Senin, 20 Maret 2023

SEMBUNYI

 

Berdiam dinding dilorong murung menyendiri dalam jeruji buatan daku sendiri.

Tertuju pada kamarku yang berhiaskan warna sunyi pucat mencekam segala perasaan sinis kecut jiwa.

Pahit begitu dikecap, sesekali terbayang ilusi maya kebengisan dan penuh abmoralitas, yang betapa mengerikan jika diarungi pengembaraan kekuatan jelajahnya.

Tak sanggup terungkap menuang gelas bejana luapan lirih pedih, dekapan kebiadaban pengrusak ini.

Terhadap gerak artikulasi gumpalan kata yang berambisi ingin tersahutkan.

Sering mengambil pilihan demi menenteramkan segara gelora jiwa.

Melalui perantara pelukan isolasi diri dari kerumunan berbagai tokoh dalang subyek berada, yang terasa maupun disaksikan.

Maunya melarikan diri dari kenyataan ada datang yang menghujankan musibah tanda bahaya terhampiri merasuk wujud problema.

Setiap sehari-hari kebiasaan agar melepas kungkungan kecemasan ciptaan gelaga dupa hirupan yang menyengat menyakitkan.

Yang masuk ke dalam tangkuban perahu diriku, berjerihkan dampak memeningkan otak tiap selalu dipaksa berputar.

Mengitari siklus kancah pergolakan diri sebagai sosok pusat terbuang berasal ketidakpedulian, rasa acuh yang merasa terkecapkan.

Sungguh tiada berguna, tonggak simbol keutuhan teguh terbayang.

Selaras membekap figur gallery terhadap ketegaran pelipur jiwa, kian terkandaskan runtuh oleh niscaya keputusasaan.

Sembunyi sudah merupakan usang pilihan untuk konstan dipegang selalu, melucuti keburaman penindasan penyakit jajahan dari diri sendiri.

Pada daya solusi pengambil keputusan, demi merefleksikan laga penyulingan proses kiat berkomitmen menyempurnakan dalam bentuk diri.

Tiap kubuka jendela yang menutupi ruangan kegelapan, selalu ada benak bayangan keluh penyekap ketidaknyamanan.

Karena matahari dengan pengayoman pemandangan estetika yang berubah kian padang benderang.

Kupersepsikan serapan berkas sinarnya, bagaikan lambang sketsa keramaian berpenghuni manusia yang memainkan segenap keaktivitasannya.

Lalu pertanyaan segudang tumpuk bergelantayungan kesana-kemari, “mengapa aku salah, yang justru membawa persepsi imajinasi akal budi punyaku ke perihal nuansa yang menyesatkan”.

Hingga membelenggu nafas kemerdekaan banggaan daku yang berhasrat seringkali mau terbuka didepan segala apa pun bentuk penangkapan inderawi.

Sudahlah biarkan kukini bergegas meninggalkan lagu lamaku yang kusut benang merah telah berlalu.

Terkelupas sendi buah terdalam yang memang bernilai bukti jauh harapa, berupa kebobrokan kemuliaan agung.

Terhadap arti kebenarannya yang ternyata semu bagi pendalaman ketenangan benak naluri hati sayangku.

Bersembunyi tidak lagi mempan jalan pilihan kepintasannya, yang malah berujung menemui kebuntuan pada kelangsungan menerima sesama keberadaan.

Yakni, sang dambaan perkembangan kualitas cahaya penerang keringanan sanubari jiwa, yang nyaman terasa diangkat, dan terpisah dari keterbebanan.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...