Menatap remang kian dekat dimurungi.
Seuntai benda gantung berhuni sendiri membelai
keterasingan.
Bergoyang tatkala angin menerpa tubuhnya.
Kutermangu bak tempurung tiada rasa ambil langkah hati.
Namun hati terbungkus erosku berhardik untuk hampiri
benda tak berjiwa itu.
Siang ia diam bak patung sedu membisu.
Terhibur tuan hamba malam membuai elok tarian.
Bagai ranting pasrah tersipu layu, jauh terakrabi
angin harmonis.
Kini daku mendendangkan sapuan bagi simalu.
Karena telah lama hembusan abad berlalu, semi berhilir
mudik berganti.
Tiada mau menyentuh alas duduk dingin pembawa masukan
lembab jiwa.
Seketika seiring kuhampiri materi kosong nyawa.
Tapi si dia menyantunkan hawa senandung keindahan
lonceng kehidupan.
Tanpa ragu, perlahan dengan sabar duduk bersimpuh
lutut.
Meraba tiang sanggaan, seakan si dia ikhlas
menggoyangkan yang senantiasa kemauan paras polosku.
Sebelum bulu kuduk terenyak meradang kaku segera saja
berlalu.
Mengayun paksa merentangkan juluran kaki jemu linu.
Padahal tak ada seutas pun makhluk berakal nyawa.
Mendorong dentangan ayunan kencang nun.
Menuntun irama melankolis terjangan sang tali
gantungan .
Membasuh jiwa tandus terembuni.
Kibasan lambaian nafas angin alami, mengalir membayung
tajam disekelilingku.
Sesaat pandangan sesuaikan diri pada gerak-gerik
kemana gerangan arah ayunan berlari.
Semenjak mata terbiasa menerawang atas bawah.
Sang langit berkerudung kelabu mendung bersilih ganti
saling bermurah hati sesama sang bumi.
Diluar lepas kendali alam bawah sadar.
Yang tersibukkan keasyikan mengawang angan pesona
sendiri.
Terlampiri lantunan syahdu alam sendu ayunku.
Dinyata yang menggerakkan tubuh bertiang penuh makna.
Oleh jiwa impian tak terbendung hasutan pencekam
rundung jantung rinduku.
Kembali melandung dayung perlahan gemulai lembut.
Getaran emosi riang amarah sikontraksi tubuh ayunan
pantunku.
Berdiri kini sembari tiang berhenti letih nan gembira
bersamaan jiwa kami.
Bernyanyi bersimultan sama-sama terhadap kenangan
dirajut irama melodi mengayun berseri.
Dan akhirnya kutanggalkan berlalu merana pergi yang
ternantikan sang ibunda akan kepulangan daku.
Samping itu, tak kuasa melupakan ungkapan jasa sarana
perasaan estetika.
Yang membasahi sukma senduku, selaku menjadi bagian
memori perekat kebahagiaan tersembunyi.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar