Begitu berat beban dipikul
Jiwa retak siap jadi korban
Meski dosa setitik pun tidak membekas di jiwa
Sungguh riskan tersiksa tangan rendahan
Nada cemoohan menggurat bathin
Menerima hukuman semu dari bersalah
Dikau suci menerima hinaan
Bagaimana bisa anak segala kuasa
Mau merendahkan diri kepada bawahan ciptaannya
Menyiapkan hati menguat melampaui tingginya langit
Menatap burung dara terbang rintihan duka
Cambuk rotan berganti duri mencabik daging
Setiap tebasan membekas luka dalam
Terngiang suara menghentak jiwa lirih
Berlinang darah membasahi hamparan luas dosa
Mengucur air mata sudah tak terhitung jumlahnya
Menangisi kita yang tega meninggalkan Dia
Tiada memikirkan ia saat untuk lari
Yang dipikirkan adalah keselamatan kita
Menjelang akhir penghujung hidup
Air tuba ditengguk pemahit iman dahaga
Namun kemanisanlah yang dikeluarkan
Memanggul berat pikul salib
Ditahun bahu keteguhan iman
Terseret gaya tarik buas
Rebah diri tiga kali betapa letih menghujam
Membasuh muka banjir darah
Disekap kain putih kilau mempelai wanita
Setetes minum berharga menapak sejengkal tanah
Menggantung diri perawakan batang salib
Simbol pengkhianat keputusan hukum setimpal
Tubuh merentang tiga sudut terpaku mega
Bentak jasa tanda penyerahan tiba
Atas namamu Bapa anakmu kuberserah
Terwujudlah kejayaanmu yang murah dan rendah hati
Yang bernilai tak tertandingi
Iblis mengamuk sejadi-jadinya
Suaranya bergemuruh merusak ciptaan diri
Meratap abadi rintih menari
Diatas arang merah penyiksa dusta
Tiga hari dua malam tidur tenang
Minggu fajar bangun menyingsing kemenangan
Bagi yang benar gembira
Bagi yang dusta menertawakan yang berakhir mati nanti
Jatuhnya tangan Tuhan mengetuk keputusan
Hari tak pasti meramal
Karena datangnya bak pencuri malam
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar