Selasa, 14 Maret 2023

LULUH HATI

 

Kesedihan apakah yang menggambarkan wajah muram dan suram

Tidak dapat menikmati indahnya kehidupan

Hanya mengandalkan dunia fana yang di impikan

Relakah aku menyerahkan jiwa suciku ini padanya

Kesunyian dihati bukanlah kekosongan didalam jiwa

Pikiran tegang dahi pun mulai mengencang

Tak dapat kusaksikan wajahku digenangan air bak mandiku karena buramnya cahaya yang ada, atau mataku yang buta untuk melihatnya

Kupandang segala sesuatu yang ada dikamarku untuk menyenangkan diriku yang padam

Kucoba lari dari kepedihan jiwa dengan menggenggam sepuntung rokok dan berusaha kukeluarkan melalui asapnya

Gelapnya pekat menghantui diriku dan terangnya benderang menyilaukan mataku

Aku bangga dengan keluguan dan kepolosan yang masih tertanam di wajahku sesaat setelah bercermin

Air mata mengalir dipipi dan menetes terserap dibajuku yang kemudian zatnya akan hilang setelah baju ini dicuci

Disaat bayangan ilusi menegangkanku, aku mulai bingung bercampur linglung, kucoba menghilangkannya dengan membenturkan kepalaku pada jubin lantai tapi nyatanya malah bertambah parah yang tadinya hanya sakit di bathin sekarang ditambah dengan fisik

Ilusi dan mimpi buruk yang selalu membayangiku hanyalah omong kosong semata dan kenyataanlah yang tampak yang akan membahagiakan hatiku

Keadaan jiwa yang teriris tak akan lama dapat mengelabui orang lain dengan mempertahankan kenormalan tubuhnya

Bagaimanapun reaksi tubuh tak akan mampu berlawanan dengan kemauan jiwa karena tubuh dan jiwa adalah satu namun jiwa tetap merupakan akar dari tubuh

Matinya tubuh bukan berarti matinya jiwa sedang matinya jiwa ialah kematian dari segala-galanya

Tubuh masih dapat diganti sedang jiwa tidak dapat diganti dengan yang lain atau oleh pihak luar mengenai karakternya, ia hanya dapat diganti oleh sipemilik jiwa itu sendiri, apakah berganti menuju keberadaban atau malah menuju kebiadaban.

Jiwa yang luluh tidak mampu diperbaiki hanya dengan mengandalkan kemampuan dan jalannya sendiri yang ia miliki, ia perlu mendapat sentuhan dari sang penciptanya yang penuh maha kasih dan maha penyayang dengan syarat, yang bersangkutan apakah mau berusaha menjalankan amanat yag diberikan oleh sang pencipta.

 

Dan perlu aku ingat bahwa kebebanan jiwa yang menuju ke maut ini yang termasuk berupa kesedihan karena egoisku ini bukan berasal dari yang Ilahi melainkan ia berasal dari iblis yang sangat tega melakukannya yang juga menerjang bak amukan singa, oleh karena yang Ilahi tak mungkin kusalahkan bahkan ia pun masih mengasihi terhadap mereka yang tidak tahu berterima kasih padanya, justru dirikulah yang bodoh karena mau menerima bujukan makhluk yang sudah tidak memiliki kebenaran lagi itu.


Tulisan ku pada tahun 2004

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...