Sudah lama menunggu hingga tak peduli rasa jemu.
Tembikar gelora menyulut bakar membara.
Sampai dipelupuk bumi ibu pertiwi kini takkan terlepas
lagi.
Menanti sang pemimpin berwibawa bertampang baja.
Sumpah serapah harus dikumandangkan serentak segala
penjuru.
Untuk rakyat bersatu dengan tubuh amarah yang
memerintah.
Bangsaku bukan untuk yang asing namun bagi lahir
ditempat.
Nanti telah kusiratkan gerak bibirku biar rakyat ikut
berdengung.
Beginilah keputusannya, tak dapat digubah biar tak
rusak cemar.
Ketegaran kepahlawanan kepala tunggal dari segenap
kepala.
Dipuncak gunung tertinggi bak menara megah tertuju
jutaan mata.
Menancapkan bendera kejayaan mengibarkan kedigdayaan
negara.
Tercantum ikrar dekrit penguasa agar sejarah terekam
pelipur dada.
Hingga ke layat pengorbanan sukma nyawa raga, tulang,
dan darah.
Camkanlah bahwa kemerdekaan telah bergema
proklamasinya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar