Kamis, 16 Maret 2023

PELUPA

 

Ah sudah sekian kalinya diriku tak tahu mengapa menjadi seperti ini adanya.

Kepahitan yang sudah kuteguk dimasa silam tak juga mengubah cara berpikirku.

Ketika musibah tiba, baru lahir rasa penyesalan.

Aku berusaha kesana kemari karena hanya untuk mencari-cari nilai yang setinggi-tingginya atau cukupan, namun tak ada niat sebegitu besar untuk membekalinya.

Kupikul beban yang berat karena kecerobohanku meremehkan pentingnya waktu yang menentukan dimasa depan.

Urgensi jalan hidupku sering terbengkalai, bagaimana urgensi milik orang lain yang perlu kujamah yang bagaimanapun juga ia masih tetap membutuhkan uluran tanganku.

Masalah datang silih berganti, tak kupetik hikmah dari itu semua yang kumiliki.

Ingin solusi inspirasi kegalauanku, kutulis dalam benak sukmaku agar tak terhapus oleh terjalnya waktu yang tak mau terulang kembali.

Kucoba mengisi kertas dengan penaku, mengisi jadwal vitalnya kebutuhan hasratku.

Kertas berisi inspirasi pengingatku, kutempelkan pada dinding kamar dan lemari pakaianku agar jelas tak kabur dari pandangan.

Menyongsong hari memikul kewajiban diri yang dibawa kepada era pengharapan.

Bersosok tenang disaat tak mengingat bertalian yang dikehendaki akan eksistensi iming-imingannya.

Dan berubah menjadi dasar permukaan yang bergelisah diwaktu kedatangan ingatan akan kealpaan kebodohannya yang diseliputi banyak endapan kotoran yang menjorokkan kesantaian bathin yang tak menggubris keterikatan akan harapan dilain waktu.

Mari kumengikuti arus falsafah yang cukup berarti terhadap tendensi ke-eksistensianku kini yang berbunyi “menggali lubang dan menutup lubang dengan tanah keinginan baru yang membuang tanah gersang yang lama”.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...