Hari ini kusaksikan gambar mistismu.
Raut muka lesung kusam.
Bukan simbol kelelahan gairah kehidupan.
Melainkan semangat yang terbenam dipelupuk bara.
Berlekuk-lekuk kerutan permukaan wajah.
Terlipat oleh usia senja lama.
Melanjut usaha hidup bergaul dengan dunia.
Pelipis mata lemah angkat picing layar pandang.
Ketika mencari kebahagiaan yang telah berubah.
Seiring perjalanan hampir menemui abadi.
Era diri lambat laun kian berevolusi.
Dengan sendirinya datang tanpa paksaan.
Tambah pudarlah kemudaan yang membekas.
Urat nadi darah makin terhambat edarannya.
Melupakan serah diri berlabel pasrah jauh nanti.
Biarlah aku pergi dengan damai kepangkuan sang Bapa.
Meski sudah beranak cucu pinang.
Tak usahlah putus asa sendu.
Merindukan keturunan mematangkan kedewasaan.
Rupa sekujur tubuhmu selalu terpegang dalam ingatan
mereka.
Sepatutnya bangga mengarungi pergumulan dunia.
Yang begitu banyak lubang sandungan melewatinya.
Sedikit sahaja manusia menggapai kemenangan usia yang
kau miliki.
Saat ini semua itu sudah terlangkahi.
Diantaranya terseliput bahagia direkam oleh kenanga.
Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bergabung
dengan Yang Maha Kuasa.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar