Hilang dunia penglihatan teramat sulit diterima.
Dihadapan segala benda materi bernyawa atau sebaliknya.
Yang diramu dalam akal dari obyek tangkap mata.
Sesungguhnya mata itu begitu vital kekuatan daya
utamanya.
Mengenyampingkan andalan bekal kedua oleh indera
peraba.
Kutahu buta menjadikan kegelapan berkas cahaya putih
terang dunia.
Namun buta tidaklah seidentik kepedihan total meradang.
Karena ia tidak bisa tahu bagi bentuk diluar diri.
Hanya tiupan kencang puyuh suara yang masuk jaringan
terjemahannya.
Sehikmat mungkin terlebih perlu dikaji ulang amati.
Bahwa refleksi pertemuan antar tatapan pandang.
Dapat memicu tumbuhan tanaman bibit konflik bathin.
Oleh fokus layar sebagai saksi pandang bagi
pemandangan hadapanku.
Dimaknakan dalam tafsiran berbeda dibawah persepsi
alam mandirinya.
Sehingga kalau muncul figur pandang berlatar kasar
negatif untuk diraba.
Maka menarik dorongan amarah tegang kebencian.
Kita melihat apa yang kita sedang saksikan yang ada
pada sekitar diri.
Walau suka ingin maunya disengaja.
Maupun hasrat tiada datang tanpa kesengajaan.
Demi terbaginya pundi-pundi kemaksiatan moralitas.
Sebagai bentuk simbol peradaban kepunyaan pribadi kita
maupun aku.
Perlu tergariskan, segala ambisi penglihatan.
Dengan meranakan sendi pundak tujuan kepribadian moral
sendiri.
Sehingga setiap yang diperlihat amoralitas itulah.
Merangsek panduan dorongan produk kesan kategori
kejengkelan simbol daku ini.
Tetaplah konsisten yang berperahu tetap untuk mendapatkan
keseharian jernih mata fungsi memandang.
Sebab buta bukan alternatif solusi biduan penghapus
keterbebanan jiwa.
Sebab itu masih ada masukan ke alam khayangan
penerjemah.
Yakni peraba itu sendiri terpisah tetapi sama alat
kerja fungsi dari kesejajaran pendengar nanar mata.
Mata bukanlah menjadi pengikut pedoman tontonan
terlihat sebatas fisik.
Andaikata dunia ini semua segala makhluk buta segala
dari selaput katup kornea mata.
Maka ia dunia semua yang berpijak takkan ada kesan
saling memandang berbumbu kebencian daya penilaiannya.
Akan tetapi ia pun juga perlu di tabahkan kepada
kesaksian nyata.
Adalah keindahan dunia yang bertemali antar fisik
maupun rohani jiwa.
Dimana fisik sebagai bagian inherensi dari rohani alam
pengertian jiwa, berikatan satu berelasi dengan yang lain antara kedua sisi
tersebut.
Dan apa yang dilihat dalam pandangan monitor mata
ingin selalu terungkapkan bahkan jauh lebih banyak kuantitas ungkapannya dari
ucapan artikulasi bibir lidah sekalipun.
Meski belum mencapai tingkatan dalam penuangan kepada
kata-kata yang berhasrat dilontarkan.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar