Senin, 20 Maret 2023

BUAH KOYAK CINTA

 

Berhutang budikah daku kepadamu.

Wahai calon penantian mempelai sang putri permaisuriku.

Begitu pemberani diolah sedemikian kental keruh berupa.

Mendendangkan tabuh seni bibir gemar kegerutuan.

Berlantang mendesiskan racun bisa.

Pencemar keanggunan kelopak hinggap dipipi mata wajahmu.

Riskan bergelombang mencabik-cabik hati terdalam.

Sekejap saat menatap pesona pijar yang mulai redup.

Oleh senandung adegan sandiwara yang dikau sandang.

Manakah ucapan semburan air janji engkau mancurkan.

Bukannya kian hari terjelajahi menunggu pasti janji.

Tak mendekat datang kehampirannya.

Demi meluang waktu tergapai buaian keindahan.

Asal buah manis kita petik dari pohon yang sama berakar tumbuh.

Namun segala buah itu kini telah berkesudahan membusuk.

Karena lidah penjilatmulah terjulurkan untuk menarik kembali.

Kedalam lubang maut dusta bagi keruntuhan tiang cinta kita.

Dimana aku berupaya maksimal harapa mungkin mengakui.

Segenap penyesalan terembani yang terkapar diatas alas nista.

Nun berhubung dikau muntahkan nilai rendah hati ini.

Daku tiada hasrat niat berkenan untuk bertekuk sembah.

Meski seberapa besar hembusan hawa gelap cintamu.

Dinyata tersudahi dibalik nafsu.

Untuk memanfaatkan daku beraromakan materi.

Tentu jasa sumber pengetahuan itu sesudah era tahu.

Bukanlah selaras banding jasa cinta eros mesum semumu.

Bagi jasa hirupan kesejukan paru disuntingi alamiah kehidupan.

Wawasannya dikau tak tersamakan kuasa nikmat daya transenden.

Yang melimpahkan tumpuan udara embun segar rahmat mega.

Penyerahan segara bulat hati merunut strata kasih sepadan.

Dengan ciptaan asal mula oleh berkahan sang transenden.

Pada dialah daku berkehendak bercurah akan hati.

Walau terlepas garis batasan retorika “hanya”.

Namun meski perihal petunjuk ekspresi jiwaku telah tertuang diatas.

Tetaplah terseliput benam rasa mungil.

Oleh berat nafas jiwa tulus kesetiaan hati cintaku.

Bagi dirimu yang tak koyak mudah alpa.

Terlupakan begitu saja dari memori elok indah ingatanku.

Maupun dikau kuyakin terpendam hasrat untuk mengenang daku.

Saat-saat musim kebahagiaan kasih bersemi menuntun cengkerama kita bersama-sama syahdu.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...