Sabtu, 18 Maret 2023

PERAWAKANKU PADA DIATAS

 

Melangkah keperawakan permukaan dataran lereng terjal tinggi.

Samping itu terakrabi oleh bergerumulan tebing yang curam.

Menginjak arena kesunyian tempat siap menghentak kumandang.

Lepas dada segala kejujuran apa didalam luluhan sukma.

Ini yang ingin terhadap hal sesingkat saja kukatakan yang semoga ada balasan menyahut tulus berbuntut kebenaran.

Dari daku sikonyol terselingi cengiran bibir senyum senandung terbahak-bahak tawa.

Entah kekacauan milik diri kuletakkan dikepala mana yang sesuai untuk berlepas landas.

Kemudian seraya mengernyitkan dahi tanda kemukaan tersimpan pendaman tak tertahankan lagi berhasrat perlahan terbuka.

Melambaikan tengadah telapak melebar rapat dan rata tajam arah pada tertuju.

Bagimu dengan berpijak kepuncakan singgasana langit yang terayomi bagai ibarat istana kekaisaran awal sampai akhir pernyataan sang Maha Besar.

Beranjak kuusapkan hembusan udara artikulasi bertanya unsur retorika didalam etimologi kataku.

Berteriak gemuruh topan pantul gema sangkakala yang menggetarkan keheningan alam kokoh pegunungan.

Ucapan sembari yang kusemburkan “bahwa seyogyanya meski tak patut kulantangkan pernyataan ini agar apa yang kutarik dari hati ke tempat lidah, selantasnya engkau pun mau mengambil kembali perkataanku walau tertinggal dikedalamannya rasa beraroma kepahitan”.

Bukan yang lain berkata kandas bertanya, tetapi akulah kemanunggalan setiap jengkal cibir usap kata sang buah bibir hati sendiri terkasihku ini.

Aku pun juga patut merenungkan diri, bahwasanya bukan dikau yang bersalah atas segenap tandukan tindak kesalahanku.

Sekembali asal permulaan yang kiat kepada keberakhiran yang kian terpendam bertema gejolak dendam bagi antar sesama yang tak kusayang.

Genderang tabuh menyeruak sang tabir yang beramarah kobaranku, yang padahal sebenarnya tak bernilai dalam bagi penghasilan apapun.

Padamu kegenapan perkembangan kesejahteraan jiwa berdiam dalam diri demi terpeliharakan ketenangan abadi jiwa yang kucintai.

Laksana api berambisi melindas umat bermateri unsur air melalui oboran sengatannya.

Namun mau apa dikata semua itu terasa sia-sia untuk berlanjut merentangkan semangat perjuangan hidup.

Karena berjuang itu sendiri tanpa diresapi kebenaran budi ilahi seakan tertelan oleh prahara duniawi lain apalagi berbadai hawa kesucian.

Dibawah naungan benteng kemauan diri yang merajut pakaian kenyamanan demi raga badani semata.

Sesaat melewati perenungan diri, aku terperanjat kepada kesikma surya mentari cerah yang menyilaukan makna kebenaran bahwa sang fajar takkan mendustai janjinya yang akan selalu kembali seiring sepeninggalan ketenggelaman larutan bulan.

Mentari berwajah pancaran kudus itu bergegas menepuk benak hatiku dengan surya kelembutannya.

Bisikan hati intuisinya berdendang digendangku “kini sudah saatnya engkau mengistirahatkan lidah beserta wakil lubuk hati terdalammu.

Sebab ia lelah yang membutuhkan ketenangan dipelamunan pangkuan kenyenyakan.

Sehabis membanting upaya keringat sang hasrat untuk meraih pengembalian kebenaran budi ilahi ke tanah air hati nuranimu saat kini.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...