Senin, 20 Maret 2023

TANDUS GELISAH

 

Semenjak jiwa bertelantar tak teriyakan kemauan sendiri.

Menjelang lentera seberkas cahaya kehidupan menghilang.

Pekatnya menggumpal asap kegelapan jiwa berseteru.

Acapkali dengan kehadiran kedatangan hawa roh kekuatan hitam.

Segelora keutuhan tameng kesucian bathin tiada mampu.

Merengkuh pergumulan dunia fakta yang bergaung perlahan.

Kian membisu akan kemelut hati untuk melangkahi membesuk.

Buah bias kebusukan alhasil bayangan iblis melancarkan kuasanya.

Terasa dunia kelak dan kini suram remang-remang.

Merongrong api maut sukma berkelakar ditanya.

Hidup begitu tak berarti nilai keagungan estetikanya.

Yang ada tersisa debu hampar dosa melayang gebu-gebu.

Menghampakan seisi inti perihal kedalaman hakiki niscaya berada.

Samar-samar pendorong mistis dalam raga tersembunyi.

Mengobarkan kobaran kampanye agitasi nista maupun kekelaman.

Demi bertumbuh serbuk-serbuk benih kekalutan oleng tak terkemudi.

Dialah awak sang pengendali jiwa itu bukan jiwaku sang tuan penentu.

Arah kapal jiwa raga kemudi berlabuh melayari luas semenanjung.

Angkasa mayapada bergendang tabuh bagai genderang sedia.

Dihentamkan alat pukul tongkat kekar cebol tertera duka akan lahirnya.

Kelopak rahim embrio jadi sang bayi kemuraman tergoncang.

Oleh usikan gaung dentangan suara bahana lambang hujatan.

Seraut nampak dialas tabir mendendangkan kebiadaban.

Semakin menyeruak merusak ketenangan kelestarian alam luhur pertiwi.

Menjalari tak puasnya bengis meresap kikis sang akar menuju buah permadani elok kehidupan.

Sekuntum mawar layu berkesudahan nyaring pantul gema.

Merayap bak gelombang kesurupan menghempaskan udara penyejuk.

Kemurnian zat transparan berubah keruh pekat akan polusi hajat bunyi hujatan dosa bergema buas.

Alhasil perantauan nomaden sang suara semburan lidah naga penyesat.

Itulah yang merasuk memporak-porandakan luruh segala sinar terang.

Kebangunan suci kota permai konstruksi ilahi sang simbol gambaran ketentraman tonggak pilar kehidupan.

 

Apakah kehendak berambisi hasil cabik-cabikan taring suaranya itu.

Dengan segala adaptasi kesesuaian diri bagi tiap tersedia kelemahan lalim yang berhuni dirumah jiwaku.

Munculnya ingatan masa silam berbuntut kemurkaan atas kejadian tak terkehendaki baginda hati impianku.

Mendambakan segala popularitas duniawi, acuh tak tahu menahu pada kepedulian makan kebenaran otentik kehidupan.

Tak sebatas munafik terpasang pagelaran hasutannya, melainkan terperosok erosi jurang kegelapan makin parah.

Rupanya terganti kembangkan, dengan membanggakan tiada ada rasa penyesalan akan keutamaan bersembah sujud pada yang teratas, atas segala kemauan tak sedemikian berkenan berbumbu inspirasi kebiadaban yang amat sukar terbendung.

Menyerap hisap energi kesucian akhlak kenyamanan sejahtera kodrati.

Menjungkirbalikkan serta buta terhadap tatapan pandang akan tatanan norma-norma pundi moralitas beserta kebenaran dasar asasi yang ditemui ada.

Tak memiliki kemapanan jati diri yang kian mudah termakan arus seret bujukan persuasi oleh subyek lain yang mendesiskan celoteh bejat rendahan.

Mengerahkan seluruh daya sekuat upaya motivasi menggila-gila, olehnya kehendak ingin hasrat untuk melampiaskan kejahatan dan kebiadaban, demi peroleh harta kepuasan nafsu daging sebentar yang semu abadi.

Mengidolakan pahlawan yang mendewakan falsafah pegangan hidup “kehendak untuk berkuasa” dengan dukungan moril semboyan kezaliman “menghalalkan segala cara”.

Dan mereka tokoh pujaan nafsu hati kukenal setinggi bentangan permukaan langit yang sempurna menggenapi falsafah tak bernilai kebenaran yaitu Genghis Khan, Nietzsche, Adolf Hitler, Joseph Stalin, Mao Zedong, dan Pol Pot.

Mereka jugalah pendorong intuisi sesat jiwa buramku merunut petuah dosa luar biasa daya produktivitasnya yakni “bunuh, cabuli, dan siksa segala sosok yang telah menyakiti diriku”.

Tak berkesudahan impas sampai disitu akan petuah penghasilannya, yang berupa melenyapkan harga diri sebagai makhluk tertinggi ciptaan Sang Maha Kuasa yang terkodrati berwujud ganti rupa nanti kebinatangan yang terdapat pada keinginan naluri badaniah.

Menghujat dan menertawakan pundi-pundi bejana wajan yang menyisakan kuah sup kebenaran dari adonan juru buatan ilahi.

Berdilema kepanjangan tak berujung yang berutinitas menanti ketidaksabaran berwujud selayang hembusan ucap jawaban kebenaran tanpa terbekali kesabaran akan hari kedatangan masa tak pastinya.

Meramu ciptaan daya hasil buatan filsafat tersendiri untuk meraih kebenaran menurut berlatarkan kehendak pemikiran sendiri belaka.

Gampang terbawa kalut emosi, hawa nafsu, dan dendam membara terhadap keberadaan subyektivitas lain yang baru menyinggung sebatas kecil atas perasaan diriku.

Terselingi persoalan tanya berbau keironisan, mengapa segala nilai kejahatan dan kebiadaban sang wakil kebodohanku ini justru mengantarkan penderitaan dikemudian hari begitu kentara.

Seakan-akan daku menyiksa dan mematikan istana kerajaan jiwaku sendiri, oleh sebab berdasarkan maksud pernyataan aneh untuk ditelusuri dari asumsi mayoritas umum.

Bahwasa sesungguhnya “daku diluar kesadaran telah membenci kesejahteraan sejati jiwaku sendiri”.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...