Kesedihan
apakah yang menggambarkan wajah muram dan suram
Tidak dapat
menikmati indahnya kehidupan
Hanya
mengandalkan dunia fana yang di impikan
Relakah aku
menyerahkan jiwa suciku ini padanya
Kesunyian
dihati bukanlah kekosongan didalam jiwa
Pikiran tegang
dahi pun mulai mengencang
Tak dapat
kusaksikan wajahku digenangan air bak mandiku karena buramnya cahaya yang ada,
atau mataku yang buta untuk melihatnya
Kupandang
segala sesuatu yang ada dikamarku untuk menyenangkan diriku yang padam
Kucoba lari
dari kepedihan jiwa dengan menggenggam sepuntung rokok dan berusaha kukeluarkan
melalui asapnya
Gelapnya pekat
menghantui diriku dan terangnya benderang menyilaukan mataku
Aku bangga
dengan keluguan dan kepolosan yang masih tertanam di wajahku sesaat setelah
bercermin
Air mata
mengalir dipipi dan menetes terserap dibajuku yang kemudian zatnya akan hilang
setelah baju ini dicuci
Disaat
bayangan ilusi menegangkanku, aku mulai bingung bercampur linglung, kucoba
menghilangkannya dengan membenturkan kepalaku pada jubin lantai tapi nyatanya
malah bertambah parah yang tadinya hanya sakit di bathin sekarang ditambah
dengan fisik
Ilusi dan
mimpi buruk yang selalu membayangiku hanyalah omong kosong semata dan
kenyataanlah yang tampak yang akan membahagiakan hatiku
Keadaan jiwa
yang teriris tak akan lama dapat mengelabui orang lain dengan mempertahankan
kenormalan tubuhnya
Bagaimanapun
reaksi tubuh tak akan mampu berlawanan dengan kemauan jiwa karena tubuh dan
jiwa adalah satu namun jiwa tetap merupakan akar dari tubuh
Matinya tubuh
bukan berarti matinya jiwa sedang matinya jiwa ialah kematian dari
segala-galanya
Tubuh masih
dapat diganti sedang jiwa tidak dapat diganti dengan yang lain atau oleh pihak
luar mengenai karakternya, ia hanya dapat diganti oleh sipemilik jiwa itu
sendiri, apakah berganti menuju keberadaban atau malah menuju kebiadaban.
Jiwa yang
luluh tidak mampu diperbaiki hanya dengan mengandalkan kemampuan dan jalannya
sendiri yang ia miliki, ia perlu mendapat sentuhan dari sang penciptanya yang
penuh maha kasih dan maha penyayang dengan syarat, yang bersangkutan apakah mau
berusaha menjalankan amanat yag diberikan oleh sang pencipta.
Dan perlu aku
ingat bahwa kebebanan jiwa yang menuju ke maut ini yang termasuk berupa
kesedihan karena egoisku ini bukan berasal dari yang Ilahi melainkan ia berasal
dari iblis yang sangat tega melakukannya yang juga menerjang bak amukan singa,
oleh karena yang Ilahi tak mungkin kusalahkan bahkan ia pun masih mengasihi
terhadap mereka yang tidak tahu berterima kasih padanya, justru dirikulah yang
bodoh karena mau menerima bujukan makhluk yang sudah tidak memiliki kebenaran
lagi itu.
Tulisan ku pada tahun 2004
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar