Rabu, 15 Maret 2023

NOMADENKU

  

Kunci kuambil yang menjalankan kendaraan.

Putaran roda ribuan kali sampai ditempat kehendakku.

Kulalui benda berjiwa dan tak berjiwa.

Benda hidup melayangkan tatapan padaku, ada juga ke arah yang lain seiring menuruti keinginannya.

Turun dari tumpanganku dan berkumpul bersama yang mengenaliku.

Banyak yang acuh tak acuh disekitarku.

Jiwaku merana menyaksikan jiwa mereka.

Canda tawa yang melampaui batas sering mengoyak kebhatinanku yang polos ini.

Kucoba alihkan pandangku pada angin penggerak daun pepohonan.

Sesekali kumakan ia melalui hidung untuk menenangkan kegalauanku.

Aku tidak ingin mematuhi ucapan yang keluar dari pikiran mereka

Kupegang masa bodohku untuk melampiaskan canda tawa, meskipun tak bergeming ditelinga mereka.

Jauh lebih baik menghisap asap puntung bagi mulutku daripada makian dan nada senonoh dari mulut mereka.

Pakai isap puntung tak selalu disesuaikan dengan kebanyakan pegangan puntung milik mereka karena gengsi dan popularitasnya.

Selera puntung yang kubawa tidaklah harus disamakan nilainya dengan kendaraan yang kugunakan beserta rumah yang kutinggali.

Harga tinggi puntung tak selalu membawa kenikmatan, harga rendah puntung tak harus menghasilkan kepahitan, tergantung sejauh mana rasa asapnya memuaskan tubuh dan ragaku.

Bentuk diriku bukan bentuk diri mereka yang gemar mencibirkan pemikiran kebirahian.

Pikiran mereka banyak dongkolnya dan tak berpikir jauh, sering menghujat dengan makian seringnya pada yang lebih tua dan berkuasa tanpa bercermin untuk sedikit melihat wujud dirinya.

Mataku menerawang jauh, mata mereka dibatasi oleh silauan yang hanya meletakkan diri dengan ikatan sesama dekatnya yang hanya ikut-ikutan.

Kesunyian dalam menyendiri dari keramaian kerabat tidaklah menyulut kebencianku pada bersosialisasi, melainkan menyempatkan jiwa untuk menggapai ketenangan.

Walau diriku agak condong anti sosial, tapi bukan berarti diriku tidak membutuhkan mereka, cukup dua, tiga, atau maksimal lima orang yang cocok dengan diriku yang akan selalu menghibur dan menolongku dari dalam jangkitan tekanan jiwa.

Aku tahu ini salah akan tetapi memang lebih baik bagi kenyamanan bathinku daripada terbiasa bertemu yang tidak sesuai yang mendorong sakit hati dan dendam, sebab diriku tak ingin merusaki hatiku yang masih putih ini dengan dicemari dendam dari diriku sendiri atau juga konsep negatif dari luar.

Tuhan tidak meminta muluk-muluk dariku, cukup aku menjadi manusia berkepribadian normal dan yang biasa saja itu sudah syukur bagiku.

 

  

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...