Janji sudah melayang.
Ikatan bulat telah dilanggar.
Kata sahabat sejati abadi berlalu.
Terusap lidah dibuang ludah pengkhianat.
Menjilat nada pemikat dibalik kebualan.
Dulu adalah waktu terlampaui.
Tak terulang sebagai catatan.
Bukan dipegang abdi lama dimasa depan.
Begitu mudah terhipnotis kata sanjung kesejahteraan.
Padahal dibelakang terselip motif beringas omong
kosong belaka.
Sudah pasti engkau menemukan kejayaan baru.
Seolah lahir semakin menjadi bijak.
Dari doktrin ateis ilusi awal Tuhan itu ada.
Sebelum tampuk kekuasaan digenggamnya.
Gerak lidah nadi ucapanmu sudah tak berarti.
Memang pepatah mulai datang membenarkan.
Bahwa kepentingan mengarungi situasi tak pasti.
Itulah yang abadi, bukan janji teguh yang engkau rusak
sendiri.
Nyatakan aku ini tidak kebersamaan.
Seperti yang engkau hembuskan disegala jaman.
Melainkan saat titik tertentu daku menjelma sang
diktator.
Keras kepala bila dinasehati untuk menjauhi.
Namun ditolak mentah, sebab kepala dirasuki lingkungan
busuk sekelilingnya.
Tabirkan pemikat setinggi awan.
Agar berdentang namun tak banyak dengar.
Karena banyak tahu bibirmu dijubahi kemunafikan.
Lebih dari munafik kadar dilakukan yang lain-lain.
Menanggalkan kepribadian kotor terlupa.
Hanya bisa melimpahkan kekotoran pada pemerintah
berkuasa kini.
Dalam dirimulah lebih berhasrat rakus ketimbang yang
berkuasa.
Tak sampai karena kata embel-embel lebih.
Berhubung penguasa tuli terhadap bujukan dan
cemoohanmu.
Ataupun mendengar tapi tak menyapa.
Oleh nada kosong tak tahu diri dalam dirinya sendiri
yang sebenarnya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar