Bermegah dikursi singgasana menyaksikan ribuan ubun
kepala tunduk bersujud dihadapannya.
Setiap kata dicibirkan adalah mutlak yang tak perlu
lagi dikoreksi dalam artikulasi lidah penguasa.
Sebelum menggapai tampuk puncak sekejap mengatur
segenap nusantara dan penjuru negeri, segala formula strategi diasah sedemikian
matang, tak peduli tajamnya mematikan bagi yang menghalangi.
Humanisme mengekspresi hancurnya kebebasan dan
nilai-nilai kemanusiaan bila satu orang bermegah diri yang melambangkan ia
adalah negara.
Namun si humanis ialah kumpulan pilih kasih yang tak
melihat batas lebih mendalam atau sebelumnya dari apa kondisi yang
diperhadapkan oleh penguasa dalam mengetokkan palu belitan pergumulan negeri
yang multi kompleks diatas meja keputusan bulat.
Humanis hanya bermata satu dan satunya buta karena
iritasi dari infeksi hipotesa teorinya menanahkan kenanaran bola mata yang
obyektif.
Nan terkadang keduanya merupakan kelompok yang pikun
dan tak mau tahu akan makna gubrisan dari yang lain, sebab prinsip yang
dipegang teguh.
Layaknya orang tetap berjalan kencang dan tenang
padahal didepannya adalah jurang curam yang pada sebelumnya telah diberitahu.
Merefleksikan diri hubungan interaksi penguasa dengan
humanis yang berdimensi dua alam pikir, untuk berjalan bersama menyeberangi
jembatan resesi hidup bernegara.
Alangkah baiknya jika mengkokohkan konsep keilahian
akan kebenaran yang tunggal bagi semua.
Sang naga hidup dikedalaman gua menanti-nanti hari
kebebasan mengarungi dunia dibawah kepakan sayap raksasa.
Membudak manusia terhadap ilusi dongeng pemikatnya.
Semburan api dari dua celah hidung naga diwakili oleh
hembusan nafas bibir sang tiran untuk membakar dan menghanguskan ribuan bahkan
jutaan pelaku yang bernada sumbang masuk dan meretakkan gendang telinganya atas
kekritisan kebiadaban terhadap apa yang dihembuskan.
Menginjak nilai-nilai norma peradaban dan
kelemahlembutan bagi mereka segenap bangsa yang menjunjung tinggi arti cinta
kasih sayang.
Yang semi masih mendingan karena rasa kemanusiaan ada
yang terselip direlung hatinya, namun ketotaliteran bagai makhluk yang telah
membuang jati diri sebagai makhluk berperasaan.
Totaliter dihuni segelintir debu kotor yang
menyesakkan kesegaran paru-paru kehidupan yang menghirupnya.
Tak peduli seberapa jauh dan banyak yang terkapar mati
ke liang lahat dan merintih kepedihan akan luka bathin dan rasa lapar kebutuhan
raga.
Yang penting kenikmatan dunia dagingnyalah yang
terpuaskan sebagai simbol kenaasan yang teramat pilu bagi baginda hati nurani.
Nafsu berlogo ambisi telah menebar racun dari sumber
wabahnya dan menjangkiti akal budi pekerti yang berawal mengidap penyakit
kronisnya yang kemudian berakhir dengan kematian yang menyakitkan.
Bangunan suci dirobohkan dengan tebasan layangan
tangan mengepal kuat oleh otot si tiran yang mengencangkan urat nadi penyalur
darah ambisi besar tiada kentara untuk berkuasa dengan segala cara yang lalim.
Kuakui bahwasanya rakyat lemah dan pasrah yang tak
berdaya jantung hatinya diremas oleh cengkeraman jari-jari dari paduka naga
tiran.
Menghuni didalam karung kegelapan yang kosong dan tak
bermakna bagi hidupnya.
Dihantui oleh bayang-bayang kedatangan serigala buas
yang akan menerkam, memakan, dan mencabik-cabik tubuh bait keagungan sanubari.
Mengandalkan doa agar jiwa setelah ditikam dan dibunuh
akan diterima dan dihibur disisi Tuhan kepada keperihan kebahagiaan hidup yang
dirampas dan diludahi oleh kerajaan yang sementara.
Setitik butiran manusia yang menyemut sudah lupa bahwa
diatasnya ada raja diatas segala raja yang selalu mengawasi segala tindak
tanduk ciptaan tertingginya itu.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar