Bergaya khas apa adanya bertepatan sesuai norma
kebudayaan massa pada umumnya.
Tak ingin mencari ambil perhatian puluhan pandang
memicingkan ke daku.
Karena aku mencoba tak ingin sebagai bahan fokus
tatapan selayak layar dipameran.
Kupinta terhadap lekukan bentuk alas permukaan bahan
pakaianku.
Berusaha meminati penampilan rapi sang adaptasi oleh
kecukupan yang ada memang itu termiliki.
Menjauhkan diri pergumulan kuasa penuh nafsu, kemakan
arus kancah korban bermode.
Biar lebih trendy bermotif lain diantara yang lain
dengan hasrat kesensasiannya.
Padahal semua saksi didepan tak selalu beranggapan
ungkapan positif yang aktif pada penilaiannya.
Justru tingkat kesejahteraan berlaju pasif yang
terkuras energi oleh ambisi norak yang berdandan.
Yang sehabis terlaksana bersambungkan reduksi
angan-angan yang tidak menghasilkan banyak sesuatu apa-apa.
Aku bukan pengaruh pihak asing bagai penghipnotis demi
ekploitasi kepribadian alami sederhanaku.
Banyak kuantitas sekitar individu pengenal diriku.
Mencoreng mukaku melalui noda merah lontaran celoteh
pelecehan.
Sebab tiada tanda rambu bentukku yang terseret rayuan
biduan duniawi, berwatak sinis dangkal.
Bagi pengeluaran opini yang tak seberapa merogoh kocek
materi benda untuk berdaya beli foya-foya.
Walau daku dihujamkan nada pedas merujuk status
kebendaan dan peranakkan dari karier sang ortuku.
Niat ambisi memaksa rampasan sebagian harta pokok
mendasar keluarga hanya demi pelampiasan kepuasan hedonisku.
Terjangkiti virus penyakit pergaulan label gengsi yang
berkisar upaya pendekatan kemauan, penggubah kermurnian kepolosanku ini.
Memang begitu deras cobaan dan godaan meradang.
Yang berdatangan menerpa tamparan hardikan muka seri
belia kesederhanaan
Berpampang candu hidup dilimpahi kemewahan, supaya disematkan
gelar tanda penghargaan pujian sementara kesenangan yang ada datang disaat itu
juga.
Kelak terpisah satu antara lain terlepas dari janji
palsu lambang koherensi sesama kerabat.
Untuk tetap menemani meski kesenangan dibawah nuansa
hedonis pesta-pora dan gejolak bergengsi.
Telah beranjak bertolak melarikan diri pergi, berakhir
teralienasi sebatas masa berlalu tak seberapa syahdu dalam benak memori.
Hal esensi kepada substansi keindahan yang terbayang
alami, tetap bertahan hidup merasuki kehematan diri, terlepas jauh rasa kemauan
gengsi.
Tidak sampai dipenghujung buntu disitu, namun terdapat
banyak perihal godaan.
Menarik sendi terdalam dorongan dalam menekan sebegitu
deras untuk meraih apa yang merupakan pemuas hedonis sesuai dengan kondisi
kupunya setiap masa itu ada yang sedang tersinggahi.
Tetapi kubermohon kepada yang kuasa, agar menguatkan
penopang tameng akan wujud keinginan nilai budaya selalu bersyukur.
Terhadap pemberian seapa adanya hak pemilikan yang
dikau anugerahkan atas belas kasihmu.
Berkeinginan menjaga keutuhan silugu perilaku, laksana
kealamiahan berbuah kebahagiaan.
Walau tampak berkelimpahan duniawi tak seberapa besar
luas kenikmatan nafsu raga bagi sesaat sementara.
Namun abadi berkelanjutan akan pemenuh alas raga maupun
tervital yang bersemayam dalam roh mistis keberadaan dibelakang tubuh badaniku.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar