Bersamaku engkau melangkah, bersamamu aku berjalan.
Menggenggam tangan tak terlepas dari eratannya.
Berkelana kita menyusuri embunnya pagi dan endapnya
malam.
Mengangkat keruncingan jari telunjuk ke wajahmu
setajam ujung stalagmit menetes dingin meriang pandangan.
Membuntuti jejak tapak kaki lenyap dimakan tuanya
waktu.
Wanita gemulai memancar kecantikan, ingin menyudahi
kilauannya dengan menyunting bibir maluku.
Anak kecil membawakanku seuntai gitar, biar kupetikkan
daun telinganya, agar membuang keusikan yang ia pendam didasar kelana.
Melambaikan tangan menghadap sobatku dibalas sambutan
ketulusan yang jauh dipisah oleh nasib memperdalam rasa ingin kekangenan.
Lambaian tangan dikibarkan yang tak hanya kosong
sepasang tangan melambai diluar, namun didalamnya akan menyerap energi cinta
yang dibagi bersama bukan tetap untuk dimiliki sendiri.
Menuntun aku mendekat bait rumah jiwamu demi
mengulurkan salam sebagai simbol jabatan pembentuk jembatan yang kian kukuh
untuk diseberangi.
Sumpah janji engkau sahkan agar tempo sedemikian panjang
dan jarak yang terlampau jauh tak merenggut kealpaan era ke-emasan kita bersama.
Bertepatan waktu mendendangkan lidah menyahut kata,
dan saling mengandaskan gejolak bathin untuk
saling mengerti.
Mengisi kasih yang belum menikmati dan lahir menangisi
paket hati yang terselip debu tebal.
Menepuk bahu seraya membusungkan ketegaran sukma dada,
melambangkan relasi dua dunia jiwa yang mendambakan aliran air segar mengalir
dari sungai keakraban.
Bertalian ruang tunggu mengaktifkan kekakuan badan
yang tak pernah dikau rabah dalam pelukan persahabatan.
Kurindu gurauan diselingi luapan kegembiraan dihari
bertepuk sapa pengisi kehampaan ruang bathinku dan membangun sekembalinya
ketergusuranku yang menepi sang diri menyendiri oleh badai kemurungan hati.
Dan tak kusanggup merenung arti kesenyapan penghapus
senyuman candaku.
Kau dan aku tak sendirian hai sesamaku, maukah kau
berdiri mencandra dialas jiwaku, jugalah maukah aku menyekap kegelapan dirimu
berhiaskan bukan terang melainkan remang-remang.
Kau berpijak kutumpangi telapak kaki sanubariku supaya
langkahmu tak cepat kalut berlari dikejauhan dini.
Bidiklah aku menjadi titik pusat perhatianmu, busurlah
punggungku agar menoleh siapa yang memanahiku.
Tidurlah yang kukasihi, tetaplah pada keyakinan kita
karena mentari sudah terbaring diatas kasur penadah kepulasannya.
Puaskanlah mimpi cerahmu dibawah kegemerlapan bintang
pembawa berkah yang berkemilauan akan kasih persaudaraan kita dijaga agar tetap
kekal selamanya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar