Senin, 20 Maret 2023

SANG PENGUASA

 

Kisah perjalanan bangsa takkan tepisah dari kehadiran eksistensinya.

Menyambut sulut gemuruh getar tanah massa menggila.

Mengumandangkan pujaan genggaman nasib peranakkan negeri.

Dimasa depan terus tanpa sepatah henti lari kencang kesurupan.

Nan tibalah mendendangkan kaki tumpuan negara.

Sebagai sosok tunggal tunjukkan pilihan seluruh penghuni.

Area rengkuh tangan berhak miliki hak kuasa olehnya.

Tegak berdiri selayang pandang sorotan tatap tajam.

Situan empunya penyembah seruan frase budak ambisi besar.

Kehendak untuk berkuasa, ketus hati jujur lantang uap buang malu.

Jari ujung telunjuk ditengadahkan ialah simbol putusan mulia.

Harga diri kaisar agung menggemakan bagai laksana kewajiban.

Lautan bah lebar mayapada langit seolah menurut kehendak baginda.

Kentara bawahan bersimpah rendah junjung hormat taat keharusan.

Elang berbulu dahi kekuasaan hinggap hujam turun bergempa.

Menjelma patung sentuhan pahat lambang pembawa kemenangan.

Falsafah pijakan gelegar menghancurkan genggaman ideal.

Perbudakan muslihat rendah hati terlumatkan pandangan ketuanan.

Apa didecakkan sikuasa telah membius jutaan semut bungkuk terdengar.

Bahan lumatan pasrah diagnosis pengaruh alam pikiran diolah matang.

Tersalurkan alat jadi fungsi kendali kekuasaan pegang bersenjata.

Dicuci sedemikian rupa menjadikan prajurit mesin bunuh perang.

Berdarah dingin kosong akal jiwa mencampak keluhuran damai.

Yang ada bagimu segenap wahai saudara prajurit dan alas kaki kuasa rakyatku.

Gemeretak gaung darinya nyaring tusuk kalbu gendang jiwa.

Terngiang-ngiang berputar tetap tertahan diruangan itu.

Kata jaya agung pancaran hipnotis kumandang retorika hembusan tuan.

Maka dikau kosong bawahan sekalian semuanya akan terangkat tinggi.

Bagi kebesaran harga diri bangsa negerimu terayomi selaput cintamu.

Serta tampuk kejayaan rentang bebas amarah kuasa biadabku sekalipun.

Tak mau kian hargai mengerti apakah tabir bibir gumamku ini.

Terpampang makna nilai nyata kebenaran nanti, ilusi ataukah sejati.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...