Akhirnya buku pengisi kesenanganku telah tertutup.
Mataku tak dapat berpaling akan kenangan kelamnya
penjaga tidurku.
Si putih mendampingiku selama 5 tahun, si hitam
menghiburku hanya kurun waktu 1,5 tahun saja.
Si putih kuambil dari kerabat temanku yang mau
menukarkannya dengan harga 10.000 rupiah.
Ia terkadang bersamaku disaat terjaga dalam mimpi yang
tak kunjung datang.
Dari dliko, kota kayu jati, Kembali ke pangkuan tanah
kelahiran kotanya.
Tatkala menyepi ia menghampiri yang mencoba
menggirangkan mataku melalui kibasan ekor dan senyum ramah dibulu wajahnya.
Kutinggal pamit sejenak dari tempat singgahku,
sekembalinya ia menyambut kekangenan ria bagaikan bertahun-tahun tak pernah
membelai lembut bulunya.
Sang domba berkandang ketika masa kebebasan telah
berakhir, sang putih terbebas dari belenggu masa pembatas keinginan gerak
nalurinya.
Mata menyorot tajam terperanjat menerima sinyal
gelombang langka suara.
Aungan dari geraman terkadang menebarkan kemistisan
suara pencipta aroma bulu kuduk merinding menyikapi lewatnya kedatangan roh
halus diluar undangan.
Kuajak ia mengitari hamparan ladang hijau yang menari
diujung batang tipis meramahi keanggunan fajar yang membiasi kelopak bijinya.
Kau tenang sedingin patung hidup yang menghembuskan
nafas disaat tubuhmu dibersihkan dari makhluk kecil penghisap darah.
Tubuhnya lemas memelas atas ketidakacuhanku terhadap
perhatian belas kasihnya.
Tiada hari dilewati tanpa dijejali siksaan gemas dan
emosi yang mengompori.
Si hitam bermoncong mulut pinokio, nyaring bersuara
menanggapi usikan keperabaan.
Sorotan mata tajam, keusilan memangsa apa yang
memenuhi hasrat laparnya.
Kaki Panjang penyaing kuda, memamerkan ke alam sejenis
rumpunnya akan badaniah pemilikan dia.
Terkadang si hitam membaring raganya dibawah teriknya mentari
pelepas kedemamannya.
Ribuan bahkan jutaan makhluk terkecil menghisap sari
pati kekebalan mereka
Akhir yang tak dikehendaki nun tiba selepas makhluk
ganas telah merenggut nyawa mereka berdua.
Satu berganti satu berhilir mengikuti meninggalkan
dunia serta orang yang mengasihinya.
Kakak dan ibuku tak sanggup mempertahankan
keteguhannya, air mata pun mengalir dari pagi hingga malamnya.
Mengenang jasa mereka yang tak kunjung padam menjaga
raga dan seisi rumah serta menceriakan hati yang sedang luluh dengan
kegirangannya.
Maafkan aku yang saat kau tertanam melebur bersama
tanah, tak setetes pun kurintikkan air mata, kesedihanku tetap sedih namun tak
mendalam hingga menerjunkan kelenjar dari kelopak mataku.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar