Semenjak jiwa bertelantar tak teriyakan kemauan
sendiri.
Menjelang lentera seberkas cahaya kehidupan menghilang.
Pekatnya menggumpal asap kegelapan jiwa berseteru.
Acapkali dengan kehadiran kedatangan hawa roh kekuatan
hitam.
Segelora keutuhan tameng kesucian bathin tiada mampu.
Merengkuh pergumulan dunia fakta yang bergaung
perlahan.
Kian membisu akan kemelut hati untuk melangkahi
membesuk.
Buah bias kebusukan alhasil bayangan iblis melancarkan
kuasanya.
Terasa dunia kelak dan kini suram remang-remang.
Merongrong api maut sukma berkelakar ditanya.
Hidup begitu tak berarti nilai keagungan estetikanya.
Yang ada tersisa debu hampar dosa melayang gebu-gebu.
Menghampakan seisi inti perihal kedalaman hakiki
niscaya berada.
Samar-samar pendorong mistis dalam raga tersembunyi.
Mengobarkan kobaran kampanye agitasi nista maupun
kekelaman.
Demi bertumbuh serbuk-serbuk benih kekalutan oleng tak
terkemudi.
Dialah awak sang pengendali jiwa itu bukan jiwaku sang
tuan penentu.
Arah kapal jiwa raga kemudi berlabuh melayari luas
semenanjung.
Angkasa mayapada bergendang tabuh bagai genderang
sedia.
Dihentamkan alat pukul tongkat kekar cebol tertera
duka akan lahirnya.
Kelopak rahim embrio jadi sang bayi kemuraman
tergoncang.
Oleh usikan gaung dentangan suara bahana lambang
hujatan.
Seraut nampak dialas tabir mendendangkan kebiadaban.
Semakin menyeruak merusak ketenangan kelestarian alam
luhur pertiwi.
Menjalari tak puasnya bengis meresap kikis sang akar
menuju buah permadani elok kehidupan.
Sekuntum mawar layu berkesudahan nyaring pantul gema.
Merayap bak gelombang kesurupan menghempaskan udara
penyejuk.
Kemurnian zat transparan berubah keruh pekat akan
polusi hajat bunyi hujatan dosa bergema buas.
Alhasil perantauan nomaden sang suara semburan lidah
naga penyesat.
Itulah yang merasuk memporak-porandakan luruh segala
sinar terang.
Kebangunan suci kota permai konstruksi ilahi sang simbol
gambaran ketentraman tonggak pilar kehidupan.
Apakah kehendak berambisi hasil cabik-cabikan taring
suaranya itu.
Dengan segala adaptasi kesesuaian diri bagi tiap
tersedia kelemahan lalim yang berhuni dirumah jiwaku.
Munculnya ingatan masa silam berbuntut kemurkaan atas
kejadian tak terkehendaki baginda hati impianku.
Mendambakan segala popularitas duniawi, acuh tak tahu
menahu pada kepedulian makan kebenaran otentik kehidupan.
Tak sebatas munafik terpasang pagelaran hasutannya,
melainkan terperosok erosi jurang kegelapan makin parah.
Rupanya terganti kembangkan, dengan membanggakan tiada
ada rasa penyesalan akan keutamaan bersembah sujud pada yang teratas, atas segala
kemauan tak sedemikian berkenan berbumbu inspirasi kebiadaban yang amat sukar
terbendung.
Menyerap hisap energi kesucian akhlak kenyamanan
sejahtera kodrati.
Menjungkirbalikkan serta buta terhadap tatapan pandang
akan tatanan norma-norma pundi moralitas beserta kebenaran dasar asasi yang
ditemui ada.
Tak memiliki kemapanan jati diri yang kian mudah
termakan arus seret bujukan persuasi oleh subyek lain yang mendesiskan celoteh
bejat rendahan.
Mengerahkan seluruh daya sekuat upaya motivasi
menggila-gila, olehnya kehendak ingin hasrat untuk melampiaskan kejahatan dan
kebiadaban, demi peroleh harta kepuasan nafsu daging sebentar yang semu abadi.
Mengidolakan pahlawan yang mendewakan falsafah
pegangan hidup “kehendak untuk berkuasa” dengan dukungan moril semboyan
kezaliman “menghalalkan segala cara”.
Dan mereka tokoh pujaan nafsu hati kukenal setinggi
bentangan permukaan langit yang sempurna menggenapi falsafah tak bernilai
kebenaran yaitu Genghis Khan, Nietzsche, Adolf Hitler, Joseph Stalin, Mao
Zedong, dan Pol Pot.
Mereka jugalah pendorong intuisi sesat jiwa buramku
merunut petuah dosa luar biasa daya produktivitasnya yakni “bunuh, cabuli, dan
siksa segala sosok yang telah menyakiti diriku”.
Tak berkesudahan impas sampai disitu akan petuah
penghasilannya, yang berupa melenyapkan harga diri sebagai makhluk tertinggi
ciptaan Sang Maha Kuasa yang terkodrati berwujud ganti rupa nanti kebinatangan
yang terdapat pada keinginan naluri badaniah.
Menghujat dan menertawakan pundi-pundi bejana wajan
yang menyisakan kuah sup kebenaran dari adonan juru buatan ilahi.
Berdilema kepanjangan tak berujung yang berutinitas
menanti ketidaksabaran berwujud selayang hembusan ucap jawaban kebenaran tanpa
terbekali kesabaran akan hari kedatangan masa tak pastinya.
Meramu ciptaan daya hasil buatan filsafat tersendiri
untuk meraih kebenaran menurut berlatarkan kehendak pemikiran sendiri belaka.
Gampang terbawa kalut emosi, hawa nafsu, dan dendam
membara terhadap keberadaan subyektivitas lain yang baru menyinggung sebatas
kecil atas perasaan diriku.
Terselingi persoalan tanya berbau keironisan, mengapa
segala nilai kejahatan dan kebiadaban sang wakil kebodohanku ini justru
mengantarkan penderitaan dikemudian hari begitu kentara.
Seakan-akan daku menyiksa dan mematikan istana
kerajaan jiwaku sendiri, oleh sebab berdasarkan maksud pernyataan aneh untuk
ditelusuri dari asumsi mayoritas umum.
Bahwasa sesungguhnya “daku diluar kesadaran telah
membenci kesejahteraan sejati jiwaku sendiri”.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar