Menguasai hawa nafsu emosi berarti menggapai pegangan yang kuat berdampak ketenangan yang tidak goyah dengan keseimbangan bathin, dan kejauhan rasa atas hampiran lahirnya kegusaran. Sedangkan mengikuti hawa nafsu emosi ialah bertanda kelemahan yang mudah terseret dan tidak mampu menahan keseimbangan oleh arus deras cobaan prahara yang menerpanya, dengan berbuntut kekuatan tarikan yang diekori itu akan mengantarkannya menuju samudera luas kehancuran bathiniah diri.
Menguasai hawa nafsu beserta emosionalnya yang betapa berat dipikul menandakan kedekatan Tuhan dengan tampuk cawan air kehidupan yang membahagiakan, sedang mengikuti segala hasrat nafsu dan api amarah keemosiannya maka ia akan dikuasai dan dimangsa oleh taring siksaan bengis si iblis.
Perbedaan pendapat dalam konsep gagasan di ibaratkan pada dua ganda manusia yang hidup menempati disuatu kota, yang satu menyatakan bahwa kota itu tidak terdapat pemandangan elok akan gundukan dataran pegunungannya, dan yang satunya lagi berkata bahwa dikota itu ada sebuah anak gunung yang berdiri tegak menjulang mandiri dibelakang punggung kota yang berlawanan dengan jantung arahnya yang berhadapan menghadap ke ufuk timur surya mentari.
Sumpah bagi negara tidak jauh berbeda dengan sumpah yang diangkat ucapkan oleh sepasang dua gaun pengantin semasa melangsungkan upacara pernikahannya, yang menyatakan "apakah saudara sekalian berdua tetap mau saling setia mengasihi meski disaat masa-masa keruh kesulitan sekalipun melanda kehidupan saudara", begitu juga dengan negara dimana rakyat yang telah bersumpah akan janji setia walau masalah polemik kekrisisan atas kemunduran negara melilit keberadaan hidup saudara sebangsa dan setanah air pun, nan disaat musibah itu datang apakah kita akan tetap berpegang teguh pada janji yang telah kita buat ataukah membuang jauh-jauh janji palsu tersebut kedalam dunia kepengecutan akan wajah dusta buatan kita sendiri.
Dunia yang kita temui telah berubah menjadi terjungkir balik atas kekodratan pasti keberadaan normalnya, maka siap-siaplah sang diri untuk mempertahankan bagian komitmen esensi ajaran dalam diri kebenaranmu yaitu kenalilah dan mendekatlah kepada "perilaku terpuji" dimana kita diperhadapkan pada suatu dunia yang berpenghunikan makhluk-makhluk berderajat tinggi namun tercucikan oleh racun sabun di sel-sel syaraf otak sebagai tempat tertanamnya akal budi yang telah dibumihanguskan dengan membuntuti sebatas macam gerak naluri hewani.
Manusia yang kerap gendang telinga jiwanya terakrabi oleh suguhan musik ciri khas aliran volume lirik-lirik yang begitu keras dan kasar dari dentuman yang bahkan tidak berirama sekalipun terhadap distorsi makna terdalam estetika musik yang sesungguhnya, maka jiwa seluruh raga jasmani pun lambat laun akan jatuh sesat yang terkoyak-koyak kegelisahan untuk melampiaskan segala hasrat bengis sebagai penerapan bayangan ekspresi oleh musik suara kegelapan tersebut, bak dinamit yang menghancurkan bentuk bait agung kelemahlembutan dan kedamaian hati manusia yang sejati.
