Kalau engkau sudah tak bernafas siapa yang akan
memedulikanmu.
Menitikkan hari terhadap keinginan yang dihasratkan
yang tak berkesudahan.
Pengharapanmu takkan kunjung tiba disepanjang masa
agar engkau dapat merasakan pahit dan manisnya hidup ini.
Hidangan tersedia dipagi yang cerah ini, ada madu
dengan susu.
Ke-esokan harinya yang tersedia hanyalah jamu pemahit
lidah dan buah-buahan yang belum masak.
Andaikan setetes air mata yang berlinang dapat
menenggelamkan prahara kehidupan yang telah merebahkan tubuh jatuh ke dalam
jurang keputusasaan.
Bagaimana bisa tahun impian dapat terhampiri jikalau
engkau habiskan didalam pelamunan cita-cita semata penghabis waktu tanpa
dijejali tangan untuk bergerak yang menguraskan keringat badan.
Didalam ruang hatimu kau anggap sudah tidak ada
apa-apa yang mau berhuni didalamnya.
Yang ada hanyalah kosong, menyongsong diri yang tak
ada kemauan untuk mengisi benih-benih semangat sukma hati.
Sahabat sejati peneman benak hati telah pergi semenjak
pukul dini hari tanpa berpamitan.
Antah berantah kapan ia mau kembali, yang berdiam
sunyi menanti akan angin harapan yang bersilir merindukan daku lagi.
Janganlah engkau mengandalkan rasa pesimismu, tidak
ada salahnya engkau angkat wajah optimis agar hidupmu lebih bergairah kembali.
Tak semata wayang dirimu yang tak berkecukupan untuk
merengkuh diawang-awang keabadian impian jiwamu yang semakin membumbung tinggi
uapannya untuk meninggalkan dikau yang beraut murung.
Nun banyaknya bintang yang kian meredup menandakan
juga melimpahnya jiwa manusia yang tak bersinar lagi oleh jubah kenistaan yang
telah mengkerudunginya.
Hasrat berlarut nestapa tak akan berlangsung selamanya.
Musim semi akan menyambutmu dan malamnya bintang jatuh
menganugerahi mimpi asalkan engkau menghargai akan hati untuk berhasrat yang
ber-Tuhan.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar