Rabu, 15 Maret 2023

TANAH BERDIAM DIRI

 

Lingkungan diri masih layakkah untuk berteduh.

Mengarungi pulau dan laut mencari tanah yang bernaung ditempati dari asal kelahiran.

Tanah berpijak disitulah melangsungkan kehadiran.

Bertetangga itu mengganggu kesunyian, lainnya maukah sapa bantu beberapa sekejap saja.

Anggaplah tetangga itu semu, atau memang tampak dihadapan keberadaanku.

Kamar bertumpuk kamar kusinggahi, namun tak cocok dalam kelamaan untuk ditanami ketenangan dan menggusur kegusaran jiwaku.

Janganlah daku tertuju yang ditempati bagaikan kuburan tempat sering gentayangan bayangan samar-samar yang menaikkan aroma bulu kuduk jiwa.

Terompet ayam berkokok membuyar mimpiku dan terbangun dikeheningan sesaat fajar tiba.

Cahaya matahari masuk memberkas dirongga celah jendela terbuka, agar wajahku kelihatan darinya dan padaku jua.

Disana tanah air beta menyuburkan pandangan dari pantulan beningnya air penampak raut muka di kehijauan sawah.

Angin membawa biji-biji pepadian di keasingan supaya berbenih tumbuh disana.

Sama halnya angin proses pembawa misteri kehidupan yang mengangkat diriku terbang melayang diatas lapangnya daratan yang kudarati nanti.

Dalam mengikuti jejak nafkah pencaharian yang melahirkanku demi juga menyambungkan kenangan indah dikeasingan wilayah yang memiliki ciri khas tersendiri pada pesona pemandangannya.

 

 

Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2004.

Ditulis oleh : Ricky Siahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AFORISMA BEBAS BAGIAN KE-TIGA PULUH DUA

Kita tidak bisa melawan kehendak settingan dari Sang Esa Trasenden, karena yang teratur baik yang bersifat baik maupun yang jahat tidak bisa...