Nafasku bermuara hembus kepersinggahan jauh.
Menjorok dalam menuju teluk nestapa yang masih tersisa
daya tampungnya.
Menjelma tangkuban penampung danau yang berisi
keterbuangan.
Surya terik mentari menarik uap dupa bejana pewadah
terlupa.
Beranjak kering mengikuti arus siklus pasang surut ala
pancaroba.
Demi silih berganti yang sudah pasti oleh gejala dari
alamiah.
Berkelanjutan mengembara jenuh menggapai kelembapan
digua.
Disana sumber peneguk dahaga tak berkesudahan.
Yang mana sejuk tak berkunjung akrab cahaya liar
pengrusak kehidupan lingkungannya.
Meski yang berhuni tak ramah bagi kenyamanan manusia.
Untuk bermeditasi merenung diri terseliput gelap
bercampur keheningan.
Akan arti makna hidup jauh diluar jangkau singgahan
bersemedi.
Karena keberadaan saat perenungan ini terganggu oleh
suguhan gemuruh nyaring bising hari.
Tak akan kesampaian esensi apa yang sedang untuk bakal
didalami.
Nantikanlah menanggalkan genggaman erat rindu bagi aku
sendiri agar membuahkan kebenaran yang kucari selama ini.
Untukmu mengharumkan senyum kebanggaan pendamping
melodi gemulai lembut jiwaku.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar