Duduk dengan
tenang dikursi empukku menyaksikan benda yang memancarkan cahaya gambar dan
mengeluarkan suara, kuangkat pandanganku mendekati langit putih, disebelah
sudutnya terpampang wajah opungku berkisar 45 x 60 cm, berdiri tegap tanpa rasa
lelah dengan tatapan tajamnya yang tidak pernah berkedip. Termenung aku
memandang kesedihannya yang terpancar dari wajahnya yang tegar dan mengingatku
pada kenangan bertahun-tahun lalu yang kelam, dimana ia menggendongku sekuat
tenaga meskipun tangannya sudah lentur. Ia memeluk tubuhku yang kehijauan
dengan tali jiwanya, ia keluarkan semua erita yang ada dipikirannya untuk
menghiburku semenjak diriku masih menggantungkan air susu ibuku. Ia pasti
sangat bahagia mengingat aku sebagai putera kedua yang nantinya akan meneruskan
marga keluarga siahaanku. Ia selalu mengajariku agar menjadi orang yang bijak
dan saleh menjelang dewasa nanti. Namun dikemudian hari ia terserang penyakit
mematikan yang mana sering terjadi pada orang yang sudah lanjut usia, ia pun
menghabiskan waktu diatas ranjangnya selama 5 tahun ditempat istana yang telah
lama ia besarkan. Aku pernah mengunjunginya sekali disaat kritis dan aku
melihat ia yang tak seperti dulu lagi dimana ia sudah tidak dapat lagi berdiri
sendiri dan berbicara, aku tidak tahu apakah perasaan sedih masih membiusku
terhadapnya, namun walaupun begitu ia tetap sangat gembira melihat wajahku yang
kurang berperasaan ini seolah-olah rasa sakitnya hilang ditelan oleh
kebahagiaan dari pandangannya yang tertuju bukan hanya aku tetap juga
keluargaku. Suatu saat yang terakhir kalinya aku berjanji kepada ia bahwa aku
akan menjadi orang yang berguna bagi bangsa, agama, khususnya keluarga tapi apakah
janjiku itu bisa terwujudkan dikemudian hari, akulah yang menentukan bukan waktu.
Dan akhirnya tanggal 10 September 2002 opungku dipanggil oleh Tuhan, mungkin
menurutku itu merupakan jalan terbaik daripada ia tersiksa terus-menerus oleh
penyakit kronisnya. Aku yakin ia meninggalkan aku beserta saudara-saudaraku
dengan hati yang tersenyum, ia puas dengan hidupnya yang telah banyak ia
saksikan dalam perjalanan hidupnya, ya memang ia telah mendapatkan semua
keinginannya itu. Kematian tubuhnya dikelilingi oleh tarian yang menandakan
kegenapan keturunannya dan penghargaan yang mereka berikan kepada jasa-jasanya
yang telah banyak ia limpahkan kepada orang lain dan turunannya pada khususnya.
Ia juga menyadari rambutnya sudah termakan uban, darahnya berganti air,
kkulitnya berwarna kekuningan, bibir dan pipinya dilapisi kekeriputan dan kekusutan,
bintik-bintik hitam tumbuh dimana-mana, dagingnya sangat luntur yang terasa
cumalah tulang, matanya sudah kabur, detak jantung sangat lambat, sumber tenaga
telah habis, yang tersisa didalamnya hanyalah jiwa yang belum mati.
Yang bisa
kukatakan ialah maafkan aku ya opung aku tidak dapat datang dipemakamanmu, dan
maafkan jikalau aku mengingkari janji yang kuberikan kepadamu. Dan yang
terakhir maafkanlah cucumu yang kurang berperasaan ini!
For my grandmother, forgive me grandma.
Tulisan ku pada tahun 2004
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar