikan tegangan aliran arus listrik yang menyengat kalbu, bahkan tersalurkan pesan suara hati kedalam tali koherensi telepati bathin milik masing-masing bersama, serta tarian nyawa sumbangan jantung kehidupannya juga menggoyangkan tulang maupun daging yang beranjak menggairahkan darah semangat pelipur dara manis tuan sang sanubari, baik bagi dua ataupun keanekaragaman sisi namun satu dalam kesatuan elok pemandangan rasa kasih dan canda tulus lugu tawa akan hubungan kita.

 

 

Seketika lara kekuatan jiwa dan ragaku tiada lagi berdaya maka disitulah saat aku mulai berkehendak pengharapan dalam meletakkan ketergantungan akan gambaran wujud kemampuan subyektifitas yang lain, seolah detik-detik tindakan aktivitas kebiasaan hari telah tak sanggup mengutamakan hasil pikiran mandiri, dan pendahuluan atas kemauan jati diri juga bimbang tak terkendali, yang berproses kian menjadi pasrah hati dengan opsi paksaan yang mengekori seapa adanya terhadap pengaruh masukan pihak luar yang sebagai sosok amatan dan kenali dekatan, hingga kebanggaan murni diri kian dirundung hampa seiring keterlemparan waktu eksistensi alami.

 

 

Dalam persahabatan teman yang terlebih pada ikatan antara seksama dalam kedudukan paras fisik yang sebaya, maka fakta mayoritas menunjukkan tanda bahwa yang dikedepankan dalam kancah lapang pergaulan ialah kemampuan akan kesanggupan adaptasi dengan pola gaya komunikasi yang digunakan dalam kebiasaan intensitas berinteraksi antar individu yang satu dengan individu yang lain. Bilamana terdapat perseorangan yang tidak mampu mengadopsi tuntutan perwujudan dari polarisasi gaya komunikasi itu dengan tanpa sepengetahuan oleh yang bersangkutan, maka ia akan tersisihkan dalam ruang lingkup pergaulan yang dicap oleh golongan asosiasi mereka sebagai pembeban bahkan bernilai rendahan, atas dasar kaca mata penilaian akan suatu perihal potensi kedekatan dalam bersosialisasi yang segaris milik hak keberlakuan mereka sendiri.

 

 

Harga diri seringkali dipertaruhkan demi kata-kata pancingan usapan maya berwibawa yang berupaya ahli memojokkan namun berbau dibalik keinginan untuk menjerumuskan kepada kebodohan dan kesesatan. Semisal gambaran mengenai suatu ajakan masuk untuk menyelam ke dalam ikatan perjudian, bilamana saat tawaran itu juga kita tolak maka pihak lawan yang bersangkutan pasti mengeluarkan ucapan bernada menyudutkan akan keberadaan kita yang diasumsikan sebagai tindakan berupa kepengecutan agar jiwa menjadi terciut, hingga sitersudut berusaha menghindari pandangan jawaban bak kepecundangan dari subyek lain yakni merealisasikan ajakan tersebut yang justru hasil akhirnya menjatuhkan diri. Dan sama halnya diatas dengan bujukan dalam bentuk yang lain dan bersifat menjerumuskan.

 

 

Seni pembunuh mengambara jauh datang dari dasar peranakan rumahnya, yang beradu mengejar ambisi buruan yang segera terlenyapkan bagi harum kelegaan prajurit saudara sebangsanya. Dengan bermata lemah lembut, nan berhawa dingin menyorot tajam oleh sang korban bidikan, dan begitu sempurna gerak senandung gema tubuhnya yang melankolis dan tak pelak menggambarkan seni sejati siwakil amarah naluri sang pembunuh diseberang mangsa lawan. Sempurna tiada kenal ampun namun jiwa mengabdi pada eksistensi kubu perihal fakta kondisi sang ibunda kehidupan. Dialah mau tak mau sangsi akan konflik dihati murniku yang telah kusaksikan dilayar bening segi empat cerah, satu dari kesekian sang paduka penyalur endapan kebiadaban. Dialah "Mayor Konig dalam film kisah nyata yang berjudul Enemy of the Gates".

 

 

Jangan keluarkan nada sinismu untuk berupaya menghentikan lengkingan desis gelaga nyaring tawa puas, oleh santunan ketukan tulus senandung irama polosku, dengan ini segala ketegangan lelucon sempit dunia sanggup terenggangi, dimana tali sayat pengikat erat dada paru-paru nafas keleluasaan akan kehendak otentik basis ini telah melonggarkan sesaknya keanggunan ramah semu didalam kerumunan dunia.

 

 

Dalam bahasa hukum spesialisasi bidang pengaturan keperdataan pada topik kontrak perjanjian maka hak kepunyaan oleh satu pihak menjadi sisi antonim bagi kepunyaan pihak lain yang berupa kewajiban, dan begitu jika diputar sebaliknya mengenai kepemilikan itu, dimana masing-masing meminta pemenuhan tuntutan menurut kesesuaian posisi yang diambil bagi para individu yang bersangkut-pautan.

 

 

Istirahatkan kepala sejenak lebih mendahulu dengan opsi rasa iba yang terenyam oleh kehendak kepalan hati bebas kita dalam merangkak kegairahan dunia, selayak balita telah berhenti mengakhiri kebiasaan penerus sumber mata air susu ibu melalui proses mandiri lebih rupa, dan upaya merengguti pelajaran jalan tegap yang benar dan tidak terkantuk oleh sandungan lemah situlang sumsum lapuk. Seberapa luas anak-anak konsep ungkapan gagasan bayangan pemikiran ini yang membuat kita lupa mengemban permainan dasar kodrati sang makhluk kebutuhan asasi manusia dalam mengayuh arena luwes samudera dunia, yang terayomi terhadap atmosfer perlindungan bagai simbol kenyamanan penaung gerak kebahagiaan sejenak, yang terlepas dari beban ribuan kata akal besutan kewajiban jeruji logika pikiran sendiri atas belenggu kemauan kontraksi jiwa eksistensi hidup tanpa berat benda nun berarti hampa dipikuli.

 

 

Oleh yang lain pasti beranggapan bahwa kematangan wujud dewasa mengenai lekukan dan bentuk fisik nanar inderawi akan materialismenya terhadap diriku, nun memang kini raut pipi wajahku kian berkerut menua dan berkerikil tak merata, bulu rimba hitamku mulai tumbuh dengan lebatnya seiring permintaan alamiah hormon yang kental baik menjalar dikumis, dagu, godeg, paha, dan tumit kaki, sekalian itu ditangan dan ketiak kelek. Dan Bukan itulah ukuran tentang arti proses kemunculan dewasa atas risalah pribadi diriku, melainkan saat balita baru merangkak belajar jalan dan berlari hingga saat ini pun konstan tidak banyak berevolusi karakter masak mendewasa, tapi aku masih bangga dengan kebahagiaan mungil watak lugu dan polos akan kanak-kanakan hijau dan kurcaci jiwaku yang bahagia semasa terlintas berguling-guling, melonjak-lonjak, dan menari-nari berteriak kegirangan fana yang memenggal kekangan akan tuntutan selayak dewasa ditengah luas lapang ramah bunda kehidupan sang mimpi.



Tulisan ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...