Terenyak aku ada memanggil namaku
Alihkan muka pusatkan fokus
Dari mana gerangan asal mula suara
Memeranjat keluwesan sandar nyamanku
Melepaskan beban kegusaran
Yang tak berguna harus diramu redam
Jantung hati berdetak keras
Disambar gema tatkala memalingkan mata
Nadanya menebarkan aroma mistis semerbak
Heran tiada saksi tanpa pelaku
Samar mengeluarkan desisan tersebut
Atau hanya perasaan kejutku saja
Tidak! Bunyi itu masih bergaung tak beranjak
Ditempat ini kian ramah dengan pendengaran
Telinga kasat kupakai tapi tak menghasilkan kepuasan
Kalau hati dimajukan depan
Mulai terlihat wujud makna suara syahdu
Naluri nuraniku menerjemahkan siapa dan apa
Berharap bukan penyesat pembawa maut sedih
Sebaliknya kabar bisikan gembira
Merawat kenyamanan hening begitu tenang
Datang suara itu menghanyutkan air jernih
Menghindar gemericik pengrusak kelembutan aliran
melodi murni
Oh inikah panggilan kudusmu
Aku baru mengerti atas termangu
Maafkan keterlambatan sapaan sambutanku
Terlalu mengkuraskan akal budi bertajuk duniawi
Dan genderang emosi yang sesungguhnya tak berarti
apa-apa kandungan
Dalam jiwa memberangkak pada yang suci
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar