Kamis, 16 Maret 2023

DIKTATOR

 

Bermegah dikursi singgasana menyaksikan ribuan ubun kepala tunduk bersujud dihadapannya.

Setiap kata dicibirkan adalah mutlak yang tak perlu lagi dikoreksi dalam artikulasi lidah penguasa.

Sebelum menggapai tampuk puncak sekejap mengatur segenap nusantara dan penjuru negeri, segala formula strategi diasah sedemikian matang, tak peduli tajamnya mematikan bagi yang menghalangi.

Humanisme mengekspresi hancurnya kebebasan dan nilai-nilai kemanusiaan bila satu orang bermegah diri yang melambangkan ia adalah negara.

Namun si humanis ialah kumpulan pilih kasih yang tak melihat batas lebih mendalam atau sebelumnya dari apa kondisi yang diperhadapkan oleh penguasa dalam mengetokkan palu belitan pergumulan negeri yang multi kompleks diatas meja keputusan bulat.

Humanis hanya bermata satu dan satunya buta karena iritasi dari infeksi hipotesa teorinya menanahkan kenanaran bola mata yang obyektif.

Nan terkadang keduanya merupakan kelompok yang pikun dan tak mau tahu akan makna gubrisan dari yang lain, sebab prinsip yang dipegang teguh.

Layaknya orang tetap berjalan kencang dan tenang padahal didepannya adalah jurang curam yang pada sebelumnya telah diberitahu.

Merefleksikan diri hubungan interaksi penguasa dengan humanis yang berdimensi dua alam pikir, untuk berjalan bersama menyeberangi jembatan resesi hidup bernegara.

Alangkah baiknya jika mengkokohkan konsep keilahian akan kebenaran yang tunggal bagi semua.

Sang naga hidup dikedalaman gua menanti-nanti hari kebebasan mengarungi dunia dibawah kepakan sayap raksasa.

Membudak manusia terhadap ilusi dongeng pemikatnya.

Semburan api dari dua celah hidung naga diwakili oleh hembusan nafas bibir sang tiran untuk membakar dan menghanguskan ribuan bahkan jutaan pelaku yang bernada sumbang masuk dan meretakkan gendang telinganya atas kekritisan kebiadaban terhadap apa yang dihembuskan.

Menginjak nilai-nilai norma peradaban dan kelemahlembutan bagi mereka segenap bangsa yang menjunjung tinggi arti cinta kasih sayang.

Yang semi masih mendingan karena rasa kemanusiaan ada yang terselip direlung hatinya, namun ketotaliteran bagai makhluk yang telah membuang jati diri sebagai makhluk berperasaan.

Totaliter dihuni segelintir debu kotor yang menyesakkan kesegaran paru-paru kehidupan yang menghirupnya.

Tak peduli seberapa jauh dan banyak yang terkapar mati ke liang lahat dan merintih kepedihan akan luka bathin dan rasa lapar kebutuhan raga.

Yang penting kenikmatan dunia dagingnyalah yang terpuaskan sebagai simbol kenaasan yang teramat pilu bagi baginda hati nurani.

Nafsu berlogo ambisi telah menebar racun dari sumber wabahnya dan menjangkiti akal budi pekerti yang berawal mengidap penyakit kronisnya yang kemudian berakhir dengan kematian yang menyakitkan.

Bangunan suci dirobohkan dengan tebasan layangan tangan mengepal kuat oleh otot si tiran yang mengencangkan urat nadi penyalur darah ambisi besar tiada kentara untuk berkuasa dengan segala cara yang lalim.

Kuakui bahwasanya rakyat lemah dan pasrah yang tak berdaya jantung hatinya diremas oleh cengkeraman jari-jari dari paduka naga tiran.

Menghuni didalam karung kegelapan yang kosong dan tak bermakna bagi hidupnya.

Dihantui oleh bayang-bayang kedatangan serigala buas yang akan menerkam, memakan, dan mencabik-cabik tubuh bait keagungan sanubari.

Mengandalkan doa agar jiwa setelah ditikam dan dibunuh akan diterima dan dihibur disisi Tuhan kepada keperihan kebahagiaan hidup yang dirampas dan diludahi oleh kerajaan yang sementara.

Setitik butiran manusia yang menyemut sudah lupa bahwa diatasnya ada raja diatas segala raja yang selalu mengawasi segala tindak tanduk ciptaan tertingginya itu.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...