Kelinci kesayanganku hilang dari kandang jeruji.
Laksana kewalahan karena lenyap salah satu makhluk
yang disayangi.
Pengganti hiburan keseharian dari kedua anjingku yang
bertemu ajal dan jasadnya kini terurai dimakan tanah
Ia kedua hewan mungil berkuping panjang yang berurat
nadi alir darah begitu transparan tampak.
Telah bebas kini meraih kemerdekaan dengan menghirup
udara segar.
Mengitari pematang sawah yang dipenuhi tanaman
kehijauan seiring kian menipisnya warna hijau karena belakangan demi hari
terlewatkan hujan turun semakin jarang.
Ibu dan abangku berusaha mengerahkan segala tenaga
bagi kenakalan kelinci yang tak mau pulang kembali ke tempat rumah semula.
Dia sebenarnya ingin dirangkul namun tak mau dijeruji
kebebasannya.
Mungkin tiap hari yang dilewati merupakan kebosanan
oleh si dia berdua yang jauh lebih banyak menghabiskan hidup dipelamunan dalam
kerangkeng pengungkung kebebasan yang didambakan.
Ibu, abangku, dan bahkan sekeluarga bersabar menanti
kapan ia mau kembali ke pangkuan istana rumahnya.
Karena pintu gerbang selalu terbuka baginya.
Semoga ia masih merindukan tanah yang tadinya ia diami
meski bukan awal alasnya ia lahir merasakan sentuhan kerak bumi.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar