Lingkungan diri masih layakkah untuk berteduh.
Mengarungi pulau dan laut mencari tanah yang bernaung
ditempati dari asal kelahiran.
Tanah berpijak disitulah melangsungkan kehadiran.
Bertetangga itu mengganggu kesunyian, lainnya maukah
sapa bantu beberapa sekejap saja.
Anggaplah tetangga itu semu, atau memang tampak
dihadapan keberadaanku.
Kamar bertumpuk kamar kusinggahi, namun tak cocok
dalam kelamaan untuk ditanami ketenangan dan menggusur kegusaran jiwaku.
Janganlah daku tertuju yang ditempati bagaikan kuburan
tempat sering gentayangan bayangan samar-samar yang menaikkan aroma bulu kuduk
jiwa.
Terompet ayam berkokok membuyar mimpiku dan terbangun
dikeheningan sesaat fajar tiba.
Cahaya matahari masuk memberkas dirongga celah jendela
terbuka, agar wajahku kelihatan darinya dan padaku jua.
Disana tanah air beta menyuburkan pandangan dari
pantulan beningnya air penampak raut muka di kehijauan sawah.
Angin membawa biji-biji pepadian di keasingan supaya
berbenih tumbuh disana.
Sama halnya angin proses pembawa misteri kehidupan
yang mengangkat diriku terbang melayang diatas lapangnya daratan yang kudarati
nanti.
Dalam mengikuti jejak nafkah pencaharian yang
melahirkanku demi juga menyambungkan kenangan indah dikeasingan wilayah yang
memiliki ciri khas tersendiri pada pesona pemandangannya.
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar