Kamis, 16 Maret 2023

ANJINGKU

 

Akhirnya buku pengisi kesenanganku telah tertutup.

Mataku tak dapat berpaling akan kenangan kelamnya penjaga tidurku.

Si putih mendampingiku selama 5 tahun, si hitam menghiburku hanya kurun waktu 1,5 tahun saja.

Si putih kuambil dari kerabat temanku yang mau menukarkannya dengan harga 10.000 rupiah.

Ia terkadang bersamaku disaat terjaga dalam mimpi yang tak kunjung datang.

Dari dliko, kota kayu jati, Kembali ke pangkuan tanah kelahiran kotanya.

Tatkala menyepi ia menghampiri yang mencoba menggirangkan mataku melalui kibasan ekor dan senyum ramah dibulu wajahnya.

Kutinggal pamit sejenak dari tempat singgahku, sekembalinya ia menyambut kekangenan ria bagaikan bertahun-tahun tak pernah membelai lembut bulunya.

Sang domba berkandang ketika masa kebebasan telah berakhir, sang putih terbebas dari belenggu masa pembatas keinginan gerak nalurinya.

Mata menyorot tajam terperanjat menerima sinyal gelombang langka suara.

Aungan dari geraman terkadang menebarkan kemistisan suara pencipta aroma bulu kuduk merinding menyikapi lewatnya kedatangan roh halus diluar undangan.

Kuajak ia mengitari hamparan ladang hijau yang menari diujung batang tipis meramahi keanggunan fajar yang membiasi kelopak bijinya.

Kau tenang sedingin patung hidup yang menghembuskan nafas disaat tubuhmu dibersihkan dari makhluk kecil penghisap darah.

Tubuhnya lemas memelas atas ketidakacuhanku terhadap perhatian belas kasihnya.

Tiada hari dilewati tanpa dijejali siksaan gemas dan emosi yang mengompori.

Si hitam bermoncong mulut pinokio, nyaring bersuara menanggapi usikan keperabaan.

Sorotan mata tajam, keusilan memangsa apa yang memenuhi hasrat laparnya.

Kaki Panjang penyaing kuda, memamerkan ke alam sejenis rumpunnya akan badaniah pemilikan dia.

Terkadang si hitam membaring raganya dibawah teriknya mentari pelepas kedemamannya.

Ribuan bahkan jutaan makhluk terkecil menghisap sari pati kekebalan mereka

Akhir yang tak dikehendaki nun tiba selepas makhluk ganas telah merenggut nyawa mereka berdua.

Satu berganti satu berhilir mengikuti meninggalkan dunia serta orang yang mengasihinya.

Kakak dan ibuku tak sanggup mempertahankan keteguhannya, air mata pun mengalir dari pagi hingga malamnya.

Mengenang jasa mereka yang tak kunjung padam menjaga raga dan seisi rumah serta menceriakan hati yang sedang luluh dengan kegirangannya.

Maafkan aku yang saat kau tertanam melebur bersama tanah, tak setetes pun kurintikkan air mata, kesedihanku tetap sedih namun tak mendalam hingga menerjunkan kelenjar dari kelopak mataku.

 

  

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...