Kamis, 16 Maret 2023

BEBAS

 

Kelinci kesayanganku hilang dari kandang jeruji.

Laksana kewalahan karena lenyap salah satu makhluk yang disayangi.

Pengganti hiburan keseharian dari kedua anjingku yang bertemu ajal dan jasadnya kini terurai dimakan tanah

Ia kedua hewan mungil berkuping panjang yang berurat nadi alir darah begitu transparan tampak.

Telah bebas kini meraih kemerdekaan dengan menghirup udara segar.

Mengitari pematang sawah yang dipenuhi tanaman kehijauan seiring kian menipisnya warna hijau karena belakangan demi hari terlewatkan hujan turun semakin jarang.

Ibu dan abangku berusaha mengerahkan segala tenaga bagi kenakalan kelinci yang tak mau pulang kembali ke tempat rumah semula.

Dia sebenarnya ingin dirangkul namun tak mau dijeruji kebebasannya.

Mungkin tiap hari yang dilewati merupakan kebosanan oleh si dia berdua yang jauh lebih banyak menghabiskan hidup dipelamunan dalam kerangkeng pengungkung kebebasan yang didambakan.

Ibu, abangku, dan bahkan sekeluarga bersabar menanti kapan ia mau kembali ke pangkuan istana rumahnya.

Karena pintu gerbang selalu terbuka baginya.

Semoga ia masih merindukan tanah yang tadinya ia diami meski bukan awal alasnya ia lahir merasakan sentuhan kerak bumi.

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...