Selasa, 14 Maret 2023

TIDURLAH TENANG


Duduk dengan tenang dikursi empukku menyaksikan benda yang memancarkan cahaya gambar dan mengeluarkan suara, kuangkat pandanganku mendekati langit putih, disebelah sudutnya terpampang wajah opungku berkisar 45 x 60 cm, berdiri tegap tanpa rasa lelah dengan tatapan tajamnya yang tidak pernah berkedip. Termenung aku memandang kesedihannya yang terpancar dari wajahnya yang tegar dan mengingatku pada kenangan bertahun-tahun lalu yang kelam, dimana ia menggendongku sekuat tenaga meskipun tangannya sudah lentur. Ia memeluk tubuhku yang kehijauan dengan tali jiwanya, ia keluarkan semua erita yang ada dipikirannya untuk menghiburku semenjak diriku masih menggantungkan air susu ibuku. Ia pasti sangat bahagia mengingat aku sebagai putera kedua yang nantinya akan meneruskan marga keluarga siahaanku. Ia selalu mengajariku agar menjadi orang yang bijak dan saleh menjelang dewasa nanti. Namun dikemudian hari ia terserang penyakit mematikan yang mana sering terjadi pada orang yang sudah lanjut usia, ia pun menghabiskan waktu diatas ranjangnya selama 5 tahun ditempat istana yang telah lama ia besarkan. Aku pernah mengunjunginya sekali disaat kritis dan aku melihat ia yang tak seperti dulu lagi dimana ia sudah tidak dapat lagi berdiri sendiri dan berbicara, aku tidak tahu apakah perasaan sedih masih membiusku terhadapnya, namun walaupun begitu ia tetap sangat gembira melihat wajahku yang kurang berperasaan ini seolah-olah rasa sakitnya hilang ditelan oleh kebahagiaan dari pandangannya yang tertuju bukan hanya aku tetap juga keluargaku. Suatu saat yang terakhir kalinya aku berjanji kepada ia bahwa aku akan menjadi orang yang berguna bagi bangsa, agama, khususnya keluarga tapi apakah janjiku itu bisa terwujudkan dikemudian hari, akulah yang menentukan bukan waktu. Dan akhirnya tanggal 10 September 2002 opungku dipanggil oleh Tuhan, mungkin menurutku itu merupakan jalan terbaik daripada ia tersiksa terus-menerus oleh penyakit kronisnya. Aku yakin ia meninggalkan aku beserta saudara-saudaraku dengan hati yang tersenyum, ia puas dengan hidupnya yang telah banyak ia saksikan dalam perjalanan hidupnya, ya memang ia telah mendapatkan semua keinginannya itu. Kematian tubuhnya dikelilingi oleh tarian yang menandakan kegenapan keturunannya dan penghargaan yang mereka berikan kepada jasa-jasanya yang telah banyak ia limpahkan kepada orang lain dan turunannya pada khususnya. Ia juga menyadari rambutnya sudah termakan uban, darahnya berganti air, kkulitnya berwarna kekuningan, bibir dan pipinya dilapisi kekeriputan dan kekusutan, bintik-bintik hitam tumbuh dimana-mana, dagingnya sangat luntur yang terasa cumalah tulang, matanya sudah kabur, detak jantung sangat lambat, sumber tenaga telah habis, yang tersisa didalamnya hanyalah jiwa yang belum mati.

Yang bisa kukatakan ialah maafkan aku ya opung aku tidak dapat datang dipemakamanmu, dan maafkan jikalau aku mengingkari janji yang kuberikan kepadamu. Dan yang terakhir maafkanlah cucumu yang kurang berperasaan ini!

 

For my grandmother, forgive me grandma.


Tulisan ku pada tahun 2004

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...