Yang dibutuhkan dalam pendekatan dengan kesyahduan akan kemasyhuran bermusik ialah bukan aliran tertentu yang wajib terpegang terus untuk didengar, yang berikutnya akan selalu menjadi pijakan abadi tetapi kosong makna pendalamannya akan arti musik itu sendiri. Seyogyanya membesuk pada konsep kebenaran musik bukanlah terpaku acuan atau mendirikan suatu aliran, namun musik yang terutama dan vital nilainya yaitu dimana musik yang teresap terdengar dapat disedapi oleh kaldu jiwa platonis yang begitu sepadan melalui pendalamannya akan hasil suara itu, sebab adanya kesesuaian terhadap wajah dan gambaran bentuk kepribadian, entah hal itu dikontemplasikan kedalam bayangan mistis estetik hidupnya atau pengalaman akan memori masa riang kenangan yang lampau ataukah yang akan bergerak diambil jalani demi cita-cita impian untuk direalisasikan ke masa depan.
Tanda istilah ban yang disandang oleh sang pemimpin dikemudian hari yang sewaktu-waktu saat diperwajibkan untuk mengambil suatu kebijakan meraih tujuan akan kemenangan yang berupa keputusan dari permintaan vital anak-buahnya. Berprinsip pada intuisi percaya diri yang tidak diperkenankannya untuk mengenal atau memberikan ucapan artikulasi kata "aku tidak tahu" apalagi dengan kata "ah terserahlah" yang tentunya pernyataan putusan itu akan secara langsung berdampakkan kejatuhan moral mental yang dimiliki oleh bawahan, dimana telah menaruhkan kepercayaan diatas bahu sang atasannya. Maka sebagai seorang pemimpin benar adalah mengkumandangkan keterbukaan dua kata antonim yaitu "ya, aku bisa" dan "tidak, aku tidak bisa", dan agar menghindari ketidakmauan dan kemerosotan mental bawahan yang tentunya bagi sang pemimpin seorang diri mau tidak mau baik dalam kondisi renggang apalagi terjepit wajib menggunakan kata "ya, aku bisa".
Masukan sebuah gambaran yang menyentuh terutama ditujukan bagi seorang penguasa agar membatasi sifat kebiadaban akan keangkuhan totaliter kekuasaannya yaitu, alkisah mengenai seorang hamba budak bawahan pada suatu ketika diperhadapkan pada sang penguasa yang baginya sosok diri kelas rendahan itu tidak berarti apa-apa atas kejayaan tampuk kekuasaannya, seraya perlahan-lahan sibudak bersimpuh lutut sedaya mungkin untuk merendahkan diri dengan segenap kepasrahan hati biar terampuni oleh baginda yang memiliki hak kuasa dalam menentukan nasib hidup ia didunia wilayah hegemoninya. Tak pelak sang penguasa tersebut rasa iba nya kian tersentuh oleh kerendahan pasrah diri si budak yang seakan tak berdaya apa-apa akan nilai diri olehnya, hingga akhirnya ia pun melepaskan si budak yang tidak berarti apa pun baginya itu untuk pergi membebaskan diri sembari sang penguasa masih berkenan mau mengampuni si dia.
Meskipun daku seorang penganut agama kristen protestan terutama dengan aliran lutheran, namun tak urung daku ingin meluruskannya atas potensi kekritisanku ini, terlebih tentang sebuah prinsip anggapan yang menyatakan bahwa manusia diselamatkan hidupnya bukan dari perbuatan baik melainkan anugerah belas kasihan dari sang Tuhan itu sendiri semata, namun pandangan pijakan prinsip ini kurang eviden akan arti kebenaran keselamatan. Dimana persepsiku bahwa manusia diselamatkan oleh kedua hal konsep premis berikut yakni perbuatan baik yang tulus dari diri sendiri dan juga belas kasih karunia dari Tuhan, oleh sebab yang menyelamatkan manusia adalah niat usaha kehendak dirinya sendiri untuk menerima sabda keselamatan dari Tuhan melalui perbuatan baik, dan bahwasanya Tuhan adalah Sang Baik Yang Sempurna maka begitu riskan jikalau manusia hanya sebatas percaya dan menerima keselamatan dari Tuhan tanpa adanya balas jasa dan usaha tulus yang teramat besar untuk mengejewantahkan isi ajaran kebenarannya yang di implementasikan pada kehidupan realita sehari-hari.
Tulisan ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar