Melukis memuaskan sanubari dilukis
Naluri cipta sketsa mencuat
Mengambil serapan makna hidup berjalan
Kembali sepi diladang menyatu jiwa
Harum semerbak bunga menyengat
Menyentuh jiwa mengayun melodi merdu
Mengembara kesana kemari dijejali
Ditolak lingkungan semu
Berpenduduk karakter mayat batu
Jalan terengah-engah
Terkesima pandang lubuk padi
Merasuk hati tertuju petani menumbuk gandum semangat
Sekejap mencurahkan diri rebah kepada Tuhan
Hidup meneladani keilahian membasuk kesederhanaan
Ditolak mentah-mentah gereja duniawi oleh racun gengsi
Kalut bercampur bingung pasang surut
Lukisan ialah jalan kebanggaan ekspresi hidupnya
Tangan menaruhkan hidupnya berteman kanvas, cat warna,
dan kuas
Saat menggerakkan kuas diatas kertas adalah saat
paling indah
Sepi memerih dimanfaatkan hening tergugah visi
Mengangkat kuas pena hasil penyaluran estetika jiwa
Segenap hamparan luas ladang sawah tercipta
Olehnya jiwa terayomi dalam dunia maya cat warna
Bunga matahari mekar melankolis
Seraya naluri pelukis pun merekah membuntutinya
Namun dikala nama belum bertanya di khalayak
Rumusan hukum teori seni belum peka menyahutnya
Ia beranjak pergi dari tempat peraduan menorah hidup
Kembali dari siang ke malam sunyi
Menggelapkan mata agar tak tahu ia berada
Masa sulit sungguh terhabiskan dipunguti
Ribuan sketsa gambar hati sudah menjadi-jadi
Sembari terhenti oleh kejahatan halusinasi
Pasrah terkucil keramaian belenggu keterkucilan
Sebelum mati menggantung nyawa
Bercerita segala puas gelaga sukma
Rindu kenanga dihari kekanak-kanakkan dunia
Tidak tahunya esok demi esok terjengkali
Lukisannya abadi menampilkan penderitaan dan keindahan
kehidupan menyendiri dan bersosial
Tak semata melulu menonjolkan cinta eros yang monoton
Tulisan puisi bebas ku pada tahun 2005.
Ditulis oleh : Ricky Siahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar