Satu jiwa satu melayang yang berharga.
Ribuan senyum jiwa tinggal menetap dalam dirinya, dan
satu tangis jiwa meninggalkan dirinya.
Kemegahan dalam persahabatan banyak jiwa jauh lebih
buruk daripada keterasingan satu jiwa yang melata.
Jiwa umum tinggal pada kendaraan duniawi, dan jiwa
khusus tak digubris umum bersemayam didedaunan hijau karya riangnya alam.
Mulut sosialisasi telan pil ke egoisan yang
mempertahankan prinsip kebiasaan golongan yang dipegang, mulut individu meneguk
air bening dalam kesegaran dan menderita atas beban fitnah dan sindiran dari
yang asing sebab minoritasnya.
Kelompok unggul mayoritas anggota menyantap pujaan
berunsur segala hal yang banyak mengandung kesederhanaan.
Budaya ke-engganan terus berlanjut dari ciptaan
manusia sendiri, yang justru nantinya dibenci terhadap apa yang telah dibuatnya
itu tanpa disadari.
Adapun segelintir jumlah pasir jiwa itu untuk bertukar
kasih berbumbu saling mengampuni untuk menjadi sahabat penghilang rintihan
kebathinanku ini.
Aku pun menegurnya dengan ketulusan hati untuk
melayangkan rasa simpati atas permohonan maafku yang mendalam pada dirinya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar