Kamis, 16 Maret 2023

KEBERSAMAAN

 

Bersamaku engkau melangkah, bersamamu aku berjalan.

Menggenggam tangan tak terlepas dari eratannya.

Berkelana kita menyusuri embunnya pagi dan endapnya malam.

Mengangkat keruncingan jari telunjuk ke wajahmu setajam ujung stalagmit menetes dingin meriang pandangan.

Membuntuti jejak tapak kaki lenyap dimakan tuanya waktu.

Wanita gemulai memancar kecantikan, ingin menyudahi kilauannya dengan menyunting bibir maluku.

Anak kecil membawakanku seuntai gitar, biar kupetikkan daun telinganya, agar membuang keusikan yang ia pendam didasar kelana.

Melambaikan tangan menghadap sobatku dibalas sambutan ketulusan yang jauh dipisah oleh nasib memperdalam rasa ingin kekangenan.

Lambaian tangan dikibarkan yang tak hanya kosong sepasang tangan melambai diluar, namun didalamnya akan menyerap energi cinta yang dibagi bersama bukan tetap untuk dimiliki sendiri.

Menuntun aku mendekat bait rumah jiwamu demi mengulurkan salam sebagai simbol jabatan pembentuk jembatan yang kian kukuh untuk diseberangi.

Sumpah janji engkau sahkan agar tempo sedemikian panjang dan jarak yang terlampau jauh tak merenggut kealpaan era ke-emasan kita bersama.

Bertepatan waktu mendendangkan lidah menyahut kata, dan saling mengandaskan gejolak bathin untuk  saling mengerti.

Mengisi kasih yang belum menikmati dan lahir menangisi paket hati yang terselip debu tebal.

Menepuk bahu seraya membusungkan ketegaran sukma dada, melambangkan relasi dua dunia jiwa yang mendambakan aliran air segar mengalir dari sungai keakraban.

Bertalian ruang tunggu mengaktifkan kekakuan badan yang tak pernah dikau rabah dalam pelukan persahabatan.

Kurindu gurauan diselingi luapan kegembiraan dihari bertepuk sapa pengisi kehampaan ruang bathinku dan membangun sekembalinya ketergusuranku yang menepi sang diri menyendiri oleh badai kemurungan hati.

Dan tak kusanggup merenung arti kesenyapan penghapus senyuman candaku.

Kau dan aku tak sendirian hai sesamaku, maukah kau berdiri mencandra dialas jiwaku, jugalah maukah aku menyekap kegelapan dirimu berhiaskan bukan terang melainkan remang-remang.

Kau berpijak kutumpangi telapak kaki sanubariku supaya langkahmu tak cepat kalut berlari dikejauhan dini.

Bidiklah aku menjadi titik pusat perhatianmu, busurlah punggungku agar menoleh siapa yang memanahiku.

Tidurlah yang kukasihi, tetaplah pada keyakinan kita karena mentari sudah terbaring diatas kasur penadah kepulasannya.

Puaskanlah mimpi cerahmu dibawah kegemerlapan bintang pembawa berkah yang berkemilauan akan kasih persaudaraan kita dijaga agar tetap kekal selamanya.

 

  

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...