Berambisi meraih cita-cita sukma gelora.
Sosok berwibawa memancar daya hipnotis.
Terkesikma oleh kobaran ceramah artikulasi sang lidah.
Dengan tubuh tegap merentangkan tangan.
Tanda keagungan dewa kaisar terangkat rasa bangkit.
Lahir kembali diatas mimbar raksasa, jutaan memandang.
Rakyat sepatutnya bersujud hormat segan.
Agar ksatria yang terbenam kini terbit kembali lagi.
Bagi penyerahan nyawa jiwa patriotisme terpasang.
Perlahan jemari telapak mengepal tanda semakin bulat.
Untuk bagimu negeri dan yang berkuasa memegang.
Nasionalisme ini kuabadikan demi terbuang jauh
keinginan untuk mencampakkan.
Tak boleh dibiarkan retak oleh simbol humanisme
berlebihan yang jauh kelewatan menyebarkan racun.
Demokrasi asing datang maka seyogyanya wajib adaptasi
mengerti.
Oleh muka nasionalisme yang ada diwilayah tercinta
banggaan ini.
Karena jiwa isme satu ini sudah mendidihkan darah
membara.
Beramarah pengabdian sukacita terhadap keutuhan dan
kekuasaan kesatuan negara yang kokoh terbentuk.
Letak kekuatan bukanlah hanya sosok kuantitas tentara
teroganisir.
Melainkan lautan rakyat entah berlabel sipil
berlambang kelemahlembutan.
Namun berwatak seakan ia sendiri adalah bagian dari
jiwa tentara kebanggaan bangsa negara.
Ayo biarlah gelora inspirasi beraroma nasionalis
patriotik ini terpampang dan berlabuh masuk ke gerbang pintu jiwa raga kita
yang berhak menginginkannya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar