Sepanjang hidup ini kita wajib menentukan pilihan, karena hidup adalah pilihan, alangkah baiknya jika pilihan yang kita pilih seringkali tetap berada dijalur arah yang benar menurut firman Tuhan.
Terlalu sering berpikir rumit apalagi berbau fiksi akan memberatkan otak menjadi kacau dan pusing yang berakhir gila tanpa sanggup diatasi, maka perlu seseringkali membuang segala keruwetan tersebut dengan menghirup angin kesejukan dunia yang begitu tenang.
Tujuan dari filsafat adalah mencari kebenaran yang masih tersembunyi dibalik punggung Tuhan, dimana mencari kebenaran menurut akal pemikiran diri semata adalah semu belaka, sedang Tuhan ialah sosok asal-usul kebenaran yang sempurna yang memberikan inspirasi kepada seseorang yang masih percaya dan setia seiman kepadanya.
Sombong tidak selalu identik dengan keangkuhan diri saja, namun istilah itu dapat dilakukan untuk menutupi kekurangan yang ada didalam dirinya.
Pesimisme menjadi pegangan hidup maka hidup yang dimiliki tiada gairah untuk bahagia, yang ada hanyalah pasrah, putus asa, dan kecemasan. Optimisme lah yang harus dikedepankan bahwa hal itu tetap diyakini dan bukannya yang pasti berlebihan.
Seringkali khalayak banyak orang menganggap remeh, tidak digubris, dan bahkan menertawakan ide-ide hasil pemikiran yang baru dari orang lain, karena faktor identitas diri yang belum terpandang baik dari segi kedudukan ataupun kelas apa pun, yang semuanya itu terkaitkan oleh segi kepopularitasan, dan disaat popularitas itu mencuat tinggi maka orang umum baru segera mengakui ide-ide jenius dan cemerlangnya.
Orang yang tidak mengetahui akan kelemahan vital dirinya sendiri terhadap kemoralan bathin yang mengalami suatu dekadensi begitu derasnya karena melawan dan menentang perintah Tuhan, maka nantinya dirinya akan diselimuti oleh bayangan kegelisahan secara rutinitas dan tidak dapat menemukan ketenangan bathin dalam benaknya baik sementara maupun abadi.
Takut akan Tuhan merupakan awal kebenaran dari ilmu pengetahuan yang menunjang bagi kemajuan kehidupan manusia.
Ilmu pengetahuan tidak dapat terpisahkan keterikatannya dengan kuasa sabda Tuhan, sehingga ilmu pengetahuan hasil dari karyanya yang terbatas harus dipertanggungjawabkan kepada yang Trasenden yakni kepada Tuhan. Karena jika ilmu pengetahuan hanya mengatasnamakan potensi diri semata bagi subyek yang menemukannya, maka tak pelak ilmu produk intelektual yang dimilikinya baik sadar maupun diluar alam sadar akan diselewengkan yang berakhir timbulnya kerusakan signifikan bagi peradaban manusia.
Orang pilihan Tuhan dan
dianugerahi oleh karunia penampakkannya bukan mendasarkan kepada akal dan
pengetahuan segudang yang bertitikkan penangkapan terhadap panca inderawi saja,
dan cukup dengan keyakinan berbekal iman kuat merupakan bagian yang paling
esensi, sebab hal itu ialah mujizat mistis, dan sebaliknya begitu sangat
misterius dan skeptis bagi pengetahuan panca indera sahaja. Simpelnya dengan
kata lain bahwa Tuhan itu dipercaya ada bukan karena bukti materi ilmiah
melainkan iman kuat yang terutama digunakan ke depan.
Tulisan ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar