Sabtu, 18 Maret 2023

MENGASINGKAN DIRI

 

Nafasku bermuara hembus kepersinggahan jauh.

Menjorok dalam menuju teluk nestapa yang masih tersisa daya tampungnya.

Menjelma tangkuban penampung danau yang berisi keterbuangan.

Surya terik mentari menarik uap dupa bejana pewadah terlupa.

Beranjak kering mengikuti arus siklus pasang surut ala pancaroba.

Demi silih berganti yang sudah pasti oleh gejala dari alamiah.

Berkelanjutan mengembara jenuh menggapai kelembapan digua.

Disana sumber peneguk dahaga tak berkesudahan.

Yang mana sejuk tak berkunjung akrab cahaya liar pengrusak kehidupan lingkungannya.

Meski yang berhuni tak ramah bagi kenyamanan manusia.

Untuk bermeditasi merenung diri terseliput gelap bercampur keheningan.

Akan arti makna hidup jauh diluar jangkau singgahan bersemedi.

Karena keberadaan saat perenungan ini terganggu oleh suguhan gemuruh nyaring bising hari.

Tak akan kesampaian esensi apa yang sedang untuk bakal didalami.

Nantikanlah menanggalkan genggaman erat rindu bagi aku sendiri agar membuahkan kebenaran yang kucari selama ini.

Untukmu mengharumkan senyum kebanggaan pendamping melodi gemulai lembut jiwaku.

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...