Kini akan kubawa kemana non ragawi ini.
Padang alam luas begitu besar bebas untuk dikitari
singgah hari.
Menempatkan ketenangan dibawah anugerah kesejukan.
Ataukah jiwa murniku ini terbawa menuju gurun berlumur
gersang.
Sudah cukup lama membuang waktu dimiliki.
Namun terseok-seok karena haus kematangan.
Berharap hujan mengasihani akan dahagaku.
Yang mau sampai mengemis rendah diri.
Kebusukan dan kebenaran siap mengangkat sebilah
pedang.
Menyayat liar menghunus pedang, siapa yang lebih
tajam.
Adu terampil melihat peluang menghabisi lawan setiap
celah.
Timbul peperangan besar menyakitkan tak berujung.
Daku mengimpikan agar terulang kembali.
Kemelut terbebasnya kerajaan sorga dari kudeta
kelaliman si naga.
Senja kala datang malaikat Tuhan merayakan kemenangan
telah tiba.
Atas gagalnya ambisi rencana besar kegelapan.
Begitu juga dalam jiwaku meski melewati jalur rintih
bahaya.
Penuh pengorbanan seluruh gelaga hati dikuatkan iman.
Kuda ksatria suci tegar yang dipicu dan tumpangi.
Berdiri seraya mengangkat tapal kaki tinggi menengadah
ke langit.
Melambaikan pedang perkasa ke atas cahaya matahari.
Simbol tanda kejayaan yang telah menghampiri.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar