Sabtu, 18 Maret 2023

KESEDERHANAAN

 

Bergaya khas apa adanya bertepatan sesuai norma kebudayaan massa pada umumnya.

Tak ingin mencari ambil perhatian puluhan pandang memicingkan ke daku.

Karena aku mencoba tak ingin sebagai bahan fokus tatapan selayak layar dipameran.

Kupinta terhadap lekukan bentuk alas permukaan bahan pakaianku.

Berusaha meminati penampilan rapi sang adaptasi oleh kecukupan yang ada memang itu termiliki.

Menjauhkan diri pergumulan kuasa penuh nafsu, kemakan arus kancah korban bermode.

Biar lebih trendy bermotif lain diantara yang lain dengan hasrat kesensasiannya.

Padahal semua saksi didepan tak selalu beranggapan ungkapan positif yang aktif pada penilaiannya.

Justru tingkat kesejahteraan berlaju pasif yang terkuras energi oleh ambisi norak yang berdandan.

Yang sehabis terlaksana bersambungkan reduksi angan-angan yang tidak menghasilkan banyak sesuatu apa-apa.

Aku bukan pengaruh pihak asing bagai penghipnotis demi ekploitasi kepribadian alami sederhanaku.

Banyak kuantitas sekitar individu pengenal diriku.

Mencoreng mukaku melalui noda merah lontaran celoteh pelecehan.

Sebab tiada tanda rambu bentukku yang terseret rayuan biduan duniawi, berwatak sinis dangkal.

Bagi pengeluaran opini yang tak seberapa merogoh kocek materi benda untuk berdaya beli foya-foya.

Walau daku dihujamkan nada pedas merujuk status kebendaan dan peranakkan dari karier sang ortuku.

Niat ambisi memaksa rampasan sebagian harta pokok mendasar keluarga hanya demi pelampiasan kepuasan hedonisku.

Terjangkiti virus penyakit pergaulan label gengsi yang berkisar upaya pendekatan kemauan, penggubah kermurnian kepolosanku ini.

Memang begitu deras cobaan dan godaan meradang.

Yang berdatangan menerpa tamparan hardikan muka seri belia kesederhanaan

Berpampang candu hidup dilimpahi kemewahan, supaya disematkan gelar tanda penghargaan pujian sementara kesenangan yang ada datang disaat itu juga.

Kelak terpisah satu antara lain terlepas dari janji palsu lambang koherensi sesama kerabat.

Untuk tetap menemani meski kesenangan dibawah nuansa hedonis pesta-pora dan gejolak bergengsi.

Telah beranjak bertolak melarikan diri pergi, berakhir teralienasi sebatas masa berlalu tak seberapa syahdu dalam benak memori.

Hal esensi kepada substansi keindahan yang terbayang alami, tetap bertahan hidup merasuki kehematan diri, terlepas jauh rasa kemauan gengsi.

Tidak sampai dipenghujung buntu disitu, namun terdapat banyak perihal godaan.

Menarik sendi terdalam dorongan dalam menekan sebegitu deras untuk meraih apa yang merupakan pemuas hedonis sesuai dengan kondisi kupunya setiap masa itu ada yang sedang tersinggahi.

Tetapi kubermohon kepada yang kuasa, agar menguatkan penopang tameng akan wujud keinginan nilai budaya selalu bersyukur.

Terhadap pemberian seapa adanya hak pemilikan yang dikau anugerahkan atas belas kasihmu.

Berkeinginan menjaga keutuhan silugu perilaku, laksana kealamiahan berbuah kebahagiaan.

Walau tampak berkelimpahan duniawi tak seberapa besar luas kenikmatan nafsu raga bagi sesaat sementara.

Namun abadi berkelanjutan akan pemenuh alas raga maupun tervital yang bersemayam dalam roh mistis keberadaan dibelakang tubuh badaniku.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...