Ah sudah sekian kalinya diriku tak tahu mengapa
menjadi seperti ini adanya.
Kepahitan yang sudah kuteguk dimasa silam tak juga
mengubah cara berpikirku.
Ketika musibah tiba, baru lahir rasa penyesalan.
Aku berusaha kesana kemari karena hanya untuk
mencari-cari nilai yang setinggi-tingginya atau cukupan, namun tak ada niat
sebegitu besar untuk membekalinya.
Kupikul beban yang berat karena kecerobohanku
meremehkan pentingnya waktu yang menentukan dimasa depan.
Urgensi jalan hidupku sering terbengkalai, bagaimana
urgensi milik orang lain yang perlu kujamah yang bagaimanapun juga ia masih
tetap membutuhkan uluran tanganku.
Masalah datang silih berganti, tak kupetik hikmah dari
itu semua yang kumiliki.
Ingin solusi inspirasi kegalauanku, kutulis dalam
benak sukmaku agar tak terhapus oleh terjalnya waktu yang tak mau terulang kembali.
Kucoba mengisi kertas dengan penaku, mengisi jadwal
vitalnya kebutuhan hasratku.
Kertas berisi inspirasi pengingatku, kutempelkan pada
dinding kamar dan lemari pakaianku agar jelas tak kabur dari pandangan.
Menyongsong hari memikul kewajiban diri yang dibawa
kepada era pengharapan.
Bersosok tenang disaat tak mengingat bertalian yang
dikehendaki akan eksistensi iming-imingannya.
Dan berubah menjadi dasar permukaan yang bergelisah
diwaktu kedatangan ingatan akan kealpaan kebodohannya yang diseliputi banyak
endapan kotoran yang menjorokkan kesantaian bathin yang tak menggubris
keterikatan akan harapan dilain waktu.
Mari kumengikuti arus falsafah yang cukup berarti
terhadap tendensi ke-eksistensianku kini yang berbunyi “menggali lubang dan
menutup lubang dengan tanah keinginan baru yang membuang tanah gersang yang
lama”.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar