Berdiam dinding dilorong murung menyendiri dalam
jeruji buatan daku sendiri.
Tertuju pada kamarku yang berhiaskan warna sunyi pucat
mencekam segala perasaan sinis kecut jiwa.
Pahit begitu dikecap, sesekali terbayang ilusi maya kebengisan
dan penuh abmoralitas, yang betapa mengerikan jika diarungi pengembaraan
kekuatan jelajahnya.
Tak sanggup terungkap menuang gelas bejana luapan
lirih pedih, dekapan kebiadaban pengrusak ini.
Terhadap gerak artikulasi gumpalan kata yang berambisi
ingin tersahutkan.
Sering mengambil pilihan demi menenteramkan segara
gelora jiwa.
Melalui perantara pelukan isolasi diri dari kerumunan
berbagai tokoh dalang subyek berada, yang terasa maupun disaksikan.
Maunya melarikan diri dari kenyataan ada datang yang
menghujankan musibah tanda bahaya terhampiri merasuk wujud problema.
Setiap sehari-hari kebiasaan agar melepas kungkungan
kecemasan ciptaan gelaga dupa hirupan yang menyengat menyakitkan.
Yang masuk ke dalam tangkuban perahu diriku,
berjerihkan dampak memeningkan otak tiap selalu dipaksa berputar.
Mengitari siklus kancah pergolakan diri sebagai sosok
pusat terbuang berasal ketidakpedulian, rasa acuh yang merasa terkecapkan.
Sungguh tiada berguna, tonggak simbol keutuhan teguh
terbayang.
Selaras membekap figur gallery terhadap ketegaran
pelipur jiwa, kian terkandaskan runtuh oleh niscaya keputusasaan.
Sembunyi sudah merupakan usang pilihan untuk konstan
dipegang selalu, melucuti keburaman penindasan penyakit jajahan dari diri
sendiri.
Pada daya solusi pengambil keputusan, demi
merefleksikan laga penyulingan proses kiat berkomitmen menyempurnakan dalam
bentuk diri.
Tiap kubuka jendela yang menutupi ruangan kegelapan,
selalu ada benak bayangan keluh penyekap ketidaknyamanan.
Karena matahari dengan pengayoman pemandangan estetika
yang berubah kian padang benderang.
Kupersepsikan serapan berkas sinarnya, bagaikan lambang
sketsa keramaian berpenghuni manusia yang memainkan segenap keaktivitasannya.
Lalu pertanyaan segudang tumpuk bergelantayungan
kesana-kemari, “mengapa aku salah, yang justru membawa persepsi imajinasi akal
budi punyaku ke perihal nuansa yang menyesatkan”.
Hingga membelenggu nafas kemerdekaan banggaan daku
yang berhasrat seringkali mau terbuka didepan segala apa pun bentuk penangkapan
inderawi.
Sudahlah biarkan kukini bergegas meninggalkan lagu
lamaku yang kusut benang merah telah berlalu.
Terkelupas sendi buah terdalam yang memang bernilai
bukti jauh harapa, berupa kebobrokan kemuliaan agung.
Terhadap arti kebenarannya yang ternyata semu bagi
pendalaman ketenangan benak naluri hati sayangku.
Bersembunyi tidak lagi mempan jalan pilihan
kepintasannya, yang malah berujung menemui kebuntuan pada kelangsungan menerima
sesama keberadaan.
Yakni, sang dambaan perkembangan kualitas cahaya
penerang keringanan sanubari jiwa, yang nyaman terasa diangkat, dan terpisah
dari keterbebanan.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar