Menyanyi dikesepian hari, siapakah yang mendengarkan.
Mendengar suara irama musik dibiarkan angin berlalu
untuk kesenangan semata, atau diresapi kedalam dada dan mengambil hikmatnya.
Penghargaan berjasa musik akan masuk ke sumber jiwa haruskah
dijual.
Wajibkah nilai kecintaan bagi sang musik akan dibeli
nafsu daging.
Lantunan musik menghentak jiwa sesaat, lenyap kemudian
nafsu muncul ke permukaan mengkampanyekan hasutannya.
Saat jiwa tertutup dari cahaya, telinga pun tuli dari
kemerduan bunyi suara pemekar bunga jiwa yang katup layu.
Musik kontemporer perlukah diekori untuk mengadaptasi
wajah zaman, musik corak lama peneman kesepian perlukah dibuang.
Bunyi sumbang sang kritikus akan selera musikku,
disapa atau ditelantarkan.
Anggaplah angin berhembus yang nanti tidak akan pernah
kembali menyeretku pada keinginannya.
Sebutir debu lebih tampak dari ribuan debu yang tak
bergema akan pesona indahnya alunan musik kejujuran jiwa.
Hujan tersentuh kerak untuk diserap menuju mata air,
begitupun laju aliran musik melaju ke arus esensi jiwaku.
Gemerlap musik lebih berkilau dari simbol pergaulan
yang membanggakan Hasrat penyayang daging.
Tidak semua wajah musik berkemilauan, dan banyak
diantaranya pengkarat tonggak tiang kebathinanku.
Musik suatu inherensi dari pesona alam, tak bisa
menemani eloknya alam sama saja kematian bagi musik yang takkan berkumandang
digendang jiwa.
Musik ikatan koherensi tali seni.
Musik mengekspresikan, seni dikejewantahkan ke dalam
benak sukmaku.
Musik menyegarkan relungan hati yang mengidap
kepedihan, berkarya seni yang didambakannya.
Gertakan lirihnya kesedihan dalam lantunan yang
menyanyikannya tak menyurutkan akan kebahagiaanku, sebaliknya ia membawa
keceriaan bagiku yang larut dalam kedukaan hidup yang terhampar dari keinginan
harapan.
Merasuk sampai ke palung dasar jiwa yang kadang sulit
menyingkap rahasia dibawah kegelapan yang menyelimutinya.
Sang pencetak terheran-heran, bertanya atas dasar apa
pengorbananku menukarkan harta dengan seni yang terkandung unsur musik didalamnya.
Hatiku ingin membalasnya dengan makna sebenarnya,
bahwa “belum seberapa atas sedekah yang kugocek ini dari jasa imajinasi
kebanggaan yang menemani kesunyianku terhadap nilainya”.
Yang keluar tak pemuas segenap hati namun cukup
dimengerti, yakni “bukankah selera orang itu berbeda-beda, dari sekian banyak
itu aku mendambakan yang satu ini”.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar