Merenung aku dikeramaian hari
Berteman dikesunyian malam yang berhibur taburan
bintang diangkasa
Menabur bibit kasih dikehidupan yang tak kunjung
tumbuh
Menyusuri pandangan ke sawah tanpa kedipan mata
Kupetik anggun kehidupan disaat musim menuai padi
Menyaring tuangan teh dari cengkehnya, menyaring aneka
kemajemukan kehidupan yang menghampirinya
Matahari dipagi hari menyejukkan mata, siangnya
menyengatkan mata menjadi berkunang
Tersungkur badan dilantai, menangisi jiwa yang tak
mampu berdiri lagi
Kekanakkan termakan waktu berubah kedewasaan yang tak
kan lupa kenangan sebelum jadinya
Paru-paru berwarna merah semenjak keluar dari rahim
ibu, puluhan tahun jalannya usia paru-paru berganti kebiruhitaman
Tinggal di kediaman yang ditinggal rangkulan kasih
ibu, seakan melewati hujan deras tanpa payung
Awan langit tidak berubah namun tubuh ku terus
diubahnya
Keluarga adalah segalanya dari selamanya, teman umum
hanyalah kebutuhan pembantu yang sementara
Bayanganku memanjang saat fajar tiba, dan memendek
saat keriuhan datang
Hawa dingin itu temanku dalam kenyamanan selimutnya,
hawa panas penyekat menyiksaku dengan keringatnya
Keramaian adalah panas, kesunyian adalah dingin
Menghening dikebisingan tak menghasilkan apa-apa,
menghening dikesepian tampak wujud hasil impiannya
Membelai kain halus bercampur iup, membawa kenyamanan
pada indera perabaku
Menyambut kepolosan wajah si anak kecil, telah membuka
kekangan jiwaku yang gemas akan kehadirannya yang tak dapat terlukiskan
Tuhan merupakan ayah dan sahabatku tapi aku masih tak
merasakannya, mungkinkah inderaku tak beraksi lagi padanya
Tangisilah aku ya Tuhan, yang merana dalam kehimpitan
hidup tanpa menghentikan lengkingan suara hati kepadamu.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar