Senin, 20 Maret 2023

TANGIS

 

Waktu keburaman enggan pasti bereaksi diterka.

Tingkat laju rasa sakit jangkitnya menyekap kita.

Memburu kelemahan jatuh kepengasingan dunia.

Membuat luruh gelagak tubuh terbenam simpuh terlantai.

 

Kau menangis menelaah keburukan penghancur nirwana impian.

Maju tak tersapa yang ada penghempas pada kemunduran jati diri.

Derap Langkah telanjang mengayuh hati pelukan.

Hampa isi melompong singgah alat hapus pelenyap duka.

 

Tentu dalam lamunan akal mistis khayangan membesuk.

Menerjang tertarik tali hitam menerjunkan layangan singgasana terbang.

Sang kemelut berbuntut gala isak sedu tetes mata jiwa.

Mengkasihani mimpi dikejar pagi bolong yang kini tak berlanjut melayang tukik lagi.

 

Menangis apa yang berwujud muka kegelapan kubahan penutup nista.

Dihadapan aura wajah yang rupa-rupa kusam lumpuh akan tunduknya kegairahan.

Mana hal tangis membasahi hujan sayatan penggigil sedih kedalam relung sampai palung sendiri.

Takkan bergumam inspirasi si obsesi cita-cita yang sebagian terangkatkan.

Jika tiada sedia membanting segenap kemalangan pemerih bathin sehat.

Berhulu motivasi jerih payah keringat dipengaduan.

Menggeluti aktivitas badani tak terlupa jiwa.

 

Baru mengawang diambang batas tajuk bertema dalang.

Intensitas kebenaran menerawang jawaban kesepian sesuatu.

Yang menuntut dikau aku telah menetapkan berpegang opsi.

Perantara berbekal solusi opini sebagai penuntas akhir.

Bagi pengembalian sedekah kedatangan bahagia dengan linangan deras air mata.

 

Terenyuh air mata bagaikan simbol titisan sang takhta puncak luka hati tersambar kelirihan.

Memahkotai dikepalamu bertitelkan tanda ketidakmujuran bagai tersahabatkan.

Yang tak berdaya berhadapan sambutan ciri khas sederhana kemudahan.

Yakni putus asa sebagai total akhir kenaasan harapan segalanya terdapat.

 

Janganlah aku dikau begitu gampang melepaskannya menjadi penoda.

Genangan air bah mata pelupuk luapan kemurungan kita.

Apalagi bersandiwara dambakan untuk peroleh simpati demi pamoritas.

Berasal lelehan pijaran tangis dusta karena itu semua sebatas berbau kebuayaan.

 

Tapi juga kita tiada mempersilahkan, menyiakan arti kilauan jernih akan tetesan duka itu.

Selanjutnya terbesut kedalam kenangan ciptaan kita.

Semasa kendala memaksa mengucurkan terjunan cairan kepedihan ini.

Terhadap keagungan, mengayomi keakraban luruh diri sendiri.

Yang bersandangkan gelar penghargaan didada yang keronta.

 

Kelak menarik pelajaran baru dalam perenungan.

Mengarungi masalah pergumulan berbuntut musibah kekelaman.

Sang penekuk jantung hati kau dan aku.

Bersenandung setia yang memulai awal sedang menyeringainya.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...