Melangkah keperawakan permukaan dataran lereng terjal
tinggi.
Samping itu terakrabi oleh bergerumulan tebing yang
curam.
Menginjak arena kesunyian tempat siap menghentak
kumandang.
Lepas dada segala kejujuran apa didalam luluhan sukma.
Ini yang ingin terhadap hal sesingkat saja kukatakan
yang semoga ada balasan menyahut tulus berbuntut kebenaran.
Dari daku sikonyol terselingi cengiran bibir senyum
senandung terbahak-bahak tawa.
Entah kekacauan milik diri kuletakkan dikepala mana
yang sesuai untuk berlepas landas.
Kemudian seraya mengernyitkan dahi tanda kemukaan
tersimpan pendaman tak tertahankan lagi berhasrat perlahan terbuka.
Melambaikan tengadah telapak melebar rapat dan rata
tajam arah pada tertuju.
Bagimu dengan berpijak kepuncakan singgasana langit
yang terayomi bagai ibarat istana kekaisaran awal sampai akhir pernyataan sang
Maha Besar.
Beranjak kuusapkan hembusan udara artikulasi bertanya
unsur retorika didalam etimologi kataku.
Berteriak gemuruh topan pantul gema sangkakala yang
menggetarkan keheningan alam kokoh pegunungan.
Ucapan sembari yang kusemburkan “bahwa seyogyanya
meski tak patut kulantangkan pernyataan ini agar apa yang kutarik dari hati ke
tempat lidah, selantasnya engkau pun mau mengambil kembali perkataanku walau
tertinggal dikedalamannya rasa beraroma kepahitan”.
Bukan yang lain berkata kandas bertanya, tetapi akulah
kemanunggalan setiap jengkal cibir usap kata sang buah bibir hati sendiri
terkasihku ini.
Aku pun juga patut merenungkan diri, bahwasanya bukan
dikau yang bersalah atas segenap tandukan tindak kesalahanku.
Sekembali asal permulaan yang kiat kepada keberakhiran
yang kian terpendam bertema gejolak dendam bagi antar sesama yang tak kusayang.
Genderang tabuh menyeruak sang tabir yang beramarah kobaranku,
yang padahal sebenarnya tak bernilai dalam bagi penghasilan apapun.
Padamu kegenapan perkembangan kesejahteraan jiwa
berdiam dalam diri demi terpeliharakan ketenangan abadi jiwa yang kucintai.
Laksana api berambisi melindas umat bermateri unsur air
melalui oboran sengatannya.
Namun mau apa dikata semua itu terasa sia-sia untuk
berlanjut merentangkan semangat perjuangan hidup.
Karena berjuang itu sendiri tanpa diresapi kebenaran
budi ilahi seakan tertelan oleh prahara duniawi lain apalagi berbadai hawa
kesucian.
Dibawah naungan benteng kemauan diri yang merajut
pakaian kenyamanan demi raga badani semata.
Sesaat melewati perenungan diri, aku terperanjat
kepada kesikma surya mentari cerah yang menyilaukan makna kebenaran bahwa sang
fajar takkan mendustai janjinya yang akan selalu kembali seiring sepeninggalan
ketenggelaman larutan bulan.
Mentari berwajah pancaran kudus itu bergegas menepuk
benak hatiku dengan surya kelembutannya.
Bisikan hati intuisinya berdendang digendangku “kini
sudah saatnya engkau mengistirahatkan lidah beserta wakil lubuk hati
terdalammu.
Sebab ia lelah yang membutuhkan ketenangan dipelamunan
pangkuan kenyenyakan.
Sehabis membanting upaya keringat sang hasrat untuk
meraih pengembalian kebenaran budi ilahi ke tanah air hati nuranimu saat kini.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar