Selasa, 21 Maret 2023

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TUJUH

 

Manusia dikala mengkritik adalah bumbu sedap meluangkan saat yang tepat untuk menjatuhkan lawannya, namun sebaliknya sewaktu datang gema lontaran kritikan yang dijatuhkan pada harga diri pribadinya maka jiwa terbakar, pipi memerah malu, dan gendang kepala raga bersuhu panas bak figur kemarahan yang tidak diterima atas tuduhan berbau merendahkan si timpaan korban. Maka hal itu juga merupakan salah satu bagian kesatuan mendasar sifat manusia (seperti egois atau mau menangnya sendiri).

 

 

Perkumpulan kepentingan sepenanggungan yang sama baik berupa badan, organisasi, partai, dan lembaga maupun individu yang memasuki arus kancah pergulatan kompetisi peraduan taruh kehidupan. Terlebih lagi berada diambang tingkat taraf tinggi persaingan kolot nasional, maka yang akan menjadi bahan sorotan tajam kajian dalam, sebagai incaran untuk menghambat dan menjatuhkan melalui cara mendapati segi-segi kelemahan yang dimilikinya, yakni disaat perkumpulan maupun individu tersebut sukses menenggelamkan rival-rival utama lain demi merebut reputasi kepamoran, dan tinggallah yang tersisa dua pasangan ganda atau bahkan ketunggalan yang mengambang ke permukaan bagai sosok yang begitu menonjol dalam memancarkan sinar kharisma serta kuasa pengaruhnya.

 

 

Wujud kepunyaan yang terpasang dalam pemikiran yang sedang engkau dapat kapan pun dan dimana pun oleh alhasil bayangan yang berhuni di alam akal benak dirimu adalah sebagai bentuk sementara daripada jati diri kepribadian watak identitas bagimu sendiri, walaupun bentuk itu ketahanan kekuatannya mengandung unsur nilai berupa keluhuran beradab budi pekerti sebagai ciri khas makhluk manusia atau bahkan bercirikan nilai sebaliknya, dengan memfigurkan kesamaan yang jahat biadab dengan makhluk moral rendahan yaitu binatang buas dan licik.

 

 

Serigala berbulu domba, yang menggambarkan sebuah ilustrasi sang mahir pendusta yang tertuang dalam pepatah atau terminologi peribahasa yang mengerikan jikalau kita benar-benar larut pada daya imajinasinya bilamana semasa kita bertemu dengan sosok yang memiliki dan menjalani terhadap pandangan peribahasa retorika tersebut meskipun hal itu tak pelak diri kita jugalah yang akan mendapati dalam mengikuti perihal sifat kepicikan dan kelicikan yang ada terdapat di alam diri kita sendiri baik itu sadar maupun diluar kesadaran, karena kita telah dikelabui oleh iman yang kian menipis dan malahan punah kepada kebenaran sejati Sang Ilahi.

 

 

Sandiwara itu bila didengar dalam respon benak, maka seketika kecenderungan penilaiannya pastilah menuju ke negatif yang begitu sama kedapatanku untuk menangkap kata elemen dusta atau opiniku pada istilahnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa suatu saat kita pasti akan tersudut untuk memakai selendang kerudung penutup keaslian wajah kita ini, sesaat kita sedang menghadapi konflik ketegangan pada pergumulan hidup antar hubungan sesama subyek yang saling berurusan, agar nantinya tidak membuahkan bentrokan fisik yang tiada hasil berguna yang justru memperparah jangka panjang puncak ketegangan yang mengharuskan kejatuhan pertumpahan darah.

 

 

Manusia cerewet dan banyak bicara yang positif itu jauh lebih bagus dengan mengeluarkan pendaman isi kebebanan yang ada dalam diri daripada memendam ribuan gema kata keruh yang jauh asat jiwa yang berlanjut memuncak dan tak sanggup menampung amarah belerang emosi membara, dengan menjadikan sosok sasaran subyek lain sebagai obyek celaka bagai eksperimen kelepasan biadab jahat dengan kemarahan diluar kendali atas kemanusiaan sehatnya, sebagai wujud ekspresi gelap buta jiwa karena terlambat berinisiatif mengambil langkah penyembuhan kejiwaan.



Terbentuknya jalinan tali persahabatan yang bertemalikan kesejatian bukanlah tersusun keakrabannya melalui hubungan saling memberi sedekah harta kepemilikan masing-masing untuk meraih simpati antar sesama hubungan dekat demi pencarian pesta euforia temporer belaka, namun lebih mendalam lagi akan makna ke-esensiannya yaitu dengan menjalin kedekatan hubungan pokok primer utama dalam interaksi kesesuaian berkomunikasi atas pertukaran magnet ketertarikan dunia alam berpikir atau daya ke-imajinasiannya, dan baru diselingi pemberian tulus sajian kebutuhan sekunder sebagai faktor sebatas penyokong keduanya untuk mendukung eratnya hubungan tali-temali persahabatan yang berstatus kekuatan ikatan bathin sejati.

 

 

Setiap membuka lembaran buku dan membaca setiap jengkal kalimat tulisan yang tertera untuk mengisi keseluruhan kutipan halaman didalamnya, tentulah cara penggunaan nilai membaca kebiasaan kita tanpa sepengetahuan kesadaran adalah selalu menggambarkan imej yang bersangkut-pautan dengan tulisan bacaan yang baru kita simak, dan lebih spesifik mengenanya lagi yang menyangkut imajinasi tersebut akan tersalurkan dan lahir melalui konsentrasi perenungan penuh pada perihal tulisan yang tersirat dalam internalisasi tangkap fokus jejali topik bacaan.

 

 

Permasalahan yang terbahas dalam benak diri kita tanpa kandungan elemen paksa dari luar, terutama bermotifkan tuntutan pencarian yang kerap sebatas nilai nihil makna oleh badan formalitas belaka yang dikemudian terlempar oleh kemauan sendirinya ialah pokok bahasan yang meramu topik masalah yang menjadi daya pikat ketertarikan, dimana pencarian dilema permasalahan rancu bersimpang siur akan menumbuhkan jawaban nilai sejati demi penemuan kebenaran atas pertanyaan diri, dan perantara berbuntut kesadaran yang memprioritaskan akan kepercayaan intuisi dalam diri, dengan juga nantinya berujung menganakkan kelegaan puas akan pelenyap dahaga bagi dilema masalah candraan yang dipersoalkan itu.

 

 

Suatu titik hujan yang jernih akan kemurnian kebersihannya dari sang awan jika turun jatuh menyentuh sang peranakkan tanah tempat bibit kontaminasi keruh bumi berada, maka sentuhan air yang telah menjadi genangan tersebut kian berangsur pesat lenyap akan daya kemurnian kandungan bersihnya, dan begitu jugalah dengan sabda anugerah serah penurunan dari yang Ilahi kepada para umatnya yang mendiami diatas perut bumi yang alhasil keterlanjuran terkena polusi duniawi.



Tulisan ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...