Kalau engkau mencari, apa yang dicari.
Sayup sayu menjelajahi ombak yang terhempas dikarang.
Kuatkah dirimu setegak batu karang meski gelombang
besar menerpamu.
Berlari mencari keteduhan sejenak dibawah kerindangan
pepohonan.
Rinduku membumbung tinggi ke langit yang tak kunjung
tercapai.
Cangkir penampung air kehidupan tumpah memecah cangkir
pewadah.
Memainkan gitar tak berkeluarga lengkap apakah
bergeming terdengar oleh gendang angkasa.
Menyaksikan luapan asap dupa berangsur-angsur
menghilang melebur dengan sang awan kelabu.
Melihat dikau terbaring lesu diatas ujung kenistaan
perih hidup.
Penjaga pintu roh jiwa tak sanggup menahan keutuhan
gerbang kerajaan jiwa dari serangan barbar.
Menenun pakaian terkoyak dengan benang kusut dipakainya
kembali koyak.
Merebah tubuh dirumah gubuk berbantal tumpukan padi
penenang yang bukan hanya pengenyang rasa lapar.
Istana masa depan makin jauh ditempuh, penjara
belenggu bahagia hidup tidaklah kenangan yang terulang di ingatan yang enggan
dicemarinya.
Menari dalam lengangnya halaman luas, tak peduli tiada
penonton, yang penting dirikulah yang aktif.
Bersendi pada tembok pemisah isolasi satuan masyarakat.
Menunjuk telunjuk jari semenjak petang tiba menanti
kelahiran bintang-bintang gemerlap yang ditelan sang paduka matahari.
Menunggu bersambi tidur tak terjaga mimpi telah
mewujudkan impian.
Menutup celah hati yang berlubang dengan melupakan
kekelaman masa lalu biar tak bangkit lagi.
Meterai jiwa terbuka, si segel tak sanggup menyimpan
kerahasiaan sang mistikus yang hanya diketahui diri sendiri.
Membekap dikejauhan harapan yang tidak mungkin,
bukankah didekatmu yang engkau peluk dahulu.
Terbang melintasi terhindar dari segala rintangan
darat manakala siapkah sayap-sayapmu dikibaskan.
Janganlah engkau cabut akar jiwamu dari kesuburan
tanah yang telah menumbuhkanmu hingga berbuah.
Dikau bukanlah selembar layang-layang tipis yang
mengambang diatas awan mengikuti arah mata angin.
Kau adalah pemegang benang tali yang menetapkan
keselamatan jalur layang-layang dirimu.
Sepucuk surat tak terobek tak akan tahu isi makna
didalamnya agar tahu pesan petunjuk dari yang berasal.
Surat terkirim jika dihiasi label perangko, pesan
jiwamu tertuju diatas sana haruslah berlabel kebulatan hati.
Beban dipikul angkat meronta-ronta akan beratnya.
Beban didorong akal badaniah bernafas lega.
Kantong kosong hampa harta, perjalanan terhambat tanpa
bertumpang pada kendaraan yang membawa diri jauh bermil-mil ke tanah impian.
Karcis didapat, benda bermesin tak kunjung tiba, bersabarlah
menunggu dipinggiran angkutan.
Berjalan bertumpu kaki dengan kemegahan tabah diri
dapat mengarungi ribuan rumah terlewati.
Tinta dipena berawal tebal Ketika menulis, beranjak
menipis diujung pemenuh lembaran putih yang kosong.
Hematkan keringat didalam tubuhmu agar kelak dapat
digunakan menjelang musin panen pemungut angan telah tiba.
Mengaduk adonan benci dan rindu tidaklah membuahkan
rasa sedap, ia tetap mempertahankan posisi sebagai air dengan minyak.
Mencumbu apa pipi tak disukai tentu memahitkan bibir
merah yang sudah manis.
Malamnya siang, siangnya malam layaknya kemelut
kehidupan kita menaungi pancaroba nasib yang tak menentu.
Engkau bangunkan diri dari kelelapan pelupa detik
waktu, manakah yang kau sambut dari fajar menuju petang ataukah terbenam menuju
terbitnya fajar.
Kayu ditebas diukir, menopang gemuruh laga dimedan
perang, berlawanan kepada wujud impian simbol niscaya sang kayu.
Kayu dibelah menjadi sepotong-potong bongkahan,
ditumpuk bersatu nun api melahap tubuhnya yang menyalakan suatu cahaya penerang
unggun untuk dikitari, menyanyi, dan menari.
Ah alangkah riangnya datangnya harapan dari sebongkah
besar cahaya penghangat badan pelindung liarnya hawa beku.
Bersemi pada dahan kuat dengan ranting-ranting cabang
jiwa agar tak gugur saat musim kering tiba yang melayukannya.
Kosong dan hampa seringkali berarti sama namun
kadangkala berlainan makna.
Bersorak diangkasa hampa udara takkan mampu
menembusnya apalagi menimbulkan sedikit suara, namun bersorak dirumah kosong
yang melompong menghasilkan gema raksasa pengulang beberapa patah kata semburan
yang diucapkan.
Berempati terhadap mekar bunga tak mengandalkan hati
yang bernurani, takkan sanggup menyingkap daya estetika yang terkandung didalam
laju selama prosesnya.
Pulanglah ke rumah wahai hati dan cintaku, semoga
mimpimu indah dan lukamu terobati.
Janganlah menengok ke belakang rintihan dosa dalam
perjalanan masa lampaumu.
Janganlah dengarkan tangisan maut penjerat ketenangan
jiwa yang engkau kucurkan didahulu kala.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar