Tercabik membisu disinari lampu neon
Tergores hati bersenyum malam
Cerah bintang merayap dalam gelap
Menyelinap menunggu fajar datang
Berseru mati tergolek kekelaman
Tergeletak bingkai seutas buku
Sosok chairil anwar merebak bayangan mistis
Dengan sepintal gallery berhias cengkeh bakar
Hinggap dibibir serap lidah mengganyam paru
Merangkak bungkuk lutut persimpangan teka-teki
Terbelalak cermin menampak muka merah
Tak mengeri sidatang
Berbaur senyap dikabut anggun menggumpal
Sangkakala meniup amarah
Gejolak badai membahana
Lorong penghubung tak berujung dibaca kasat mata
Tercabik kepingan diri linglung
Membelut tiang garapan penancap langit
Iris ujung nasib membesut lancip
Biar tebal dinding ditembus
Angkara murka membarah tumbuh alam mayapada
Seraya bayi subur tulang berbiak
Telapak menghujam tanah menjulur dewasa
Beracu jalan mandiri melangkahi batu
Keluar dari julukan benih terbuang
Membelai intisari meninju embrio terpendam rahim
Kelopak niscaya murni bertebar berbaur udara
Merengkuh angin hempasan sisayap
Membelok tikung tiada berliku tapi
Menatap megah pasir istana
Berbaris lintang menarik bujur seimbang
Merambah tak terpri cahaya lentera terang jiwa
Mekar bunga layu nona anggrek
Tumbuh mengitari halaman bentang luas
Membias indah surya mentari sang rumah teduh
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar