Hati Nurani sebatas lereng bukit, kebengisan setinggi
gunung akhir pembatas titik daratan pendekat hubungan dengan atap langit.
Akal sehat sedangkal penglihatan mata dari pandangan
mata diatas permukaan laut, kebiadaban lebih mendalam sehingga berwarna hitam
pekat perinding tubuh untuk menyelaminya.
Cinta kasih berkulit perasaan tinggal kenangan, rusak
tergores yang memancurkan darah hasil pergolakan kebencian.
Mata berbinar-binar kian tenggelam oleh kedinginan
pandangan yang tak lagi sehat.
Kasihilah apa yang mengasihimu dan bencilah apa yang
telah menyakitimu merupakan keseharian, nan apakah menyayangi musuh semakin
tercampakkan.
Menggeluti yang tak di inginkannya berlumuran darah,
nun tak sampai tuntas disana, justru malah memperburuk keadaan yang semula
sudah buruk.
Tersandung batu penghalang jalan ditendangnya
keras-keras dari dirinya bergelayutan merintih luka.
Terjerembab dilumpur kekerasan, jika meronta-ronta
emosi tanpa akal panjang semakin dihisapnya.
Maksudku begini maksudmu dibelakangku yang berlawanan,
suatu menyingsing pagi maksudku bertekuk lutut dihadapan maksudmu yang sungguh
mulia.
Sebatas sepele kesakitanku ditanggapi kobaran amarah
berpuluh-puluh kali lipat demi pembalasan kepada yang lain.
Apa artinya bersimbah darah itu, darah terus
bercucuran tak hentinya yang lambat laun dipenghujung ia akan mati kehabisan.
Keringat memikul salibmu sungguh berharga, menyematkan
didadaku medali sorga tiada tara.
Khasiatku melumpuhkan syaraf otak, khasiatmu penerang
pikiran yang bertambah tegar dan segar.
Bayang-bayang teringat selalu ketidakmauanku untuk
menginjak-injaknya.
Semenjak ambisi pelaksana ketidakmauanku yang
tercipta, Tuhan mulai menangis akan keberingasanku meski hanya berwujud
bayangan bahkan berlanjut berulang-ulang kali.
Penampik hasrat gejolak darah yang semakin panas,
kuharapkan datangnya angin surgawi penenang darah kotorku agar kelak menjadi
jernih Kembali.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar