Mengertikah kamu akan kehancuran bathinku.
Jalan setapak demi setapak kudaki untuk mencapai awan
kelabu.
Janganlah aku mendamaikan isi dihatimu, mendamaikan
hatiku saja belum bisa.
Mengapa engkau ayunkan parang dibenakku, padahal sebelumnya
pun benak milik daku ini sudah teriris oleh pisau yang lahir dalam diriku tanpa
sekeinginanku.
Adakah kau mendengar lirihan suara nyaring jiwaku.
Pernahkah kau merasakan rintihan tangan jiwaku untuk
mendapati tingginya rembulan.
Tidakkah kau lihat air mata tersembunyi dibalik
dadaku.
Setidaknya jikalau aku menghilangkan nyawaku sendiri,
maka dunia lebih terang, dan orang sekelilingku akan senang menyaksikan diriku
yang dicap sebagai pembeban ini.
Kelabu awan pekat kehitaman masih sekelabu hatiku.
Kapankah turun hujan agar kutampung dalam bejana
tubuhku untuk melepaskan dahaga akan haus kebahagiaan.
Kenapa angin sepoi-sepoi hanya mengayunkan ranting
daun kelapa, sungguh kesukmaanku lapar akan kesejukkannya.
Datangnya pagi tibanya esok hari kujalani dengan
kekosongan masukan jiwa ragaku.
Kuangkat nan kusandarkan tubuhku pada dinding tembok
kuat untuk menahan keluhan yang hendak kuhentakkan.
Tersapu layu ditambah mekar bunga, disuguhi aroma
wangi sekuntum mawar yang meresap ke dalam paru-paru ku.
Merayap dikegelapan terowongan untuk mencari secercah
berkas cahaya yang menyala.
Gemuruh petir menyambar keheningan sadarku.
Mungkinkah pertanda Tuhan murka, dari penyerahan
hambamu ini terhadap kekerikilan akan hidupku ini sembari sering menyebut
kekhilafahan berbicara mengikuti alur bayangan sesat pelenyap nuraniku sebagai
lambang kemoralan manusia.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar