Aku ingin menyatu apa yang kau rasakan.
Hingga kini belum sanggup terbayang yang kau miliki
dari alami.
Harta berharga dalam jiwa yang telah kelam dirundung
kepedihan.
Bisa membuat diri gila tak disangka.
Sang buah hati dambaan tertinggi dunia yang akrab
dalam rangkulan.
Lenyap meninggalkan dikau sepi menyendiri.
Hanya menjulur lidah usap kata yang dapat kusajikan.
Menatap tembus gejolak hatimu termakan resah.
Ingin kusandangkan jubah penghibur selendang dibahu.
Agar kelak kain selubung hatimu berkibar tak terlipat
duka.
Sobatku, aku tahu saat inilah yang engkau terima.
Jangan merenung waktu tidur menyekat bayang-bayang
keluhmu.
Tersiksa kian mendalam menanti masamu yang terus
terbuang.
Apalah arti meratapi era berlalu yang tak kunjung
mengembalikan pengharapan dikeesokan hari.
Sudah sosok terkasih yang dikau lamunkan.
Dalam bersembunyi pada benak pikiran yang tak mau.
Engkau perlahan-lahan dibuat tidak berdaya.
Terkikis oleh paku erosi kehancuran dimasa depanmu.
Lalu ia akan muncul dan berbisik penuh kelembutan
didaun bergemulai sanubarimu, “aku akan Kembali menemanimu kemanapun waktu
perantauanmu berada, ingatlah matahari berwajah ceria dipagi hari tidak selalu
tenggelam oleh kolotnya malam yang berkepanjangan dibawah naungan bayangan
murung sang bulan purnama".
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar