Berhutang budikah daku kepadamu.
Wahai calon penantian mempelai sang putri permaisuriku.
Begitu pemberani diolah sedemikian kental keruh berupa.
Mendendangkan tabuh seni bibir gemar kegerutuan.
Berlantang mendesiskan racun bisa.
Pencemar keanggunan kelopak hinggap dipipi mata
wajahmu.
Riskan bergelombang mencabik-cabik hati terdalam.
Sekejap saat menatap pesona pijar yang mulai redup.
Oleh senandung adegan sandiwara yang dikau sandang.
Manakah ucapan semburan air janji engkau mancurkan.
Bukannya kian hari terjelajahi menunggu pasti janji.
Tak mendekat datang kehampirannya.
Demi meluang waktu tergapai buaian keindahan.
Asal buah manis kita petik dari pohon yang sama
berakar tumbuh.
Namun segala buah itu kini telah berkesudahan membusuk.
Karena lidah penjilatmulah terjulurkan untuk menarik kembali.
Kedalam lubang maut dusta bagi keruntuhan tiang cinta
kita.
Dimana aku berupaya maksimal harapa mungkin mengakui.
Segenap penyesalan terembani yang terkapar diatas alas
nista.
Nun berhubung dikau muntahkan nilai rendah hati ini.
Daku tiada hasrat niat berkenan untuk bertekuk sembah.
Meski seberapa besar hembusan hawa gelap cintamu.
Dinyata tersudahi dibalik nafsu.
Untuk memanfaatkan daku beraromakan materi.
Tentu jasa sumber pengetahuan itu sesudah era tahu.
Bukanlah selaras banding jasa cinta eros mesum semumu.
Bagi jasa hirupan kesejukan paru disuntingi alamiah
kehidupan.
Wawasannya dikau tak tersamakan kuasa nikmat daya transenden.
Yang melimpahkan tumpuan udara embun segar rahmat mega.
Penyerahan segara bulat hati merunut strata kasih
sepadan.
Dengan ciptaan asal mula oleh berkahan sang transenden.
Pada dialah daku berkehendak bercurah akan hati.
Walau terlepas garis batasan retorika “hanya”.
Namun meski perihal petunjuk ekspresi jiwaku telah
tertuang diatas.
Tetaplah terseliput benam rasa mungil.
Oleh berat nafas jiwa tulus kesetiaan hati cintaku.
Bagi dirimu yang tak koyak mudah alpa.
Terlupakan begitu saja dari memori elok indah
ingatanku.
Maupun dikau kuyakin terpendam hasrat untuk mengenang
daku.
Saat-saat musim kebahagiaan kasih bersemi menuntun
cengkerama kita bersama-sama syahdu.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar