Sabtu, 18 Maret 2023

UNGKAPAN MATA

 

Hilang dunia penglihatan teramat sulit diterima.

Dihadapan segala benda materi bernyawa atau sebaliknya.

Yang diramu dalam akal dari obyek tangkap mata.

Sesungguhnya mata itu begitu vital kekuatan daya utamanya.

Mengenyampingkan andalan bekal kedua oleh indera peraba.

Kutahu buta menjadikan kegelapan berkas cahaya putih terang dunia.

Namun buta tidaklah seidentik kepedihan total meradang.

Karena ia tidak bisa tahu bagi bentuk diluar diri.

Hanya tiupan kencang puyuh suara yang masuk jaringan terjemahannya.

Sehikmat mungkin terlebih perlu dikaji ulang amati.

Bahwa refleksi pertemuan antar tatapan pandang.

Dapat memicu tumbuhan tanaman bibit konflik bathin.

Oleh fokus layar sebagai saksi pandang bagi pemandangan hadapanku.

Dimaknakan dalam tafsiran berbeda dibawah persepsi alam mandirinya.

Sehingga kalau muncul figur pandang berlatar kasar negatif untuk diraba.

Maka menarik dorongan amarah tegang kebencian.

Kita melihat apa yang kita sedang saksikan yang ada pada sekitar diri.

Walau suka ingin maunya disengaja.

Maupun hasrat tiada datang tanpa kesengajaan.

Demi terbaginya pundi-pundi kemaksiatan moralitas.

Sebagai bentuk simbol peradaban kepunyaan pribadi kita maupun aku.

Perlu tergariskan, segala ambisi penglihatan.

Dengan meranakan sendi pundak tujuan kepribadian moral sendiri.

Sehingga setiap yang diperlihat amoralitas itulah.

Merangsek panduan dorongan produk kesan kategori kejengkelan simbol daku ini.

Tetaplah konsisten yang berperahu tetap untuk mendapatkan keseharian jernih mata fungsi memandang.

Sebab buta bukan alternatif solusi biduan penghapus keterbebanan jiwa.

Sebab itu masih ada masukan ke alam khayangan penerjemah.

Yakni peraba itu sendiri terpisah tetapi sama alat kerja fungsi dari kesejajaran pendengar nanar mata.

Mata bukanlah menjadi pengikut pedoman tontonan terlihat sebatas fisik.

Andaikata dunia ini semua segala makhluk buta segala dari selaput katup kornea mata.

Maka ia dunia semua yang berpijak takkan ada kesan saling memandang berbumbu kebencian daya penilaiannya.

Akan tetapi ia pun juga perlu di tabahkan kepada kesaksian nyata.

Adalah keindahan dunia yang bertemali antar fisik maupun rohani jiwa.

Dimana fisik sebagai bagian inherensi dari rohani alam pengertian jiwa, berikatan satu berelasi dengan yang lain antara kedua sisi tersebut.

Dan apa yang dilihat dalam pandangan monitor mata ingin selalu terungkapkan bahkan jauh lebih banyak kuantitas ungkapannya dari ucapan artikulasi bibir lidah sekalipun.

Meski belum mencapai tingkatan dalam penuangan kepada kata-kata yang berhasrat dilontarkan.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...