Engkau bukanlah siapa-siapa, dan diriku pun juga bukan milik siapa pun selain daku sendiri. Dimana kesedihan dan kebahagiaan hanya aku sosok ketunggalan, yang merasakan dan bercengkerama dialog interaksi bathin dengannya.
Kisah sang penguasa yang menyematkan atribut julukan dikepala sebagai maha pembunuh didunia ini melalui doktrin amat menyesatkan yang diungkapkan menjadi landasan identitas bagi jati diri bernuansa kegelapan yakni bahwa aku adalah "Lonceng Kematian" terhadap akal budi yang berpijak pada hati nurani, dan barang siapa yang tampak kukenal diluar sekehendakku meskipun sedikit saja, maka ia akan kubinasakan dengan mulut dan tangan api neraka fana ku, karena aku punya hak semesta ruangan aturanku sendiri untuk melakukan dasar hukuman disamping meskipun masih ada hak teratas yang dimiliki Tuhan melalui kuasa penghakimannya.
Menguasai adalah dimana dikau sang diri sebagai sosok pribadi yang berhasil menarik daya magnet kepemikatan atas pemikiran subyek lain yang mana mereka berdecak kagum terhadap bentuk pemikiranmu yang seringkali tiada pernah ada terbesit didalam akal pikiran subyek mereka sendiri, meskipun itu pun ada namun mereka tidak mampu menuangkan ke dalam wujud apa yang terbayang pada alam mistis pola berpikirnya.
Banyak menghujamkan dalam mengkritik merupakan bagian dari pihak yang belum pernah merasakan jabatan yang sedang diembannya kepada pihak korban yang tertuju dari serangan kilat kritikan itu, atau bahkan ia sendiri sebagai sosok yang belum mengetahui seluk-beluk letak sejauh mana masalah dalam pergumulan akibat situasi kondisi yang tak menentu diluar kehendak diri yang dialami oleh sang pihak korban terpaan badai segudang dari sang kritikus tersebut. Oleh karena itu terlebih dahulu sejauh mana jikalau kita seolah-olah menjadi bagian diri sepihak dalam menghadapi gejala problematis ataupun jabatan yang sedang teralami dari korban kesaksian mata kita, sebelum mengambil jalan menantang atas kejadian fokus obyek yang menjadi sebab akibat si subyek yang tidak sesuai dengan konsep pandangan pemikiran kita.
Keadilan dapat terwujud bila hal itu dibutuhkan suatu kebiasaan yang berlangsung rutinitas, dari awal sampai ke jenjang hidup yang sedang ditapaki. Karena keadilan merupakan suatu sub bagian simpanan dari nilai-nilai luhur kebudayaan yang dipegang dalam pergumulan sehari-hari, terlebih lagi unsur bagian kebajikan tersebut dapat dipertahankan apabila dilakukan sejak usia dini sampai ke menengah atau bahkan hingga senja ujung uzur usia yang dapat diwariskan secara turun-temurun yang tahan akan godaan rayuan keduniawian atau abmoralitas melalui bekal kuat yang berpegang teguh pada konsep kebajikan khususnya berupa keadilan.
Sang penguasa yang kalut gundah ketika diambang kepelikan dalam penanganan bagian bidang lingkungan kekuasaannya maka dia akan selalu mencari usaha untuk mengalihkan pandangan perhatian massa besar ke tempat dunia bidang yang mengandung nilai jauh lebih baik, agar teresapi ke alam keramaian umum dalam beranalisa terhadap topik suguhan barunya.
Diktator ketotaliteran adalah suatu petualangan yang berawal sangat mengasyikkan dengan berakhir hasil kepiluan yang teramat tragis, disertai pengorbanan kewajiban mengeluarkan darah dan penyerahan nyawa, baik dari gerombolan besar pengikut loyalnya maupun dari pihak yang ingin ditebasinya. Namun sesudah era berlalu ternyata masih terdapat ada yang mencicipi bumbu kenikmatan temporernya tanpa mengambil hikmah terdalam yang sama pada elemen kejadian dimasa lampau, karena dibutakan oleh kemasa-bodohannya yang sepintas memikirkan batas dekat sekarang daripada menatap akibat yang jauh bergaris panjang membentang di keesokan waktu mendatang.
Menghalalkan segala cara demi membelenggu musuh melalui bujukan persuasif, yang pintar bersilat kata untuk menggapai suatu tujuannya, yang memang merentang mulus sebatas temporer dari penghasilan itu. Akan tetapi hal perilaku tersebut diwaktu masa kebenaran dari langit saatnya tiba dengan tidak diketahui pasti diterka dalam analisa potensi kedudukan manusia yang nantinya akan turun sekehendak Ilahi, maka hampir segala kepicikan tersebut mulai terkuak mengambang misteri kerahasiaannya yang hanya dipendam sepengetahuan secara sepihak oleh yang bersangkutan sebagai pelakunya.
Manusia memeluk agama sesungguhnya dengan memetik buah sudut pandang tujuan asasinya ialah menjadikan sifat yang bersatu dengan bahan utama yakni jiwa, dengan terselubungi oleh kekuatan suci yang jauh lebih mulia ketinggian akan hal kebenaran sejati yang tidak lepas diterapkan kedalam alam kebiasaan kehidupan proses setiap hari dari sekumpulan umat atau sebelum dirinya masih berwatakkan hati yang tidak ber-Tuhan atau tidak mengenal kalau ternyata ada kuasa diatas segala yang berkuasa yang berdiam diri singgah duduk didunia bayangan yang tak nampak terhadap para penghuni yang hanya menempati sesaat permukaan bumi dibawahnya.
Ada seorang bijak berkata kepadaku dalam tema bertukar pandang mata pikiran untuk menggapai suatu keabadian jiwa yang terus hidup, yakni "aku lebih baik memilih tubuh ku mati karena dibunuh oleh orang yang terseliputi kebenciannya yang ia curahkan kepadaku, daripada kelak lambat-laun jiwaku mati oleh karena perasaan dendam kesumat yang kian terus terpendam dibaluti oleh emosi kebencianku yang berakhir nanti kesialan amat sia-sia".
Tulisan ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar