Selasa, 21 Maret 2023

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-ENAM

 

Perlu diingatkan bahwa Tuhan adalah tuan dari segala maha baik sehingga jikalau manusia melakukan perbuatan baik yang tulus maka ia juga memiliki hubungan relasi bathin yang dekat dengan Tuhan, dan sebaliknya bilamana manusia hanya sekedar percaya pada Tuhan namun tidak ada niat kemauan untuk menuangkan isi pemikiran akan kebaikannya maka ia bukanlah umat yang ditahbiskan Tuhan karena terbuang oleh jubah dan lidah dustanya. Ditambah, Tuhan adalah inheren dengan perbuatan berunsur kebaikan, sebab Tuhan juga merupakan pohon yang baik, sedang perbuatan baik yang tulus adalah buah yang baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik dan begitu juga sebaliknya, dan hal ini ialah sebuah pernyataan yang memang sangat benar akan kebenaran abadinya.



Adam punya hak untuk mencurahkan segala perasaan hati terdalamnya kepada sesama kaum adam yang sudah terselipkan ikatan jalinan yang erat akan lingkupan suatu persahabatan, khususnya lagi tanpa terdapat pantangan tradisi lama yang kolot, namun tetap ada batasan yang bukan berarti jalan penerjemahan yang tertuju hubungan badaniah. Bentuk rupa curahan itu diadaptasikan bagaikan seorang hawa berintim sahabatkan oleh sejenis hawa yang seraya dikalangan kaum mereka tidak ragu untuk berpelukan dan bergandengan tangan sebagai tanda keakraban untuk keutamaan hubungan karib persahabatan bagi sesama yang saling tersayangi, dan yang diantaranya bukan disilogismekan penjalinan ungkapan lahiriah dalam pemuasan aspirasi ekspresi keintiman berwujud sex yang malah menyesatkan akan kebelengguan jati suci kodrati diri.

 

 

Saat menelusuri kelonggaran waktu yang hampa beraktivitas dalam memikul hal kewajiban, maka selakunya detik maupun satuan menit janganlah terlalu dititik perhatikan akan kebiasaan ritual bobotannya yang olehnya mengganggu gerakan dan kediaman perenungan diri yang memasuki ketenangan ruangan bathiniah.

 

 

Ikatan dalam persahabatan yang terjalin erat akan tali keakrabannya hanya dapat terwujudkan melalui persamaan atau kesesuaian jalan dan bentuk pemikiran antara kedua belah pihak disaat waktu saling berhubungan interaksi atau refleksi didalam hal tumpuan rekonsiliasi antara satu dengan yang lain, maka disitulah titik dimana mereka kian memahami adanya pandangan karakter diri serupa mengenai nasib dibidang dunia yang sepenanggungan dan senasib sama atas keberadaan diri yang beraktivitas pada lingkungan kehidupannya.

 

 

Kuat rendahnya kemampuan dalam dua penyaluran ide akal pikiran ke alam realita yakni menulis dan bertutur kata merupakan dua hal yang kerapkali berkontradiktif antara potensi hakikat hidup penuangan ide yang satu dengan yang lain, namun bisa jadi kedua-duanya dapat dimiliki yang memang daya ramu pemikiran intelektualnya mengandung intensitas kebrilianan dan kejeniusan, akan tetapi hal potensi keseluruhan atau mutlak ini berkuantitas langka yang termiliki bagi tiap individu, bahkan terdapat adanya sisosok subyektivitas yang tak mampu mendapati kepemilikan potensi kedua-duanya.

 

 

Kandungan relatif mayoritas tentang manusia yang sanggup menguasai dalam bertutur kata ialah sosok yang gemar berkontak bicara pada ruangan sosialisasi, sedang kuasa menulis didapati melalui eksistensi sang subyek yang berkebiasaan hidup menyendiri dan hobi merenung di alam pikirannya, yang mana proses lanjut tertuangkan untuk mengisi lembaran putih kosong.



Pertanyaan tertuju pada kualitas potensi diriku yang jauh condong berat terhadap tulisan ketimbang berucap desusan kata yang ternyata terjawabkan oleh persepsi abangku yakni bahwa manusia yang tidak begitu sanggup menguasai tujuan pembicaraan yang sebaliknya jika diperhadapkan pada bentuk potensi menulis berdasarkan ungkapan isi hati maupun akal berpikirnya disebabkan oleh karena, dikala kejadian peruntukkan dalam mengeluarkan ucapan kata-kata dibutuhkan suatu daya kecepatan waktu dalam proses penuangan dari alam hasil pemikirannya, lain halnya sesaat menggeluti kegiatan menulis dimana yang dibutuhkan dalam menerjemahkan ide-ide hasil buah pikiran dapat memakan tempo yang tak begitu cepat atau cenderung lama sebelum memulai menyalurkannya. Kalau begitu kepastian konklusinya, maka apakah daku ini orang yang agak telmi ya hehehehehe............

 

 

Menerima merupakan salah satu hal makna sederhana yang mendalam mengenai mengikuti, karena tidak mungkin kita mengikuti sesuatu obyek pemikiran berupa istilah tujuan tanpa diawali pendahulunya yang disadari sebagai faktor pendorong lahirnya keinginan untuk mengikuti yakni menerima, baik apakah hal itu menerima idealis sifat kandungan kejahatan atau kebiadaban pada unsur relung dalam idealis tersebut, ataukah unsur kandungan berwujud kebajikan yang diterima oleh mata pikiran akal budinya yang tidak lagi buta terhadap kebenaran sejati.

 

 

Manusia manis yang lambat laun berevolusi menjadi getah pahit yang mentah karena kegilaannya yang membaut watak kepribadiannya yang tidak selayak punya naluri manusiawi kodrati itu yang jauh lebih rendah nilai derajat kebenaran akan kebaikannya, ketimbang seorang yang rela melenyapkan nyawanya sendiri melalui opsi total akhir solusi penghilang kepedihan, dimana barusan telah kehilangan sanak subyek individu kesayangannya yang diluar kehendak meninggalkan si dia yang tersayang, dan ia melaksanakannya demi menemani kehangatan pelukan yang selalu bersama-sama didunia fana yang lain. Prototipe kedua-duanya dari gambaran diatas memang diasumsikan sama-sama mengandung keburukan, namun bila diukur dengan neraca pertimbangan nilai kejiwaan, maka daku dapat memastikan kemana arah condong berat timbangan yang lebih benar.

 

 

Mengetahui merupakan menilai, dimana dua hubungan istilah kata tersebut inheren. Sesaat kita menilai sesuatu obyek fokus amatan, maka setidaknya kita tahu apa bentuk terdalam dari obyek amatan tersebut, dan tidak mungkin kita menilai obyek sorotan tertentu tanpa berelasi mengetahuinya terlebih dahulu. Bila penilaian dilakukan diluar kegunaan utama sepengetahuan pelaku si subyek, yang termasuk proses awal dalam pengambilan nilai maka keabsahan kebenaran atas penilaian itu akan menjadi semakin rancu.



Tulisan ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...