Kunci kuambil yang menjalankan kendaraan.
Putaran roda ribuan kali sampai ditempat kehendakku.
Kulalui benda berjiwa dan tak berjiwa.
Benda hidup melayangkan tatapan padaku, ada juga ke
arah yang lain seiring menuruti keinginannya.
Turun dari tumpanganku dan berkumpul bersama yang
mengenaliku.
Banyak yang acuh tak acuh disekitarku.
Jiwaku merana menyaksikan jiwa mereka.
Canda tawa yang melampaui batas sering mengoyak
kebhatinanku yang polos ini.
Kucoba alihkan pandangku pada angin penggerak daun
pepohonan.
Sesekali kumakan ia melalui hidung untuk menenangkan
kegalauanku.
Aku tidak ingin mematuhi ucapan yang keluar dari
pikiran mereka
Kupegang masa bodohku untuk melampiaskan canda tawa,
meskipun tak bergeming ditelinga mereka.
Jauh lebih baik menghisap asap puntung bagi mulutku
daripada makian dan nada senonoh dari mulut mereka.
Pakai isap puntung tak selalu disesuaikan dengan
kebanyakan pegangan puntung milik mereka karena gengsi dan popularitasnya.
Selera puntung yang kubawa tidaklah harus disamakan
nilainya dengan kendaraan yang kugunakan beserta rumah yang kutinggali.
Harga tinggi puntung tak selalu membawa kenikmatan,
harga rendah puntung tak harus menghasilkan kepahitan, tergantung sejauh mana
rasa asapnya memuaskan tubuh dan ragaku.
Bentuk diriku bukan bentuk diri mereka yang gemar
mencibirkan pemikiran kebirahian.
Pikiran mereka banyak dongkolnya dan tak berpikir
jauh, sering menghujat dengan makian seringnya pada yang lebih tua dan berkuasa
tanpa bercermin untuk sedikit melihat wujud dirinya.
Mataku menerawang jauh, mata mereka dibatasi oleh
silauan yang hanya meletakkan diri dengan ikatan sesama dekatnya yang hanya
ikut-ikutan.
Kesunyian dalam menyendiri dari keramaian kerabat
tidaklah menyulut kebencianku pada bersosialisasi, melainkan menyempatkan jiwa
untuk menggapai ketenangan.
Walau diriku agak condong anti sosial, tapi bukan
berarti diriku tidak membutuhkan mereka, cukup dua, tiga, atau maksimal lima
orang yang cocok dengan diriku yang akan selalu menghibur dan menolongku dari
dalam jangkitan tekanan jiwa.
Aku tahu ini salah akan tetapi memang lebih baik bagi
kenyamanan bathinku daripada terbiasa bertemu yang tidak sesuai yang mendorong
sakit hati dan dendam, sebab diriku tak ingin merusaki hatiku yang masih putih
ini dengan dicemari dendam dari diriku sendiri atau juga konsep negatif dari
luar.
Tuhan tidak meminta muluk-muluk dariku, cukup aku
menjadi manusia berkepribadian normal dan yang biasa saja itu sudah syukur
bagiku.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar