Sungguh tak bercahaya saja yang keluar dari mulutmu,
hatimu juga bersinar menyinari jiwa disekitar penjuru sudut dunia meski jauh
letak pandang maupun waktu.
Rasukilah diriku dengan rohmu pengantar kekudusan.
Berkelana kesana kemari untuk saling berbagi kasih apa
yang dimiliki dalam cintanya kepada sesama.
Sampai seseorang di nun kejauhan sana menjuluki engkau
layaknya sang wakil gambaran Kristus.
Kau peluk mereka yang ditelantarkan oleh pahitnya
dunia, termasuk mereka yang bercukupan harta namun miskin kekayaan jiwa seperti
halnya daku kini.
Kusaksikan wajahmu yang tak seberapa cakap, tapi rohmu
sejernih air bening yang memantulkan kemilauan dibawah terik cahaya matahari.
Memandang gelapnya air yang membekas hanyalah
sebongkah cahaya lampu pijar yang terang benderang diantara benda lainnya.
Dindingmu kokoh tak retak diterjang liarnya gemuruh,
justru kekokohanmu mampu meredam badai pencipta nestapa manusia.
Pengorbananmu mencucurkan darah, sepercik tetes darah
menggenang membanjiri lautan yang terbentang luas.
Entah dengan apa kau cabut paku nyeri yang tertancap
dilubuk hatimu, yang ada merekatkan gospa didadamu menjadi tameng penusuk
tombak kezaliman.
Engkau suburi negerimu yang tandus dari kekolotan jiwa
berlumur darah dendam.
Tak isak mataku terperanjat melihat sosokmu yang
sanggup mengejewantahkan nubuat Tuhan akan ajaran kasih yang benar-benar
membasahi kelangsungan hidupmu.
Datanglah gelegar petir penghangus benih-benih
kebenaran.
Nyawamu tersungkur ditangan saudara kenistaan religimu
sendiri yang buta mendekap rahasia dibelakang kesalehanmu.
Tergelinang air mata negerimu yang tak kuasa
terbendung, membasuh jejak sepeninggal dirimu yang takkan berkesudahan dibenak
jiwa negeri dan segenap dunia sentosa walau termakan terjalnya waktu.
Gibran sang sastrawan dan tokoh perdamaian sejati
segenap jaman dan diriku yang biasa ini, tak sia-sia melepaskan keraguan dalam
pernyataan bahwa engkau adalah manusia terbesar yang masih hidup dan roh yang
hidup disegala jaman.
Dunia akan mengenang jasa pemberianmu, Tuhan akan juga
mengenalimu atas keceriaannya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar