Waktu keburaman enggan pasti bereaksi diterka.
Tingkat laju rasa sakit jangkitnya menyekap kita.
Memburu kelemahan jatuh kepengasingan dunia.
Membuat luruh gelagak tubuh terbenam simpuh terlantai.
Kau menangis menelaah keburukan penghancur nirwana
impian.
Maju tak tersapa yang ada penghempas pada kemunduran
jati diri.
Derap Langkah telanjang mengayuh hati pelukan.
Hampa isi melompong singgah alat hapus pelenyap duka.
Tentu dalam lamunan akal mistis khayangan membesuk.
Menerjang tertarik tali hitam menerjunkan layangan
singgasana terbang.
Sang kemelut berbuntut gala isak sedu tetes mata jiwa.
Mengkasihani mimpi dikejar pagi bolong yang kini tak
berlanjut melayang tukik lagi.
Menangis apa yang berwujud muka kegelapan kubahan
penutup nista.
Dihadapan aura wajah yang rupa-rupa kusam lumpuh akan
tunduknya kegairahan.
Mana hal tangis membasahi hujan sayatan penggigil
sedih kedalam relung sampai palung sendiri.
Takkan bergumam inspirasi si obsesi cita-cita yang sebagian
terangkatkan.
Jika tiada sedia membanting segenap kemalangan pemerih
bathin sehat.
Berhulu motivasi jerih payah keringat dipengaduan.
Menggeluti aktivitas badani tak terlupa jiwa.
Baru mengawang diambang batas tajuk bertema dalang.
Intensitas kebenaran menerawang jawaban kesepian
sesuatu.
Yang menuntut dikau aku telah menetapkan berpegang
opsi.
Perantara berbekal solusi opini sebagai penuntas akhir.
Bagi pengembalian sedekah kedatangan bahagia dengan
linangan deras air mata.
Terenyuh air mata bagaikan simbol titisan sang takhta
puncak luka hati tersambar kelirihan.
Memahkotai dikepalamu bertitelkan tanda ketidakmujuran
bagai tersahabatkan.
Yang tak berdaya berhadapan sambutan ciri khas
sederhana kemudahan.
Yakni putus asa sebagai total akhir kenaasan harapan
segalanya terdapat.
Janganlah aku dikau begitu gampang melepaskannya
menjadi penoda.
Genangan air bah mata pelupuk luapan kemurungan kita.
Apalagi bersandiwara dambakan untuk peroleh simpati
demi pamoritas.
Berasal lelehan pijaran tangis dusta karena itu semua
sebatas berbau kebuayaan.
Tapi juga kita tiada mempersilahkan, menyiakan arti
kilauan jernih akan tetesan duka itu.
Selanjutnya terbesut kedalam kenangan ciptaan kita.
Semasa kendala memaksa mengucurkan terjunan cairan
kepedihan ini.
Terhadap keagungan, mengayomi keakraban luruh diri
sendiri.
Yang bersandangkan gelar penghargaan didada yang
keronta.
Kelak menarik pelajaran baru dalam perenungan.
Mengarungi masalah pergumulan berbuntut musibah
kekelaman.
Sang penekuk jantung hati kau dan aku.
Bersenandung setia yang memulai awal sedang
menyeringainya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar