Pemilikanmu hilang tak bertuan, entah sekarang menetap
kemana.
Bereduksi sekecil saja yang engkau punya telah
merongrong gelaga emosi yang murka membalut ke-egoisannya.
Lentera api cahaya dari sebatang lilin kecil yang
menyala telah redup diterpa tiupan nafas nafsu duniawi.
Asap tipis keluar dari sumbu dan menari sedih tak
bermakna dikegelapan angkasa.
Perih menepi ditelaga, berlayar menjelajahi arum
samudera yang tak berarti.
Menjala ikan didasar permukaan membiru, tak satupun
yang tertangkap pada jaring-jaring jalanya.
Menoleh kebelakang yang tak kuasa membendung untuk
mengawasi ketat harta peninggalan yang memberi kenikmatan.
Dikau pelupuk matamu buram, yang ditatap hanyalah kota
mati yang menyimpan segudang perhiasan nista berhawa daging yang telah lenyap.
Kalut meratapi kekhawatiran sangkar dikantongnya yang
telah lenyap dijarah oleh tangan-tangan tak bernyawa.
Benda peliharaan dirawat seutuhnya untuk digembalakan
dikeesokan hari demi kebutuhan pemenuh kehidupan yang tidak pasti membesuk
diakal si rasio.
Senyap yang berhilir ke sunyi sang luruh hati yang tak
berpenghuni lagi.
Meninggalkan daku yang pilu telah jatuh sekarat oleh
guratan dosa.
Niscaya menghampiri untuk menjamah telapak tangan yang
dirundung duka karena selusin logam perak telah lepas dari genggaman yang
diterima dengan telapak keinginan ambisi besar.
Apa yang hilang bagi pemberian yang pamrih kepada yang
memerlukan, pastilah Tuhan akan membalas untuk melimpahkan kepamrihannya.
Tak usah sejauh itu, cukup dengan tak bersusah hati
terhadap kepemilikannya yang hilang entah berantah dimana, yang dirampas paksa
atau keikhalasan memberi.
Masih banyak segumpal besar harta kepemilikan dari
sabda karunianya yang terpendam didalam gua besar penyedia kebutuhan raga dan
jiwa yang berohani.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar