Rabu, 15 Maret 2023

PANDANG AKU

  

Mengertikah kamu akan kehancuran bathinku.

Jalan setapak demi setapak kudaki untuk mencapai awan kelabu.

Janganlah aku mendamaikan isi dihatimu, mendamaikan hatiku saja belum bisa.

Mengapa engkau ayunkan parang dibenakku, padahal sebelumnya pun benak milik daku ini sudah teriris oleh pisau yang lahir dalam diriku tanpa sekeinginanku.

Adakah kau mendengar lirihan suara nyaring jiwaku.

Pernahkah kau merasakan rintihan tangan jiwaku untuk mendapati tingginya rembulan.

Tidakkah kau lihat air mata tersembunyi dibalik dadaku.

Setidaknya jikalau aku menghilangkan nyawaku sendiri, maka dunia lebih terang, dan orang sekelilingku akan senang menyaksikan diriku yang dicap sebagai pembeban ini.

Kelabu awan pekat kehitaman masih sekelabu hatiku.

Kapankah turun hujan agar kutampung dalam bejana tubuhku untuk melepaskan dahaga akan haus kebahagiaan.

Kenapa angin sepoi-sepoi hanya mengayunkan ranting daun kelapa, sungguh kesukmaanku lapar akan kesejukkannya.

Datangnya pagi tibanya esok hari kujalani dengan kekosongan masukan jiwa ragaku.

Kuangkat nan kusandarkan tubuhku pada dinding tembok kuat untuk menahan keluhan yang hendak kuhentakkan.

Tersapu layu ditambah mekar bunga, disuguhi aroma wangi sekuntum mawar yang meresap ke dalam paru-paru ku.

Merayap dikegelapan terowongan untuk mencari secercah berkas cahaya yang menyala.

Gemuruh petir menyambar keheningan sadarku.

Mungkinkah pertanda Tuhan murka, dari penyerahan hambamu ini terhadap kekerikilan akan hidupku ini sembari sering menyebut kekhilafahan berbicara mengikuti alur bayangan sesat pelenyap nuraniku sebagai lambang kemoralan manusia.

 

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...