Orang memandang dia murah
Tak bernilai dipergumulan
Anggap penghambat kemajuan lingkungan pergaulan
Peradaban berhenti jika macam ia nongol didalamnya
Memang tindak gerak kurang santun
Namun ada yang terselip kelebihan pada belakang
Cinta, kejujuran, lugu terhadap sesama termiliki
Tak kuasa terima keterkucilan
Dari yang normal tapi jauh moral
Mereka tertawa seraya pecundang kegelapan
Marah membahana berdesis ejekan
Korban mendengar usap tangis
Ingin kobarkan obor dendam
Yang selama masa mendekam
Tak tega semburkan membisa
Sikerabat tukang leceh, lidah berambisi dipenggal
Tetap percaya mandiri busung kepala
Aku tak rendah dari mereka
Duduk ujung depan seminar belajar
Meskipun kosong peneman sisi
Seakan tutup telinga yang buka
Bagi celoteh tawa tak punya jiwa rasa
Tak bergema sejengkal bekas siput gendang
Kebanyakan tak tahu apa terselubung dalam dia
Meski sendiri jauh didera sahabat sekitar
Tapi masih ada harga untuk mengerti
Mendamping yang terbuang tak seberapa
Namun jiwa berakreditasi A oleh kepolosan
Bukan mayoritas normal ia belajar kepandaian mereka
bergelar sombong
Mereka tetap bergeming tak sadar sendiri
Telah menirunya arti hikmat bekap insan dibalik dungu
ini
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar