Senin, 20 Maret 2023

AYUNAN

 

Menatap remang kian dekat dimurungi.

Seuntai benda gantung berhuni sendiri membelai keterasingan.

Bergoyang tatkala angin menerpa tubuhnya.

Kutermangu bak tempurung tiada rasa ambil langkah hati.

Namun hati terbungkus erosku berhardik untuk hampiri benda tak berjiwa itu.

Siang ia diam bak patung sedu membisu.

Terhibur tuan hamba malam membuai elok tarian.

Bagai ranting pasrah tersipu layu, jauh terakrabi angin harmonis.

Kini daku mendendangkan sapuan bagi simalu.

Karena telah lama hembusan abad berlalu, semi berhilir mudik berganti.

Tiada mau menyentuh alas duduk dingin pembawa masukan lembab jiwa.

Seketika seiring kuhampiri materi kosong nyawa.

Tapi si dia menyantunkan hawa senandung keindahan lonceng kehidupan.

Tanpa ragu, perlahan dengan sabar duduk bersimpuh lutut.

Meraba tiang sanggaan, seakan si dia ikhlas menggoyangkan yang senantiasa kemauan paras polosku.

Sebelum bulu kuduk terenyak meradang kaku segera saja berlalu.

Mengayun paksa merentangkan juluran kaki jemu linu.

Padahal tak ada seutas pun makhluk berakal nyawa.

Mendorong dentangan ayunan kencang nun.

Menuntun irama melankolis terjangan sang tali gantungan .

Membasuh jiwa tandus terembuni.

Kibasan lambaian nafas angin alami, mengalir membayung tajam disekelilingku.

Sesaat pandangan sesuaikan diri pada gerak-gerik kemana gerangan arah ayunan berlari.

Semenjak mata terbiasa menerawang atas bawah.

Sang langit berkerudung kelabu mendung bersilih ganti saling bermurah hati sesama sang bumi.

Diluar lepas kendali alam bawah sadar.

Yang tersibukkan keasyikan mengawang angan pesona sendiri.

Terlampiri lantunan syahdu alam sendu ayunku.

Dinyata yang menggerakkan tubuh bertiang penuh makna.

Oleh jiwa impian tak terbendung hasutan pencekam rundung jantung rinduku.

Kembali melandung dayung perlahan gemulai lembut.

Getaran emosi riang amarah sikontraksi tubuh ayunan pantunku.

Berdiri kini sembari tiang berhenti letih nan gembira bersamaan jiwa kami.

Bernyanyi bersimultan sama-sama terhadap kenangan dirajut irama melodi mengayun berseri.

Dan akhirnya kutanggalkan berlalu merana pergi yang ternantikan sang ibunda akan kepulangan daku.

Samping itu, tak kuasa melupakan ungkapan jasa sarana perasaan estetika.

Yang membasahi sukma senduku, selaku menjadi bagian memori perekat kebahagiaan tersembunyi.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...