Rabu, 15 Maret 2023

MUSIK SENI

  

Menyanyi dikesepian hari, siapakah yang mendengarkan.

Mendengar suara irama musik dibiarkan angin berlalu untuk kesenangan semata, atau diresapi kedalam dada dan mengambil hikmatnya.

Penghargaan berjasa musik akan masuk ke sumber jiwa haruskah dijual.

Wajibkah nilai kecintaan bagi sang musik akan dibeli nafsu daging.

Lantunan musik menghentak jiwa sesaat, lenyap kemudian nafsu muncul ke permukaan mengkampanyekan hasutannya.

Saat jiwa tertutup dari cahaya, telinga pun tuli dari kemerduan bunyi suara pemekar bunga jiwa yang katup layu.

Musik kontemporer perlukah diekori untuk mengadaptasi wajah zaman, musik corak lama peneman kesepian perlukah dibuang.

Bunyi sumbang sang kritikus akan selera musikku, disapa atau ditelantarkan.

Anggaplah angin berhembus yang nanti tidak akan pernah kembali menyeretku pada keinginannya.

Sebutir debu lebih tampak dari ribuan debu yang tak bergema akan pesona indahnya alunan musik kejujuran jiwa.

Hujan tersentuh kerak untuk diserap menuju mata air, begitupun laju aliran musik melaju ke arus esensi jiwaku.

Gemerlap musik lebih berkilau dari simbol pergaulan yang membanggakan Hasrat penyayang daging.

Tidak semua wajah musik berkemilauan, dan banyak diantaranya pengkarat tonggak tiang kebathinanku.

Musik suatu inherensi dari pesona alam, tak bisa menemani eloknya alam sama saja kematian bagi musik yang takkan berkumandang digendang jiwa.

Musik ikatan koherensi tali seni.

Musik mengekspresikan, seni dikejewantahkan ke dalam benak sukmaku.

Musik menyegarkan relungan hati yang mengidap kepedihan, berkarya seni yang didambakannya.

Gertakan lirihnya kesedihan dalam lantunan yang menyanyikannya tak menyurutkan akan kebahagiaanku, sebaliknya ia membawa keceriaan bagiku yang larut dalam kedukaan hidup yang terhampar dari keinginan harapan.

Merasuk sampai ke palung dasar jiwa yang kadang sulit menyingkap rahasia dibawah kegelapan yang menyelimutinya.

Sang pencetak terheran-heran, bertanya atas dasar apa pengorbananku menukarkan harta dengan seni yang terkandung unsur musik didalamnya.

Hatiku ingin membalasnya dengan makna sebenarnya, bahwa “belum seberapa atas sedekah yang kugocek ini dari jasa imajinasi kebanggaan yang menemani kesunyianku terhadap nilainya”.

Yang keluar tak pemuas segenap hati namun cukup dimengerti, yakni “bukankah selera orang itu berbeda-beda, dari sekian banyak itu aku mendambakan yang satu ini”.

 

  

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...