Sabtu, 18 Maret 2023

SATU RASA

 

Aku ingin menyatu apa yang kau rasakan.

Hingga kini belum sanggup terbayang yang kau miliki dari alami.

Harta berharga dalam jiwa yang telah kelam dirundung kepedihan.

Bisa membuat diri gila tak disangka.

Sang buah hati dambaan tertinggi dunia yang akrab dalam rangkulan.

Lenyap meninggalkan dikau sepi menyendiri.

Hanya menjulur lidah usap kata yang dapat kusajikan.

Menatap tembus gejolak hatimu termakan resah.

Ingin kusandangkan jubah penghibur selendang dibahu.

Agar kelak kain selubung hatimu berkibar tak terlipat duka.

Sobatku, aku tahu saat inilah yang engkau terima.

Jangan merenung waktu tidur menyekat bayang-bayang keluhmu.

Tersiksa kian mendalam menanti masamu yang terus terbuang.

Apalah arti meratapi era berlalu yang tak kunjung mengembalikan pengharapan dikeesokan hari.

Sudah sosok terkasih yang dikau lamunkan.

Dalam bersembunyi pada benak pikiran yang tak mau.

Engkau perlahan-lahan dibuat tidak berdaya.

Terkikis oleh paku erosi kehancuran dimasa depanmu.

Lalu ia akan muncul dan berbisik penuh kelembutan didaun bergemulai sanubarimu, “aku akan Kembali menemanimu kemanapun waktu perantauanmu berada, ingatlah matahari berwajah ceria dipagi hari tidak selalu tenggelam oleh kolotnya malam yang berkepanjangan dibawah naungan bayangan murung sang bulan purnama".

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...